30 Agustus 2026

Domba Batur Jadi Sorotan di DCF 2026, Harganya Bisa Tembus Rp100 Juta

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Gelaran Dieng Culture Festival (DCF) XVI 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi tradisi dan kesenian masyarakat Dieng. Festival tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi peternakan khas Banjarnegara, salah satunya Domba Batur yang kini memiliki nilai ekonomi hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Domba Batur merupakan ternak khas yang telah dikembangkan di Banjarnegara selama puluhan tahun. Hewan tersebut memiliki keunggulan dari sisi ukuran tubuh dibandingkan domba lokal sekaligus dikenal memiliki penampilan menarik sehingga mulai diminati sebagai hewan peliharaan atau klangenan dan kontes seni ternak.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (Distankan-KP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan Domba Batur telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pertanian RI sebagai plasma nutfah asli Banjarnegara.

Meski kini persebarannya telah meluas ke sejumlah kabupaten lain, Banjarnegara tetap menjadi daerah asal dan basis pengembangan Domba Batur.

“Awalnya populasi Domba Batur hanya sekitar 20 ekor dari hasil persilangan domba lokal, domba Merino, dan domba Texel. Setelah dikembangkan selama puluhan tahun, saat ini populasinya di Banjarnegara sudah mencapai 9.000 hingga 10.000 ekor,” ujar Firman saat ditemui di sela-sela kegiatan Festival Domba Batur, Jumat (28/8/2026).

Perkembangan populasi tersebut berjalan seiring dengan sejumlah keunggulan yang dimiliki Domba Batur. Dari sisi bobot, domba betina dewasa dapat mencapai 50 hingga 60 kilogram, sedangkan jantan dewasa mampu mencapai 110 kilogram.

Ukuran tersebut jauh lebih besar dibandingkan domba lokal pada umumnya. Domba lokal jantan rata-rata memiliki bobot sekitar 50 kilogram, sementara betinanya berada di kisaran 30–40 kilogram. Namun, keunggulan Domba Batur tidak hanya terletak pada ukurannya.

“Selain fisik yang besar, karakternya sangat jinak (friendly) dan penampilannya cantik dengan bulu halus yang menutupi tubuh dari area kaki hingga muka. Hal ini membuat Domba Batur tidak lagi sekadar dinilai sebagai domba pedaging atau potong,” jelasnya.

Perubahan nilai tersebut terlihat dari harga jualnya. Sebagai domba potong, seekor Domba Batur berada di kisaran Rp4 juta hingga Rp5 juta. Sementara untuk kategori klangenan maupun kontes seni, harganya dapat meningkat berkali-kali lipat hingga mencapai Rp50 juta bahkan Rp100 juta per ekor.

Karena itu, festival dan kontes Domba Batur secara rutin digelar untuk menjaga ekosistem komunitas peternak. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana menjaga kemurnian genetik Domba Batur serta mempertahankan keberlangsungan ekonomi para peternak.

Dalam Festival Domba Batur yang digelar pada rangkaian DCF XVI 2026, terdapat enam kelas kejuaraan yang diperlombakan. Kelas tersebut terdiri dari bakalan atau bibit jantan dan betina, dewasa atau calon indukan jantan dan betina, serta kelas ekstrem untuk kategori bobot terberat jantan dan betina.

Potensi Domba Batur juga tidak berhenti pada daging maupun penampilannya. Bulu halus yang menjadi salah satu karakteristiknya mulai dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan produk ekonomi kreatif.

Firman mengatakan, kebutuhan industri tekstil wol skala besar memang belum dapat dipenuhi karena membutuhkan populasi sekitar 30.000 hingga 40.000 ekor. Namun, bulu Domba Batur yang tersedia saat ini telah dimanfaatkan untuk berbagai produk kerajinan.

“Bulu Domba Batur kita olah menjadi beragam produk suvenir kreatif seperti boneka, syal, topi, hingga aksesori hiasan. Potensi ini terus kami pamerkan dan dorong agar memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Banjarnegara,” pungkasnya.

Pengembangan Domba Batur tersebut menunjukkan bahwa ternak khas Banjarnegara ini memiliki potensi yang lebih luas dari sekadar komoditas peternakan. Dari plasma nutfah daerah, Domba Batur kini berkembang menjadi bagian dari identitas lokal sekaligus memiliki peluang ekonomi melalui peternakan, kontes, hingga industri kreatif. (Aris)