Last Friday Ride Wonosobo Satukan Ratusan Peserta, Kampanyekan Jalan Raya Ramah Pesepeda

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Jalanan Kota Wonosobo dipenuhi ratusan pesepeda yang mengikuti Last Friday Ride Wonosobo edisi kedelapan pada Jumat (31/7/2026) malam. Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB itu diikuti lebih dari 250 peserta dari berbagai daerah dengan menempuh rute sekitar 10 kilometer sebagai bentuk kampanye keselamatan, solidaritas, sekaligus menggaungkan keberadaan pesepeda sebagai pengguna jalan yang memiliki hak yang sama.
Ratusan peserta mulai berkumpul di Raih Kopi, yang berlokasi di Jalan Veteran, Wonosobo Timur, Kecamatan Wonosobo. Berbagai jenis sepeda tampak memadati lokasi, mulai dari sepeda lipat, mountain bike (MTB), BMX, road bike, hingga sepeda klasik. Suasana kebersamaan begitu terasa sebelum rombongan diberangkatkan menyusuri jalanan kota.

Salah satu koordinator kegiatan, Jourdan Abdullah, mengatakan jumlah peserta pada penyelenggaraan kali ini menjadi yang terbesar sejak Last Friday Ride digelar di Wonosobo. Berdasarkan pendataan panitia, sebanyak 215 peserta telah melakukan registrasi, sementara lebih dari 50 pesepeda lainnya bergabung di tengah perjalanan.
“Ada yang gabung dari Raih Kopi di Sudagaran, ada juga yang merapat di jalan, karena kita menuju arah Krasak (atas). Lalu putar balik ke arah kota,” tuturnya.
Rute yang ditempuh peserta dimulai dari Raih Kopi menuju lampu lalu lintas di Jalan A. Yani, kemudian ke lampu lalu lintas Taman Plaza, dilanjutkan hingga Alfamart Krasak sebelum berputar balik menuju pusat kota melewati Queen Cosmetic, perempatan Taman Plaza, dan kembali finis di Raih Kopi.
Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat tanpa persyaratan khusus. Seluruh kalangan dapat mengikuti Last Friday Ride dengan menggunakan berbagai jenis sepeda kayuh. Panitia hanya tidak memperbolehkan penggunaan sepeda motor maupun sepeda listrik agar semangat bersepeda tetap terjaga.
Untuk menjaga keselamatan selama berkendara pada malam hari, peserta diwajibkan memasang atau membawa lampu penerangan di sepeda serta memastikan kondisi kendaraan, terutama rem, berfungsi dengan baik. Peserta yang masih berusia di bawah umur juga disarankan meminta izin kepada orang tua sebelum mengikuti kegiatan. Selama perjalanan, seluruh peserta diimbau saling menjaga dan memperhatikan keselamatan pesepeda lain.

Menurut Jourdan, antusiasme masyarakat terhadap Last Friday Ride terus meningkat sejak pertama kali digelar pada akhir 2025. Saat itu jumlah pesertanya hanya sekitar 70 orang, sedangkan kini telah berkembang menjadi lebih dari 200 peserta pada setiap penyelenggaraan.
“Ada support dari beberapa komunitas pesepeda seperti Hari Bike, Bike-bike Saja, Olah Goes Tjeria, dan Kawan Melaju. Kami memantau peserta perempuan semakin banyak, bahkan anak-anak juga,” tuturnya.
Selain menjadi ajang olahraga dan silaturahmi antarkomunitas, Last Friday Ride juga membawa misi mengampanyekan budaya bersepeda yang aman dan nyaman di jalan raya. Pada penyelenggaraan kedelapan ini, salah satu tema yang diangkat adalah dukungan terhadap dibukanya kembali akses pesepeda di kawasan Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kami juga mendukung kebijakan bahwa jalan raya berhak digunakan untuk pesepeda. Kami juga turut mengangkat isu-isu lokal yang masih dirasa meresahkan. Seperti minimnya jalur sepeda. Mengingat sekarang makin banyak pesepeda yang selain untuk olahraga juga bike to work maupun ke sekolah yang butuh dijamin keamanannya,” katanya.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang menggunakan sepeda sebagai sarana olahraga maupun transportasi sehari-hari harus diimbangi dengan penyediaan infrastruktur yang lebih ramah bagi pesepeda. Kehadiran jalur sepeda yang aman dinilai menjadi salah satu kebutuhan untuk menciptakan ruang jalan yang lebih inklusif bagi seluruh pengguna.
Melalui kegiatan tersebut, komunitas juga ingin menunjukkan bahwa jumlah pesepeda di Wonosobo terus bertambah dan membutuhkan perhatian dari para pemangku kebijakan.
“Kami juga berkampanye lewat bendera dan publikasi yang dipasang yang mengangkat Critical Mass yang digagas sejak 1992. Maka dengan kekuatan komunitas pesepeda ini kami ingin advokasikan hal itu, utamanya pada pemerintah dan warga sekitar. Bahwa para pesepeda itu ada dan banyak. Butuh difasilitasi, karena kami merasa masih dimarjinalkan. Apalagi karena kontur jalan dan kondisi jalan yang belum proper,” ungkapnya menyuarakan isu komunitas.
Ia menegaskan bahwa pesepeda memiliki hak yang sama dengan pengguna jalan lainnya. Selain menyehatkan, budaya bersepeda juga dinilai mampu mengurangi emisi kendaraan dan mendorong terciptanya lingkungan perkotaan yang lebih ramah.
“Kita punya hak yang sama dengan pengguna jalan yang lain. Kami kampanyekan bahwa kami ada, kami terlihat, kami berhak,” tegasnya.

Penyelenggara juga terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Selama ini Last Friday Ride telah didukung sejumlah pelaku usaha, salah satunya Raih Kopi sebagai titik kumpul kegiatan. Seusai bersepeda, seluruh peserta memperoleh free refreshment berupa minuman dan makanan ringan, sementara panitia juga membagikan sejumlah doorprize sebagai bentuk apresiasi kepada peserta.
Ke depan, panitia berharap kegiatan ini dapat bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Wonosobo, BUMN maupun BUMD, termasuk dalam berbagai agenda publik seperti Car Free Day. Dengan semakin banyak dukungan, jumlah peserta diperkirakan dapat menembus lebih dari 300 orang pada penyelenggaraan berikutnya.
“Yang dibutuhkan untuk event biasanya sederhana saja, seperti refreshment berupa minuman dan buah-buahan. Tambahan lainnya berupa fotografer dan doorprize. Meski agak pesimis dengan tanggapan pemerintah kami juga bersedia jika diajak berkolaborasi. Kami mengapresiasi jika ada dorongan untuk para ASN yang diarahkan bersepeda untuk berangkat kerja,” pungkasnya. (Aris)

