8 Maret 2026

Canda Arief Hidayat dalam Suasana Wisuda Purnabakti Hakim MK,: Maunya Anaknya Jadi Wakil Presiden!

KoranRakyat.co.id—- Mungkin karena sudah yakin tidak akan ada lagi  berhadapan dengan kasus  yang serius seperti saat masih berdinas, hakim MK dalam pidato wisuda purnabhaktinya Arief Hidayat melepaskan  candanya.

Dilansir Wartakotalivecom Suasana Wisuda Purnabakti Hakim Konstitusi yang digelar Mahkamah Konstitusi pada Rabu (4/2/2026) mendadak riuh oleh tawa.

Bukan karena perdebatan hukum yang biasa menyelimuti forum tersebut, melainkan oleh kelakar ringan Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat yang menyelip di tengah pidato perpisahannya.

Di hadapan para hakim konstitusi, undangan, dan keluarga besar lembaga itu, Arief menyampaikan refleksi personal tentang perjalanan karier dan pilihan hidup keluarganya.

Ia menuturkan bahwa anak-anaknya memilih jalur akademik sebagai dosen, sebuah pilihan yang ia hargai dan banggakan.

Namun, di sela-sela itu, Arief melontarkan candaan yang langsung memecah suasana.

“Tapi saya sebetulnya pingin anak saya bisa jadi Wakil Presiden,” ujar Arief.

Kalimat tersebut sontak disambut gelak tawa seruangan, menandai jeda ringan di tengah forum resmi yang biasanya sarat bahasa formal dan pertimbangan konstitusional.

Candaan Arief tidak berhenti di situ.

Ia lalu berbagi cerita tentang cucunya yang akan segera lahir.

Dalam kisah itu, Arief menyinggung pilihan tempat kelahiran sang cucu, antara Solo atau Semarang. Menurutnya, pilihan tersebut pun tak lepas dari gurauan khas keluarga.

“Biar lahir di Solo, ya, karena kalau lahir di Solo bisa jadi Presiden atau Wakil Presiden, katanya begitu, karena Solo itu berkahnya Indonesia,” ucap Arief, kembali disambut tawa hadirin.

Kelakar tersebut, meski disampaikan dalam nada santai, mencerminkan sisi manusiawi seorang negarawan yang selama ini dikenal tegas dan serius dalam memimpin lembaga penjaga konstitusi.

Di momen purnabakti, Arief tampak ingin meninggalkan kesan hangat, bahwa di balik jabatan tinggi dan keputusan-keputusan besar, ada ruang bagi humor dan kebersahajaan.

Wisuda purnabakti itu sendiri menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian para hakim konstitusi yang telah menunaikan tugasnya menjaga konstitusi negara.

Di forum tersebut, Arief menegaskan kembali pentingnya integritas, keberanian moral, dan independensi peradilan konstitusi sebagai pilar demokrasi.

Candaan tentang wakil presiden dan “berkah” Solo pun menjadi penutup manis, yang mengingatkan bahwa institusi negara juga dibangun oleh manusia dengan cerita, keluarga, dan tawa. (*)