19 Juni 2026

Dipersaudarakannya Kaum Muhajirin dan Anshar.

H Albar S Subari SH, MH

Pengamat Hukum dan Politik di Palembang

KoranRakyat.co.id —-Diantara buah yang dihasilkan dari perjalanan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah dipersaudarakannya Kaum Muhajirin dan Anshar semoga Allah meridhoi mereka. Pelajaran yang paling berharga bagi nilai kemanusiaan dari peristiwa ini adalah pengorbanan, pembelaandan itsar ( mendahulukan kepentingan orang lain).

Inilah persaudaraan yang jujur. Kalau lah persaudaraan ini sampai kepada kita tidak dengan sanadnya yang shahih, tentu lah kita akan mengatakan semua itu hanyalah khayalan dan idee yang konyol.

Akan tetapi iman yang benar merespon positif berita ini. Demikianlah, selalu saja ada orang orang yang ikhlas di jajaran orang orang yang benar.

Sesungguhnya persaudaraan yang benar ini merupakan landasan pokok dan fondasi yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam membangun tatanan masyarakat muslim ideal.

Tatanan masyarakat itu tumbuh dari benih benih ukhuwah, cinta, adil, saling sepenanggungan, saling tolong menolong, pengorbanan dan ithar. Ia merupakan asas dari sebuah masyarakat Islam yang saleh sehingga kapanpun dan di mana pun manusia tinggal, ia tetap bersaudara saling tolong menolong yang akan menghilangkan segala bentuk kesulitan.

Mereka selalu dinaungi oleh keamanan dan keselamatan ( Al- hijrah, sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan sejarah; Syaunqi Abu Khalid: 119).

Dasar dari persaudaraan yang dilakukan oleh Rasulullah ini tidak memandang perbedaan suku, ras, dan status sosial. Rasulullah memandang sama mereka yang merupakan bangsa Arab maupun non Arab.

Antara orang yang bebas dan seorang budak. Antara seorang tokoh pada satu Khalifah dengan orang biasa. Dan antar yang kaya dan miskin.

Ibnu Ishaq berkata Rasulullah mempersaudarakan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar; beliau bersabda: Aku mempersaudarakan kalian karena Allah, dua orang dua orang. Dan kemudian beliau memegang tangan Ali bi Abu Thalib seraya berucap. Ini saudaraku. Rasulullah Saw adalah seorang pemimpin para nabi, imam orang orang bertaqwa dan Rasul yang diutus Allah kepada manusia semesta alam. Ia tidak memiliki seorang pun pesaing dari umat manusia. Beliau dipersaudarakan dengan Ali bin Abi Thalib.

Adapun Hamzah bin Abu Muthalib, singa Allah dan Rasul Nya serta paman Rasulullah Saw, dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah seorang budak yang dimerdekakan Rasulullah Saw. Kepadanya Hamzah berwasiat ketika perang Uhud ia terbunuh. Sedangkan Ja’far bin Abi Thalib, si pemilik dua sayap, yang bisa terbang dengan dua sayap itu di surga, dipersaudarakan dengan Muadz bin Jabal, salah satu keluarga dari Bani Salamah..

Gambaran cerita Rasulullah Saw di atas, merupakan cerminan yang harus kita contoh dalam berkehidupan kebangsaan dan kenegaraan guna mencapai Indonesia Emas 2045.

Untuk mencapai kemuliaan agama Islam Rasulullah Saw berhasil mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar.

Demikian pula cerminan kita di dalam memasuki satu Muharram 1448 H, ini akan menuju negara Rahmatan Lil Alamin. Negara yang diredoi Allah SWT.

Teringatnya kita pada alinea dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, bahwa kemerdekaan itu adalah Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Tentu saja memberikan konsekuensi kepada pimpinan negara untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Tanpa ada beda yang sangat curam status sosial masyarakat Indonesia. Sesuai pepatah phuyang. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Selamat memperingati satu Muharram 1448 H, seiring menuju Indonesia Emas.2045 ( satu abad kemerdekaan Indonesia). (*)