Tari Grebek Tenong Meriahkan Hari Jadi Wonosobo ke-201, Angkat Filosofi Persatuan dalam Keberagaman

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Pentas kolosal Tari Grebek Tenong memeriahkan rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201 di Alun-alun Wonosobo, Jumat (24/7/2026). Pertunjukan yang digelar usai prosesi Pisowanan Agung tersebut melibatkan sekitar 280 penampil yang terdiri atas siswa SMP se-Kabupaten Wonosobo, pengrawit, serta seniman daerah.
Pelatih Tari Grebek Tenong, Mulyani Moelya, mengatakan para penampil merupakan gabungan siswa SMP yang dibimbing Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya, didukung para pengrawit dan seniman muda Wonosobo.

“Kurang lebih ada 280 penampil. Penyajinya berasal dari beberapa SMP di Wonosobo yang tergabung dalam MGMP Seni Budaya. Kemudian pengrawit merupakan gabungan seniman-seniman muda Wonosobo, begitu juga para penarinya,” ujarnya.
Menurut Mulyani, Tari Grebek Tenong mengangkat filosofi tenong, wadah berbentuk bulat yang biasa digunakan masyarakat untuk membawa aneka makanan. Bentuk dan isi tenong yang beragam menjadi simbol kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Tenong itu berbentuk melingkar dan isinya bermacam-macam. Secara filosofi, tenong menggambarkan kerukunan. Dunia ini berisi keberagaman, baik agama, suku, maupun latar belakang lainnya. Karena itu, setiap orang harus saling menguatkan, saling memotivasi, dan hidup berdampingan,” jelasnya.
Selain menampilkan Tari Grebek Tenong, pertunjukan tersebut juga menghadirkan Tari Topeng Lengger, salah satu kesenian khas Wonosobo yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sajian tari.
Mulyani menjelaskan, empat bendera berwarna yang dibawa para penari memiliki makna tersendiri. Keempatnya melambangkan empat nafsu yang dimiliki manusia.

“Manusia dianugerahi empat macam nafsu. Ketika mampu mengelolanya sesuai tuntunan Tuhan, maka jiwanya akan memperoleh ketenteraman. Sebaliknya, apabila dikuasai hawa nafsu, maka yang muncul adalah angkara murka dan kegelisahan,” katanya.
Meski hanya dipersiapkan selama sekitar satu bulan, pertunjukan tersebut dapat tersaji berkat kerja sama para seniman dan pelatih yang memiliki semangat untuk mengabdi melalui seni budaya.
“Saya berterima kasih kepada teman-teman seniman Wonosobo. Saya selalu memotivasi bahwa sekarang kita bisa berbakti kepada bumi pertiwi melalui seni. Dulu orang berjuang dengan senjata, sekarang kita berjuang melalui karya dan ekspresi budaya,” pungkasnya. (Aris)

