3 Mei 2026

DPRD Tenangkan Masyarakat, Soal Rencana Evakuasi WNI Wuhan ke Natuna

0

NATUNA | Populinews.com – Masyarakat Kabupaten Natuna, menolak keras rencana pemerintah untuk menjadikan Natuna sebagai lokasi karantina WNI yang dievakuasi dari Wuhan, China. Di gedung DPRD merek abersuara lantang. Sejumlah pimpinan dan anggota dewan pun berusaha menenangkan warga yang emosi.

Penolakan ini disampaikan berbagai elemen masyarakat bersama anggota legislatif, saat mengadakan rapat mendadak, di kantor DPRD Natuna, Jumat malam (31/01/2020), sekitar pukul 23.00 WIB.

Rapat dihadiri Ketua DPRD Natuna Andes Putra, Wakil Ketua II Jarmin Sidik, sejumlah anggota dewan, Sekda Natuna Wan Siswandi, Dandim 0318 Natuna, Wakapolres Natuna, Ketua LAM, Ormas dan OKP.

Ketua DPRD Natuna Andes Putra, memberikan waktu kepada Sekda untuk menjelaskan, terkait rencana pusat dalam waktu dekat ini menjadikan Natuna sebagai wilayah karantina WNI dari Wuhan.

Suasana di ruang paripurna DPRD riuh, masyarakat menyuarakan penolakan terkait rencana tersebut. Jangan sampai rencana tersebut terlaksana.

Menanggapi hal ini, Sekda Natuna Wan Siswandi menjelaskan, hal ini diketahuinya secara mendadak. Siang itu sedang memimpin rapat di kantor Bupati, tiba-tiba ditelpon agar segera ke bandara.

“Kami pun mengetahui ini secara tiba-tiba, saya ditelpon supaya ke bandara menyambut Menteri Kesehatan. Setelah disana, dicek semua lokasi termasuk hanggar barat”.

Kemudian pengecekan lokasi dilanjutkan ke kantor operasional bandara. Disitulah tercetus, bahwa kemungkinan Natuna akan dijadikan tempat persinggahan WNI dari Wuhan, selama kurang lebih 2 minggu.

Kata Siswandi, pihak Kementerian Kesehatan menjelasakan bahwa WNI yang akan dikarantina di Natuna tidak dalam kondisi terjangkit virus Corona.

“Tapi katanya bukan orang sakit, bahasanya belum ada warga Indonesia yang terkena virus itu”, sebutnya Siswandi.

Sementara itu, WHO telah mengeluarkan mandat, bahwa setiap warga negara yang keluar dari China wajib dikarantina, paling tidak 2 minggu lamanya.

Hal ini juga dipertegas oleh Dandim 0318 Natuna Letkol (CZI) Ferry Kriswardana, dimana pihaknya mendapat informasi ini secara mendadak.

Akan tetapi, informasi diterimanya dari Kementerian Kesehatan, belum ada kepastian waktu mengenai rencana karantina terhadap WNI dari Wuhan.

Menanggapi hal ini, anggota DPRD Natuna Wan Arismunandar mengaskan, apapun bentuknya yang datang dari Wuhan, masyarakat menolak.

“Namun detik ini natuna bergejolak, apapun bentuknya yang datang dari Wuhan kami tolak. Ada bahasa tidak enak, kalau nanti tidak terjagkit virusnya di natuna baru kita serahkan ke daerah masing-masing”.

Aris menegaskan, seandainya pemerintah tetap menurunkan WNI dari Wuhan ke Natuna, bersama masyarakat akan sama-sama bergerak ke bandara.

“Tidak ada kata lain, kami menolak ada karantina WNI dari Wuhan di Natuna. Kalau besok itu terjadi, kami sama-sama bergerak ke bandara”, ujarnya.

Hal senada juga dilontarkan politisi PPP Erwandi, ia heran dengan sikap pemerintah terhadap Natuna. Semua mau dilimpahkan ke Natuna, termasuk masalah WNI yang diduga terjangkit virus Corona.

“Apa-apa mau dilimpahkan ke Natuna, mau sehat atau sakit, saya katakan dengan tegas, kami menolak. Jangan sampai landing di bandara”.

Sikap penolakan ini disampaikan sejumlah anggota DPRD dan masyarakat yang mulai naik pitam. Alasannya sederhana, kalau WNI tersebut dalam kondisi sehat, kenapa mau dikarantina di Natuna?.

Aksi penolakan juga disampaikan mahasiswa Natuna, KNPI, Pemuda Pancasila, pihak STAI Natuna, masyarakat dan organisasi lainnya.

Masyarakat sangat khawatir terkait persoalan ini. Karenanya, diminta kepada Sekda Natuna menyampaikan aspirasi penolakan tersebut kepada kementerian dan lembaga terkait.

Sampai saat ini, tidak ada penjelasan dari Kementerian Kesehatan terkait rencana evakuasi dan karantina WNI dari China ke Natuna.

Melihat situasi semakin memanas, Ketua LAM Natuna Wan Zawali, menyampaikan agar persoalan ini diselesaikan dengan kepala dingin.

“Jadi yang pertama saya mau sampaikan, besok jangan sampai kita sama kita betumbuk dan berdarah-darah karena masalah ini”.

Ia mengimbau agar masyarakat bersatu dan membuat kesepakatan, kalau perlu sama-sama turun. Akan tetapi bagaimanapun kondisinya, harus tetap mengutaman rasa persatuan dan kesatuan. (red)

Tinggalkan Balasan