Press "Enter" to skip to content

Walah,..Makam Raja-raja Palembang Direhab Mirip Halte

PALEMBANG | Koranrakyat.co.id — Proyek renovasi pedapuran (makam) Raja-Raja Palembang dan Keturunannya, di Kawasan Wisata Bukit Siguntang, kini jadi perbincangan wisatawan baik lokal maupun asing. Pasalnya, design yang dibuat dinilai tidak mencerminkan bangunan bersejarah dan bernilai historis tinggi.

Sultan Iskandar Muda, salah satu keturunan Raja Palembang, saat ditemui di kediamannya mengatakan design arsitektur dan ornamen  bangunan yang menjadi pelindung makam,  sama sekali tak mengesankan sejarah kerajaan.  Nuansa artistik dan karifan lokal pada masa lalu di zaman Sriwijaya, juga sama sekali tak terlihat.

Justru jika dipandang kasat mata, pedapuran makam raja-raja dan para pengeran dan keturunannya itu, hanya berupa atap fiber agak miring  yang ditopang tiang-tiang besi.  ”Bangunannya persis halte bus kota, yang berada di pinggir jalan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, ada banyak makam Raja-Raja Palembang dan keturunannya di masa lalu yang bersemanyam di bukit ini. Seperti Raja Sigentar Alam, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang, Panglima tuan Djundjungan, Pangeran Radja Batu Api, Putri Kembang Dadar dan Putri Rambut Selako.

Sultan Iskandar Muda  juga mengatakan wisatawan dari Singapura pernah berkunjung ke makam tersebut kemudian menyatakan kepadanya bahwa pedapuran yang ada saat ini tidak ubah seperti halte bus.

Bangunan seperti itu akan menghilangkan sejarah Kerajaan. ”Saya sudah meminta kepada Pemerintah Provinsi melalui Kepala Dinas Pariwisata Sumateta Selatan untuk mengembalikan ke bentuk asalnya,” ungkapnya ketika mengunjungi lokasi, Kamis (18/10/2018) lalu.

Sultan Iskandar Muda juga sempat berbincang dengan beberapa juru kunci makam dan pengunjung yang  datang hari itu.  Dari perbincangan, para pengunjung umumnya mengeluhkan melihat keadaan makam-makam yang sudah tak eksotik.  Seperti makan Raja Sigentar Alam, kesan sejarah kerajaan  sama sekali tak terlihat, sebaliknya lebih mirip seperti makam baru.

Salah satu juru kunci makam, juga mengakui  saat ini keadaan di sekitar makam sangat jauh berbeda sekali dengan aslinya. Bangunan seperti sekarang ini tidak ada lagi kesan sejarahnya.

Seperti Raja Sigentar alam pada waktu dia menjadi Raja di zaman kolonial, seharisnya bentuknya  makamnya dibuat seperti bangunan kolonial. Kalau zaman belanda bikin bangunan seperti bangunan Belanda. Kalau zaman kerajaan bangun seperti bangunan zaman kerajaan, jangan dibikin seperti sekarang ini.  Seharusnya Pemerintah Provinsi meminta pendapat pada ahli sejarah dan budayawan sebelum merenovasi makam ini,” ungkapnya.

Alien warga Sako Kenten salah satu penziarah mengatakan kalau dulu suasana makam seperti bentuk bangunan zaman kerajaan.  ”Setelah sepuluh tahun saya tidak ziarah, saya datang lagi di tahun ini ternyata bangunan sudah berubah. Saya berfikir bangunan ini hanya sementara dan akan dibangun seperti bangunan kerajaan lagi.  Karena kalau seperti ini tidak bagus dan tidak seperti makam kerajaan lagi, ” ujarnya.

Makam Bukit Siguntang memiliki kurang lebih 360 juru kunci yang diatur oleh panitia sembilan. Namun untuk pengurusan sekarang hanya ada tiga juru kunci yang dipercaya, yakni Suharyadi, Rusdi serta Sulaeman.  merekalah yang dipercaya untuk mengurusi makam tersebut,

”Sekarang seperti bukan seperti makam leluhur kerajaan Sriwijaya karena nuansa bangunannya tidak menampilkan khas kerajaan lagi,” tambah juru kunci makam tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan Irene C.Sinaga saat akan dimintai penjelasan tentang pembangunan Pedapuran Makam di Bukit Siguntang kamis 18/10 tidak berada di kantornya, Penjaga Kantor Dinas Pariwisata yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan Ibuk Iren lagi dinas luar. (fan)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *