Di Balik Meriahnya DCF 2026, 37 Petugas Berjibaku Tangani Sampah

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Persoalan sampah menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF) XVI 2026. Untuk menjaga kebersihan selama festival berlangsung, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) Kabupaten Banjarnegara menerjunkan 37 personel tenaga kebersihan.
Puluhan petugas tersebut ditugaskan mengawal aksi “Dieng Bersih” dengan pembagian tim di sejumlah lokasi kegiatan. Mereka bekerja secara bergilir sejak pagi hingga seluruh rangkaian acara selesai.
DCF sendiri merupakan festival budaya tahunan yang digelar di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Pada 2026, festival ini berlangsung selama tiga hari, yakni 28–30 Agustus. Berbagai kegiatan budaya, tradisi, seni, pariwisata, ekonomi kreatif, dan hiburan hadir dalam rangkaian acara tersebut, dengan salah satu agenda utamanya berupa prosesi Ruwatan Rambut Gimbal.

Dengan jumlah pengunjung yang cukup besar selama festival, aktivitas wisata dan berbagai kegiatan di sejumlah venue turut menghasilkan sampah. Karena itu, pengelolaan sampah menjadi bagian penting untuk menjaga kawasan Dieng tetap bersih selama maupun setelah pelaksanaan acara.
Kepala DPKPLH Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti, S.Pt., M.Si., mengatakan pihaknya berupaya agar sampah yang dihasilkan selama kegiatan tidak seluruhnya berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Strategi tersebut dilakukan melalui pemilahan sampah sejak dari sumber serta kerja sama dengan lembaga pengelola sampah untuk mengolah kembali material yang masih memiliki nilai guna.
“Sudah ada komitmen bahwa sampah kegiatan tidak langsung dibawa ke TPA, dan panitia pun sudah kami minta untuk mengupayakan pemilahan sejak dari sumbernya. Kami bekerja sama dengan BSB dan BSIB (Bank Sampah Induk Banjarnegara),” kata Herrina, Minggu (30/8/2026).
Sampah yang terkumpul kemudian dipisahkan berdasarkan jenis dan nilai manfaatnya. Sampah bernilai rendah atau low value, seperti plastik pembungkus makanan, disalurkan ke BSB untuk diolah menjadi bahan bakar minyak petasol.
Sementara itu, botol kemasan minuman disetorkan ke BSIB untuk diproses dan didaur ulang menjadi bahan baku biji plastik.
“Jadi, hanya sisa residu yang kami bawa ke TPA,” terang Herrina.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pengelolaan sampah selama DCF yang tidak hanya berfokus pada proses pembersihan, tetapi juga mengurangi volume sampah yang harus berakhir di TPA.
Di lapangan, tingginya aktivitas pengunjung membuat petugas harus melakukan pembersihan berulang kali. Nur Muhammad, salah satu petugas kebersihan lapangan, mengatakan sampah yang paling banyak ditemukan di antaranya puntung rokok dan botol minuman kemasan.
Padahal, tempat sampah telah ditempatkan di sejumlah titik di kawasan acara.
“Kami ditugaskan membersihkan sampah terutama setiap selesai acara. Dalam sehari, kami bisa 3 sampai 4 kali mengangkut sampah yang terkumpul ke tempat pembuangan sementara,” ungkapnya.
Menurut Nur, pengangkutan tersebut dilakukan secara berkala agar sampah tidak menumpuk di area kegiatan dan mengganggu kenyamanan pengunjung maupun masyarakat sekitar.

Selain persoalan volume sampah, petugas juga menghadapi kendala mobilitas. Jarak antara tempat penginapan tim kebersihan dengan lokasi kegiatan yang cukup jauh membuat petugas membutuhkan waktu tempuh tambahan ketika hendak beristirahat.
Nur berharap penyelenggaraan festival pada tahun-tahun berikutnya dapat disertai dukungan transportasi khusus bagi petugas kebersihan.
Dengan keterlibatan puluhan petugas dan penerapan pemilahan sampah dari sumbernya, pengelolaan lingkungan dalam DCF 2026 diharapkan tidak berhenti pada kegiatan membersihkan kawasan setelah acara. Sampah yang masih memiliki nilai guna juga diupayakan masuk ke dalam proses daur ulang sehingga dapat mengurangi beban TPA sekaligus memberikan manfaat ekonomi. (Aris)
