9 Maret 2026

Wabup Ngesti YS : Natuna Gencar Cegah Stunting !

0

KR Natuna- Pemkab Natuna terus berusaha mencegah angka kenaikan stunting.

Melalui Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah BP3D melakukan Rakor Persiapan Rembuk Stunting melalui virtual 22/03/2021 yang di buka langsung olehWabup Natuna Hj Ngesti YS

Wakil Bupati Natuna Ngesti YS menegaskan stunting merupakan suatu masalah dimana anak mengalami kurang gizi dalam waktu yang lama.

“Sehingga mengalami gangguan pada masa pertumbuhan anak yakni tinggi anak lebih rendah atau pendek dari standar usia,” ujar Ngesti.

Selanjutnya Ngesti menambahkan Kabupaten Natuna termasuk daerah pesisir yang mana akses sanitasi dan air bersihnya masih kurang.

Ngesti meminta komitmen untuk melakukan strategi penurunan angka stunting di Kabupaten Natuna.

“Sehingga untuk tahun depan kita tidak akan menjumpai anak yang mengalami masalah stunting,” ujarnya.

Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna Hendra Kusuma menutup Rakor Persiapan Rembuk Stunting

Dalam kesempatan tersebut Hendra menyampaikan Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna mengapresiasi kegiatan ini.

“Semoga rembuk stunting ini menyatukan persepsi dan komitmen setiap OPD terkait serta mampu melakukan perencanaan, koordinasi, monitoring, evaluasi dalam pencegahan penurunan angka stunting di Kabupaten Natuna.”

Dalam Rakor tersebut di ikuti oleh Pj. Sekretaris Daerah serta beberapa perwakilan dari OPD di antaranya BP3D, BPMD, DP3A, BPKAD, DLH, Disduk Capil Natuna , Dinas Sosial, Kemenag, dan perwakilan camat se-bunguran dan Perwakilan civitas akademis STAIN NATUNA

Apa itu Stunting ?  Stunting  adalah kondisi gagal tumbuh dan berkembang yang terjadi terutama pada 1000HPK, yang dimulai pada masa ibu hamil apabila tidak diberi gizi yang seimbang seorang ibu akan melahirkan anak yang kurang gizi. stunting termasuk kedalam gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Natuna Syarifah Maryam menjelaskan bahwa

“Stunting dapat dipantau dengan berat badan yang kurang dari 2500 gram, dan tinggi badan kurang 50 cm. Kalau di bawah itu kita lakukan intervensi dengan cara meningkatkan pola asuhnya seperti memberikan pola asi yang cukup 0-6 bulan dilanjutkan sampai 2 tahun, kemudian diberikan makanan yang sesuai umur diberikan imunisasi di berikan makanan yang bergizi karena banyak dari ibu yang melahirkan mereka enggan memberikan makanan yang bergizi seperti sayuran karena ada mitos-mitos yang mengatakan ibu yang melahirkan tidak boleh makan sayuran telur, nah itu harus kita luruskan bahwa itu tidak benar ibu hamil perlu sekali gizi yang cukup untuk mencegah stunting.”

Terkait pencegah stunting diperlu berkolaborasi OPD

“ Dinas Kesehatan yang di koordinatori menteri dalam Negeri dari Natuna BP3 yang memiliki wewenang untuk mengkoordinir masalah statistik ini, Diskominfo yang memiliki wewenang untuk mempublikasikan masalah stunting, Disduk capil, Dinas Sosial, DLH, DINAS P3A, Instansi vertikal seperti RRI, serta Akademika STAIN Natuna, serta Organisasi lainnya.”  Ujar Maryam

Sementara Kabid pengendalian penduduk dan KB dinas P3A Natuna Fachri Husain menyampaikan

“Ada beberapa program yang mendukung penurunan angka stunting di kabupaten Natuna diantaranya adalah KB sendiri kontrasepsi di mana program KB merencanakan kehamilan agar kehamilan itu mencapai waktu yang ideal, waktu yang ideal itu yaitu 2 tahun, selanjutnya kesehatan reproduksi bagi remaja atau pun calon pengantin dimana program ini adalah penyiapan calon pengantin yang akan melanjutkan hubungan ke pernikahan akan kami launching pada bulan April dengan nama program kelas gernis (kelas keluarga harmonis) dimana kami akan memberikan edukasi kepada mereka baik secara psikologis maupun agama bekerjasama dengan Kantor Urusan Agama. Kalau untuk remaja ada istilahnya pendewasaan usia perkawinan di mana untuk idealnya usia menikah pada lelaki yaitu 25 tahun dan perempuan 21 tahun.” Ujar Fachri

Bidan Desa Kelanga Rahmi Ulfa menyampaikan bahwa

“ Pendekatan kepada ibu hamil yaitu dengan cara door to door saya langsung datang ke rumahnya menanyakan apa alasan orang tersebut tidak mau pergi ke posyandu untuk mengecek  kesehatannya, karena banyak orang awam yang tidak mau ke posyandu dengan alasan takut kalau diperiksa, saya menyampaikan bahwa di posyandu itu bukan disakiti tapi dilayani supaya ibu itu sehat dan anaknya juga sehat. Setelah melahirkan saya melakukan pendampingan kepada ibu-ibu yang akan melahirakan, di situ pola makannya dilihat pola asupan gizinya dilihat karena ada sebagian masyarakat yang memiliki pantangan bahwa ibu yang melahirkan itu tidak boleh makan sayur. Nah untuk itu  meluruskan bahwa ibu hamil itu sangat memerlukan gizi yang baik untuk mencegah stunting pada anak.” Ujar Ulfa

Syarifah Maryam juga mengingatkan bahwa mencegah Stunting sejak dini dengan persiapkan remaja putri kita secara matang sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan, secara umur, mental dan kesiapannya sendiri agar nanti nikah dia sudah siap. (red)

Tinggalkan Balasan