Getol Menolak 238 WNI-Wuhan ke Natuna, Eh,. Ternyata Ada Adik Sepupu

NATUNA – Muhammad Afif, warga Batu Kapal, Natuna syok dan kaget ketika menerima telepon dari keluarganya di Kendal, Minggu (2/2/2020) pagi. Di ujung telepon, keluarganya memberitahukan bahwa di antara 238 WNI-Wuhan yang akan menjalani observasi di Hanggar Lanud Ranai Natuna, adalah adik sepupunya bernama Atokillah.

Afif begitu panggilan sehari-harinya, kaget tertegun dan lunglai, karena dia termasuk salah satu pemuda di Natuna yang paling getol menyuarakan aspirasi menolak kadatangan WNI dari WUhan tersebut. Bahkan, Minggu pagi itu ia sudah siap berangkat kembali untuk berdemo.

Baru selangkah keluar pintu rumahnya, sang paman dari Kendal, mekinta tolong agar Atokillah dipantau selama menjalani observasi. ”Saya langsung lemes mas, berapa kali saya isthifar, saya baru sadar bahwa ada adik saya yang akan ditempatkan di Hanggar Barat itu,” Jelas Muhammad Afif sambil matanya nampak berkaca-kaca.

Muhammad Afif

Afif seperti menyesal. Maklum saja ketika berdemo di kantor DPRD dan Bandara, sehari sebelumnya, dia termasuk orang yang paling ‘beringas’ tak terima ada WNI-Wuhan, yang diisukan terpapar virus Corono, bakal dikirim ke Natuna untuk diobservasi.

Bak disambar petir, setelah menerima kabar pamannya itu, Muhammad Afif yang tinggal bersama anak istrinya di Natuna, juga panik harus berbuat apa untuk menemui sepupunya tersebut. Sementara Hanggar Lanud saat itu belum boleh dikunjungi dan dalam penjagaan ketat. Sejenak ia menenangkan diri, lalu meminta keluarganya di Kendal yang menelpon tadi, untuk memberikaan nomor Atokillah.

Afif langsung sadar dan menyesal, karena ternyata suara penolakan keras yang ia lontarkan ketika berdemo, sama saja ia mengusir saudaranya sendiri, dari upaya pemerintah untuk memulangkannya ke tanah air, dalam kondisi bersih dan aman dari virus corona. Sebaliknya ia pun baru sadar, bahwa upaya pemerintah melakukan observasi terhadap Atokillah dan temannya sesama WNI asal Wuhan, tidak lain untuk menyelamatkan nyawa jutaan umat masnia di Indonesia.

“Saya sempat jumpa dengan Muhammad Atokilah dua kali di tahun 2019 lalu, dia baru saja kembali ke Indonesia, seingat saya ketemu saat lebaran 2019 dan yang kedua terakhir pada bulan November 2019 lalu,” jelas Muhammad Afif menjawab gardanusantara saat ditemui di kediamannya, Rabu (04/02/2020) sore.

Afif pun mengakui, jika aksi demo yang ia lakukan bersama warga Natuna lainnya, lantaran mendapatkan informasi yang tidak jelas. Apa maksud dan tujuan mengirim WNI-Wuhan ke Natuna saat itu, masyarakat Natuna tidak diberitahu.

”Maklum mas waktu itu informasi simpang siur, banyak sekalai berita dan informasi yang menyatakan bahwa orang yang datang bawa virus, virusnya nyebar lewat udara dan banyak macem. Sementara keluarga anak istri saya di Natuna tentu saya harus berjuang juga membela keselamatan masyarakat Natuna. kepanikan ini membuat saya juga ikut demno untuk menyelamatkan anak istri saya. Saya rasa semua orang di Natuna kondisinya juga sama,” jelasnya.

Afif melanjutkan kisah, saat dia dihubungi lewat telpon, pamannya meyakinkan dirinya bahwa kondisi Atok baik dan sehat, dan menjelaskan semua kronologinya, bhwa Atok lolos test kesehatan dan selalu mengabari bahwa kondisinya sehat hingga di Evakuasi.
Baru setelah itu, Afif pun meminta agar Atok menguhubunginya.

“Alhamdulilah akhirnya Atok menelon saya dan meyakinkan bahwa kondisinya sehat dan baik-baik saja di hangar barat. Atok juga cerita makannya bergizi, banyak makan ikan segar dari Natuna, dan setiap hari berkegiatan berolah raga. Insyaalah semua akan baik-baik saja. Ini mebuat saya yakin dan menguatkan Atok untuk tetap tenang karea ada sudaranya di Natuna.

Afif juga mengucapkan terimaksih kepada pemerintah RI, dia baru sadar bahwa WNI yang dievakusi ternyata sehat dan tidak menyebarkan virus seperti ynag ditakutkan selama ini.

“Yah Atok yang merupakan bagian dari 238 WNI yang dievakuasi di Natuna. Ibaratnya seperti pengantin yang sedang di pingit, tidak boleh keluar untuk sementara waktu hingga hari yang ditentukan. Jadi tidak ada yang perlu dikawatirkan, 11 hari lagi mereka sudah bisa keluar. Mudah-mudahan pemerintah mengijinkan saya bertemu untuk bisa memeluk atok nanti,” terang Muhammad Afif menutup pembicaraan.

Anak Kyai Kendal

Atokillah tercatat di manifesh penumpang No 61, ia lahir di dusun Seneng Kelurahan Jurang Agung Kecamatan Plantungan Kabupaten Kendal Jawa tengah, 19 Juli 1997 akan memasuki usia 23 tahun ini. Ia juga terkenal pintar.

Mohammad Athoillah merupakan putra pertama Kyai Ahmad Sukron Pengasuh Pondok Pesantren Albarokah dusun Seneng Kelurahan Jurang Agung Kecamatan Plantungan Kabupaten Kendal propinsi Jawa tengah. Muhammad Ato yang akrab disapa dengan sebutan “Atok” tengah mendapat beasiswa untuk Kuliah di Wuhan, tepatnya di Wuhan University.

”Atok merupakan pemuda berprestasi, anak pertama Kyai Sukron ini selalau mendapatkan beasiswa sejak kelas 1 hingga kelas 3 di STM negri 1 Kendal, kalau adik atok saat ini tengah memilih pendidikan jalur Pesantren di salahsatu pesantren besar di Jawa Timur,” Jelas Ridho, yang juga saudara sepupu Atok menjawab sambungan telepon.

Menurut Ridho saat masih di STM 1 Kendal, Atok ditawari beasiswa dari beberpa universitas ternama di Indonesia melalui jalur bidik missi.

”Atok menolak tawaran beasiswa dari universitas daam negri. Atok yang berminat mendalami bidang ilmu Astronomi memilih menerima beasiswa universitas di RRT. Setelah 2 Tahun di RRT, Atok pindah kuliah ke Wuhan University kalau tidak salah dia sempat cerita kalau sedang kuliah ilmu tatanegara,” jelas Ridho.

Ridho sangat bersyukur atas tindakan heroik Pemrintah Natuna dalam meilndungi keluarganya. “ Saya mengucapkan ribuan terimakasih atas sigab, cepat dan tepat tindakan evakuasi oleh pemerintah RI hingga Atok dan seluruh WNI yang bersamanya bisa tiba dengan selamat di Natuna, Syukur Alhamdulilah Atok sellau bisa berkomunikasi dan menyampaikan kondisinya sangat sehat, “ jelas Ridho.

Bukan hanya Ridho, ternyata di Natuna Atok memiliki keluarga dekat, kakak sepupu bernama Muhammad Afif sudah 10 tahun berdomisili di Batu Kapal kelurahan Ranai kabupaten Natuna.

Keluarga Prajurit TNI
Selain Muhammad Atokillah ternyata juga ada diantara 238 WNI itu yang bertalian keluarga dengan Dodi, seorang anggota TNI yang sedang mengabdi dan menjadi warga di kecamatan Serasan.

Nama saudaranya Dedy itu Yulian Nova Lestari 27, tahun asal Aceh yang sedang menempuh Pendidikan Mahasiswa S-3 di Central China Norma University. Dalam proses evakuasi ke Natuna, Novi terdaftar dengan Manifes No 15.

Direktur Lembaga Kajian Natuna institute, menilai penolakan warga Natuna, adalah hal yang wajar karena kaget dan terdampak informasi yang tak akurat. Arus kuat penolakan ini merupakan dampak dari virus Disinformasi terkait issu corona.

“Saya berharap Pemerintah Pusat dan Semua Saudara sebangsa setanah air juga memaklumi apa yang menjadi reaksi wajar dari masyarakat Natuna ” jelas A.E Hermawan

Dalam kasus 2 hari ini ternyata ada 2 kelompok korban

1 . Kelompok WNI yang secara fisik terdampak dan sudah dievakuasi dan mendapat pengamanan ketat.

2. Masyarakat Natuna juga korban dampak arus disinformasi /informasi hoax dalam perang opini

Maka pemerintah pusat dimohon untuk jangan hanya fokus ke korban WNI dari Wuhan. Tetapi pada saat yang sama juga segera mengambil tindakan pencegahan agar korban arus disinformasi ini tidak meluas dan memicu bencana sosial.

” Alhamdulilah hingga saat ini Pemerintah pusat sudah terlihat sangat profesional dan dengan sigab mengambil langkah cepat dan tepat hingga mampu meredam gejolak di Natuna, kesigaban koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah Natuna pasca kedatangan WNI asal Wuhan Ke Natuna sangat pantas di apresiasi setinggi tingginya,” jelas A. E. Hermawan direktur lembaga kajian Natuna Institute. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *