21 Juli 2024

Berita Media Massa tak Ada Hoaks

PALEMBANG|KoranRakyat co.id——Berita media massa atau media mainstream jarang sekali bernuansa hoaks, sepanjang wartawan yang menulisnya taat asas dengan memperhatikan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Yang justru sering hoaks adalah informasi yang disampaikan melalui media sosial (Medsos). Karena itu perlu selektif dan kearifan dalam mengupload informasi di Medsos, baik di facebook, instagram, twitter, tiktok dan lainnya.

Hal tersebut dikatakan, Drs H Iklim Cahya, MM pada Seminar Mahasiswa yang mengambil tema “Cerdas Jurnalistik di Era Digital”, di Aula Universitas Terbuka (UT) Palembang, Selasa 24 Oktober 2023.

Seminar yang diselenggarakan Oleh UT Palembang ini dibuka Direktur UT Palembang, Dr Meita Istianda, SIP, M.Si, dan diikuti oleh sekitar 250 orang mahasiswa Universitas Terbuka dan non UT.

Menurut Iklim Cahya, wartawan media massa wajib hukumnya mentaati UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 serta KEJ. Karenanya berita yang ditulis wartawan selain harus memenuhi ketentuan 5W 1H, juga harus didasarkan pada fakta dan data, serta ditampilkan secara cover both side (berimbang). Karenanya sebelum berita ditayangkan, wartawan harus terlebih dahulu melakukan konfirmasi, serta chek and rechek kepada pihak terkait dengan berita yang akan ditulis dan dimuat di media massa.

Bahkan, menurut Iklim Cahya yang pernah menjadi Ketua DPRD Ogan Ilir ini, kalau berita tidak berimbang atau tanpa konfirmasi biasanya tidak dimuat oleh Pimpinan Redaksi. Dengan pembuatan berita secara berimbang tersebut, maka peluang untuk munculnya berita bohong (hoaks) tidak ada lagi.

Hal tersebut sangat kontras apa yang terjadi di media sosial. Pada media sosial masih banyak dijumpai berita-berita yang bernuansa hoaks, yang saat ini sudah tarap mengkhawatirkan. Untuk itu Iklim Cahya mengajak supaya berhati-hati, lebih selektif, dan lebih bijak lagi dalam bermedsos. Sebab kalau informasi yang disampaikan hoaks apalagi fitnah, maka besar kemungkinan bermasalah secara hukum. Karena telah melanggar UU ITE, ujar Iklim.

Karena itu mantan wartawan Sriwijaya Post itu mengajak untuk cerdas dalam bermedsos. Juga tetap mengikuti berita-berita yang dimuat media massa, baik media cetak maupun elektronik.

Selain Iklim Cahya, juga tampil sebagai pembicara adalah H Maspriel Aries, wartawan senior, penulis dan editor buku.

Maspriel lebih banyak berbicara tentang teknis jurnalistik, baik yang menyangkut KEJ, tehnik liputan dan tehnik menulis berita yang memenuhi standar kaedah jurnalistik.

Menjawab pertanyaan peserta, Maspril merasa menjadi wartawan tempo dulu, sebelum munculnya media online dan medsos, lebih enak karena lebih menantang. Dulu wartawan untuk sebuah konfirmasi secara gigih “mengejar” nara sumber, dan diupayakan bertemu langsung. Juga karya atau tulisan murni bikin sendiri, tapi di era digital sekarang ini banyak berita yang ditulis wartawan yang terkesan copy paste. Walau diakuinya dari segi fasilitas dan kemudahan dalam mengakses informasi, saat ini jauh lebih gampang dan lebih cepat.

Di akhir acara selain ada sesi tanya jawab yang berlangsung menarik, juga ada praktik menulis berita oleh para peserta. Temanya seputar aktifitas UT Palembang. Dari puluhan berita yang ditulis oleh peserta, ada empat berita yang dinilai cukup baik, baik dilihat dari struktur berita, judul, lead, dan tubuh berita, serta aktualitas. Kepada pembuat berita terbaik ini, diberikan hadiah kartu e-money yang diserahkan Direktur UT, Dr Meita Istianda. (ica)