Konservasi Lereng Pegunungan, Pemkab Wonosobo Lakukan Penghijauan Kawasan Jalisu

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama berbagai elemen masyarakat melaksanakan kegiatan penanaman pohon damar di kawasan Jalur Lingkar Simbing (Jalisu), Dusun Cengklok, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan di kawasan jalur baru yang kini berkembang menjadi akses strategis penunjang perekonomian dan wisata alam pegunungan.
Kegiatan penghijauan ini melibatkan Bagian Perekonomian Setda Wonosobo, Komunitas Tanpa Nama, Relawan Penanggulangan Bencana (RPB), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Forkopimcam Kalikajar, serta sejumlah pegiat lingkungan.
Sebanyak 200 bibit pohon damar bantuan dari BPDAS Serayu Opak Progo disiapkan dalam program tersebut. Pada tahap awal dilakukan penanaman simbolis sebanyak 25 pohon, sedangkan sisanya akan ditanam secara bertahap pada musim tanam antara Oktober hingga Maret mendatang.

Camat Kalikajar, Hermawan Animoro, mengatakan pembangunan infrastruktur perlu diimbangi dengan upaya pelestarian lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Jalan baru ini diharapkan menjadi salah satu pendongkrak perekonomian masyarakat sekitar karena mempermudah distribusi hasil pertanian dan akses warga. Jangan sampai dengan adanya pembukaan jalan Jalisu ini justru merusak lingkungan. Karena itu, kelestarian alam di sekitarnya harus tetap dijaga,” ujarnya.
Menurutnya, penanaman pohon di kawasan Jalisu memiliki fungsi penting untuk menjaga konservasi tanah dan air, sekaligus mengurangi risiko longsor di sejumlah titik rawan.
“Hari ini kita melaksanakan penanaman pohon di seputaran Jalisu atau Jalur Lingkar Simbing. Tujuannya untuk melestarikan lingkungan agar tetap terjaga sekaligus menjadi penahan tanah karena Jalisu merupakan jalan baru,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan penghijauan dapat dilakukan secara berkelanjutan agar kawasan Jalisu tetap terjaga sebagai destinasi wisata alam yang lestari hingga generasi mendatang.
Ketua Komunitas Tanpa Nama Wonosobo, Sriono Edy Subekti, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan di kawasan lereng pegunungan, terutama terkait ancaman berkurangnya debit sumber mata air.
Menurutnya, gerakan konservasi yang dilakukan komunitasnya berangkat dari kekhawatiran terhadap penurunan kualitas lingkungan di wilayah hulu dari tahun ke tahun.
“Kalau tidak ada upaya penyelamatan, kami khawatir ke depan terjadi krisis air bersih di wilayah sekitar,” ungkapnya.
Komunitas Tanpa Nama secara rutin melakukan kegiatan konservasi setiap pekan, mulai dari penanaman hingga perawatan pohon di sejumlah wilayah resapan air di Kecamatan Kalikajar. Jenis tanaman yang dibudidayakan antara lain beringin, gondang, manglit, kantil, hingga bambu betung.
Khusus di kawasan Jalisu, komunitas tersebut memilih menanam pohon damar karena dinilai sesuai dengan kondisi kawasan dan tidak mengganggu aktivitas pertanian masyarakat di sekitar jalan.

“Kami memilih damar karena percabangannya tidak terlalu rindang sehingga tidak mengganggu lahan pertanian masyarakat. Selain itu, damar juga memiliki akar yang kuat untuk membantu mengikat tanah dan air,” jelas Sriono.
Ia menambahkan, kegiatan penghijauan di kawasan Jalisu telah dilakukan untuk ketiga kalinya. Sebelumnya, sebanyak 100 pohon damar telah ditanam di lokasi tersebut. Dengan tambahan 200 bibit tahun ini, total pohon damar yang akan ditanam mencapai 300 batang.
“Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi bagaimana memastikan pohon itu hidup dan dirawat. Teman-teman Tanpa Nama memiliki komitmen bahwa setiap tanaman yang sudah ditanam harus dijaga dan dipastikan selamat,” tegasnya.
Selain memperkuat penghijauan, keberadaan vegetasi di sepanjang Jalisu diharapkan mampu membantu menjaga struktur tanah di kawasan rawan longsor serta mempertahankan fungsi ekologis kawasan pegunungan.
Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, relawan, dan masyarakat, pembangunan infrastruktur diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya konservasi lingkungan sehingga manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat. (Diskominfo Wonosobo/Aris)

