29 Juni 2026

Herman Deru : Jadikan Benteng Kuto Besak Destinasi Wisata Sejarah Kebanggaan Sumsel  

Palembang|KoranRakyat.co.id –– Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi mendukung pengembangan Benteng Kuto Besak (BKB) sebagai destinasi wisata sejarah unggulan yang membanggakan Sumatera Selatan.

Ajakan tersebut disampaikan Herman Deru saat menghadiri kegiatan topping off revitalisasi Benteng Kuto Besak yang diselenggarakan Kodam II/Sriwijaya di kawasan BKB, Palembang, Minggu (28/6/2026).

ist

Herman Deru mengapresiasi langkah Kodam II/Sriwijaya yang telah melakukan penataan dan revitalisasi kawasan Benteng Kuto Besak sebagai destinasi wisata sejarah baru di Kota Palembang. “Ini merupakan langkah yang sangat penting, yaitu mengangkat satu titik yang sangat legendaris di Kota Palembang, yakni Benteng Kuto Besak,” ujarnya.

Menurut Herman Deru, hampir seluruh masyarakat mengenal Benteng Kuto Besak, tetapi belum banyak yang memahami sejarah berdirinya benteng yang mulai dibangun pada tahun 1780 tersebut. “Yang lebih membanggakan, Benteng Kuto Besak merupakan salah satu benteng besar yang dibangun oleh putra daerah, bukan oleh penjajah. Benteng ini dibangun untuk mempertahankan masyarakat Sumsel pada masa itu. Ini adalah warisan sejarah yang sangat berharga,” katanya.

Ia menilai dibukanya kawasan Benteng Kuto Besak bagi masyarakat merupakan sebuah legacy yang akan dikenang karena membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal sejarah daerahnya secara lebih baik. “Ini langkah yang istimewa. Saya berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, para budayawan, hingga masyarakat dapat bersama-sama mendukung dan melengkapi berbagai fasilitas yang dibutuhkan sehingga kawasan ini benar-benar menjadi destinasi wisata sejarah yang membanggakan,” ungkapnya.

Herman Deru juga mengingatkan bahwa sejarah merupakan bagian penting yang tidak boleh dilupakan. “Tidak mungkin ada masa kini tanpa masa lalu. Benteng Kuto Besak memiliki nilai sejarah, bukan hanya bagi masyarakat Palembang, tetapi juga Sumatera Selatan, bahkan Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa menghormati sejarah harus diwujudkan melalui komitmen bersama untuk menjaga dan melestarikannya.

Atas nama masyarakat Sumatera Selatan, Herman Deru menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Pangdam II/Sriwijaya beserta seluruh jajaran atas inisiatif membuka dan menata kawasan Benteng Kuto Besak sehingga dapat dinikmati masyarakat.

ist/dok

Menurutnya, revitalisasi kawasan tersebut akan menjadi pengungkit pertumbuhan sektor jasa dan pariwisata di Kota Palembang. “Palembang harus menjadi kota destinasi wisata, bukan hanya dikenal karena wisata sungainya, tetapi juga wisata sejarah dan perjuangannya. Saya meminta Pemerintah Kota Palembang turut mendukung pengembangan destinasi wisata baru ini,” tambahnya.

Sementara itu, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis mengatakan Kodam II/Sriwijaya berkomitmen mendukung pelestarian Benteng Kuto Besak sebagai ikon sejarah sekaligus destinasi wisata unggulan.

Menurutnya, Benteng Kuto Besak merupakan simbol sejarah Kota Palembang yang dibangun sepenuhnya oleh putra daerah pada masa Kesultanan Palembang Darussalam pada akhir abad ke-18. “Semangat kemandirian inilah yang kita warisi dan jaga bersama,” ujarnya.ist/dok

Ia menjelaskan berbagai penataan telah dilakukan, mulai dari pembersihan kawasan, penataan ruang perkantoran, ruang publik, hingga perbaikan fasilitas umum. “Kami dari Kodam II/Sriwijaya mendukung penuh agar Benteng Kuto Besak menjadi destinasi wisata unggulan yang membanggakan bagi masyarakat lokal maupun wisatawan,” katanya.

Ujang Darwis menambahkan, pengembangan kawasan Benteng Kuto Besak diawali dengan pembangunan Tourism Information Center yang diharapkan menjadi pusat informasi wisata sekaligus mendukung pengembangan kawasan secara terpadu. “Kami berharap Benteng Kuto Besak menjadi simbol keterpaduan antara warisan budaya masa lalu, teknologi layanan, serta kawasan perkantoran yang asri dan terintegrasi tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarahnya,” tutupnya. (*)