26 Juni 2026

Herman Deru Siapkan Pergub, Festival Seni Adat dan Festival Anjungan Sumsel Jadi Benteng Pelestarian Budaya

Palembang|KoranRakyat.co.id –– Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru akan menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai dasar pelaksanaan Festival Seni Adat dan Tradisi serta Festival Anjungan Sumsel agar menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Herman Deru saat membuka Festival Seni Adat dan Tradisi 2026 serta Festival Anjungan Sumsel 2026 yang berlangsung selama dua hari, 24–25 Juni 2026, di Anjungan Rumah Adat Dekranasda Sumsel. Kegiatan tersebut diikuti oleh 17 kabupaten/kota se-Sumatera Selatan sebagai upaya menjaga keaslian budaya Bumi Sriwijaya.

ist

Menurut Herman Deru, keberlangsungan kegiatan budaya perlu mendapat perhatian serius karena menjadi sarana memperkuat identitas daerah dan mewariskan nilai budaya kepada generasi mendatang. “Saya bahagia sekali karena di antara kita masih ada yang terpikir untuk memberikan contoh bahwa kita diikat dalam satu budaya. Ini yang akan diingat oleh generasi selanjutnya. Maka, kegiatan ini perlu diagendakan secara permanen,” ujar Herman Deru, Rabu (24/6/2026).

Ia menegaskan, festival tersebut tidak hanya menjadi ajang pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi benteng pertahanan dan cermin keaslian adat serta tradisi masyarakat Sumatera Selatan.

Pada kesempatan itu, Herman Deru juga menilai Anjungan Rumah Adat Sumsel merupakan prototipe Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang memiliki berbagai keunggulan. Bahkan sejak 2023, ia telah mengusulkan agar satu ruang pada setiap anjungan dapat difungsikan sebagai kantor penghubung kabupaten/kota.

ist

Selain itu, Herman Deru mendorong Ketua Dekranasda kabupaten/kota untuk lebih aktif memanfaatkan anjungan daerah sebagai pusat kegiatan budaya, termasuk dalam peringatan hari jadi daerah masing-masing.

Sebagai upaya mempertahankan keberadaan wastra Sumsel, Herman Deru mengajak seluruh pihak memberikan contoh nyata dalam penggunaannya. “Misalnya para tamu undangan hadir dengan mengenakan wastra khas daerah masing-masing,” katanya.

Ia juga menyampaikan kabar baik terkait pengembangan pewarna alami untuk kain tradisional. Menurutnya, pewarna alami baru dari Pekalongan telah ditemukan dan bibitnya dapat diperoleh melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Sumsel untuk dikembangkan lebih lanjut.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Sumsel, Feby Deru, mengatakan festival tersebut menjadi ruang apresiasi yang mempertemukan kekayaan budaya dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan. “Banyak produk kerajinan lokal yang lahir dari inspirasi budaya. Hal ini tentu turut mendorong roda perekonomian masyarakat,” ujarnya.

ist

Feby menjelaskan, Anjungan Rumah Adat Sumsel yang berdiri sejak 2004 menyimpan sejarah dan karakter khas dari setiap daerah. Karena itu, ia berharap anjungan dapat menjadi etalase budaya Sumsel yang representatif dan membanggakan. “Marilah kita jadikan anjungan daerah sebagai etalase budaya Sumsel yang representatif dan membanggakan. Saya juga ingin ada miniatur museum wastra Sumsel. Selain itu, saat ini kita sedang menggalakkan penggunaan pewarna alam dalam pembuatan kain,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Rudi Irawan, melaporkan bahwa festival ini menampilkan berbagai kegiatan, mulai dari sendratari, seni tutur, seni bela diri, workshop membatik aksara Ulu, hingga workshop Tari Gending Sriwijaya.

Selain itu, sebanyak 20 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut dilibatkan untuk menampilkan produk-produk unggulan daerah kepada masyarakat dan pengunjung festival. (*)