22 Juni 2026

Mantan Ketua MUI Din Syamsuddin Serahkan  Surat Jaminan agar Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan

KoranRakyat.co.id —Din Syamsuddin yang pernah menjadi saksi ahli dari kubu Roy Suryo menyerahkan surat jaminan supaya Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma tidak ditahan. 

Diwartakan TRIBUNNEWS.COM sebelumnya, Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau Din Syamsuddin, memberikan surat jaminan agar Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma tidak ditahan.

Polda Metro Jaya telah menangkap Roy dan Tifa pada Jumat pagi, (19/6/2026). Keduanya sudah lama ditetapkan sebagai tersangka kasus tudingan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Adanya surat jaminan dari Din itu disampaikan oleh Ghufroni, kuasa hukum Roy dan Tifa sekaligus aktivis Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Publik (LBHAP Pusat (PP) Muhammadiyah).

“Kami dari LBH PP Muhammadiyah hari ini rencananya akan menyampaikan permohonan penangguhan penahanan. Ini suratnya sudah ada,” kata Ghufroni dikutip dari kanal YouTube milik Ahmad Khozinudin yang juga kuasa hukum Roy Suryo, Sabtu, (20/6/2026).

“Jadi, kami tadi sudah datang ke kediaman Prof. Din Syamsuddin. Beliau menitipkan selembar surat.”

Ghufroni menyebut surat akan diserahkan kepada kepolisian untuk menjadi pertimbangan supaya Roy dan Tifa ditangguhkan penahanannya.

net/dok

Sebelumnya, Din pernah menjadi saksi ahli dari pihak Roy. Dia memberikan keterangan kepada penyidik di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis, (12/2/2026).

Saat itu Din Syamsuddin menyatakan kasus yang menyandung Roy dan Tifa adalah bentuk kriminalisasi.

“Menjadikan dokter Tifa dan kawan-kawannya sebagai tersangka dalam kasus ini adalah bentuk kriminalisasi, yang dalam bahasa agama adalah penzaliman yang sangat ditentang oleh agama,” paparnya di Polda Metro Jaya.

“Seyogianya, kasus ini dari awal diselesaikan secara berkeadilan, imparsial, transparan, membuktikan betul atau tidak ijazah yang dipakai itu palsu, itu saja, itulah yang harus dilakukan terlebih dahulu,” tambah Din Syamsuddin.

Oleh karena itu, kepada penyidik, Din menegaskan bahwa pentersangkaan Roy dan kawan-kawan harus batal demi nilai-nilai etika kebenaran dan keadilan.

Profil Din Syamsuddin

Dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Din Syamsuddin lahir di Sumbawa Besar tanggal 31 Agustus 1958.

Meski Din dikenal sebagai pemimpin Muhammadiyah, pendidikannya bisa dibilang unik karena berangkat dari Madrasah Ibtidaiyah NU Sumbawa Besar. Kemudian, dia meneruskan ke Madrasah Tsanawiyah NU Sumbawa Besar, dan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pendidikan tingginya dijalani di S-1 Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (lulus 1980), S-2 Kajian Islam di University of California Los Angeles (lulus 1988), dan S-3 Kajian Islam di University of California Los Angeles (lulus 1991).

Din menjalani karier akademik sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, misalnya Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), UHAMKA, dan Universitas Indonesia (UI).

Di samping itu, dia pernah dipercaya sebagai Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, anggota Dewan Riset Nasional, Dirjen Binapenta Departemen Tenaga Kerja RI, Sekretaris Umum  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Sekretaris Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.

Pada tahun 1998 dia terpilih sebagai Wakil Sekjen DPP Golkar dan Wakil Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan MPR RI. Dua tahun berselang dia diamanahi sebagai Wakil Ketua PP Muhamamdiyah.

Din kemudian menjabat sebagai Ketua  PP Muhammadiyah dari tahun 2005 hingga 2015. Din sempat pula menjadi Wakil Ketua Umum MUI (2005-2014) dan Ketua Umum MUI (2014-2015).

Pada tahun 2017 Din diangkat menjadi utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban. Setahun kemudian dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya agar dapat bersikap netral dalam Pilpres 2019.

Menjelang Pilpres 2019, Din sempat masuk bursa cawapres. Bahkan, relawan Jokowi mendorong Din untuk maju menjadi cawapres Jokowi. Waktu itu, Jokowi tak memilih Din untuk menjadi cawapres pada Pilpres 2019, tetapi menunjuk K.H. Ma’ruf Amin yang merupakan Ketum MUI setelah Din. (*)