1 Mei 2026

JATUBU Gelar Puncak Musim Tanam sebagai Upaya Penguatan Lingkungan Berkelanjutan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Komunitas Jagat Tunas Bumi (JATUBU) menggelar Puncak Musim Tanam 2025 Gerakan Penanaman Kopi Nusantara di Lapangan Kupangan, Desa Kupangan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, Kamis (5/2/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya reboisasi dan penguatan kawasan penyangga lingkungan di wilayah pegunungan Wonosobo.

Acara tersebut melibatkan berbagai elemen, mulai dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo, relawan JATUBU, komunitas ojek online, organisasi masyarakat, perangkat desa, hingga pelajar dan warga setempat. Kolaborasi lintas sektor ini menegaskan bahwa isu lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Ketua Panitia Pelaksana Lapangan JATUBU, Sidik Widakdo, menegaskan bahwa penanaman kopi yang dilakukan bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, aksi tersebut merupakan wujud kepedulian nyata terhadap kelestarian lingkungan sekaligus investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.

“Bibit tanaman kopi yang kita tanam hari ini bukan sekadar aktivitas seremonial, tetapi bentuk kepedulian nyata untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memulihkan lingkungan. Ini adalah investasi masa depan, karena pohon yang kita tanam akan menjadi penahan air, mencegah erosi, dan mengurangi risiko bencana,” ujar Sidik.

Ia menjelaskan, kegiatan penanaman tahun ini mengusung tema “Memayu Hayuning Bawana”, sebuah filosofi Jawa yang mengajarkan manusia untuk memperindah, menjaga, dan merawat alam semesta. Hingga saat ini, JATUBU tercatat telah menyalurkan sekitar 193.000 bibit pohon di berbagai wilayah Wonosobo untuk menekan risiko longsor, banjir, dan krisis air.

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Fraksi Partai Demokrat, Kholik Idris, memberikan apresiasi atas konsistensi JATUBU dalam melakukan reboisasi. Ia menyebut penanaman pohon sebagai langkah nyata menghadapi dampak perubahan iklim yang kian terasa.

“Penanaman pohon ini bukan kegiatan seremonial belaka, tetapi wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Ini adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh anak-anak dan cucu-cucu kita,” kata Kholik.

Ia juga menyinggung berbagai kejadian banjir dan longsor di wilayah lain sebagai peringatan bahwa kawasan dataran tinggi pun kini rentan bencana akibat berkurangnya daerah resapan air.

Ketua Umum JATUBU, Mantep Abdul Ghani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa gerakan ini lahir dari keresahan masyarakat melihat kondisi hutan Wonosobo yang semakin kritis. Ia menjelaskan pemilihan kopi sebagai tanaman reboisasi dilakukan untuk menjembatani kepentingan ekologis dan ekonomi masyarakat.

“Kenapa kopi? Karena kita harus menjaga keseimbangan antara lingkungan dan perut masyarakat. Kopi bisa menjadi jalan tengah, agar hutan kembali hijau namun masyarakat tetap memiliki penghasilan,” tegasnya.

Dalam konferensi pers, Mantep menambahkan bahwa niat utama JATUBU adalah menghijaukan Wonosobo melalui aksi nyata sebelum menuntut kolaborasi lebih luas.

“Hari ini kita mulai dari berbuat dulu. Setelah itu, kami berharap bisa dibimbing dan diajak bersama-sama menjaga hutan Wonosobo. Kalau perbuatan kami belum cukup, kami akan terus bersuara demi hutan yang sudah semakin kritis,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Garuda Astacita Nusantara (GAN). Wakil Ketua DPP-GAN, Tri Martono, menyampaikan bahwa program penanaman kopi sejalan dengan agenda ekonomi hijau.

“Penanaman kopi ini masuk dalam semangat green economy, untuk menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga wilayah dari potensi bencana. Kami siap mendampingi, baik secara hukum maupun koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait,” jelas Tri.

Dari unsur pemerintah daerah, Kristiyugo selaku perwakilan DLH Kabupaten Wonosobo menyatakan bahwa kondisi lingkungan saat ini membutuhkan penanganan bersama.

“Persoalan lingkungan di wilayah atas sudah sangat kritis dan tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Kami menyambut baik kolaborasi dengan JATUBU dan semua pihak agar kejadian longsor dan banjir di daerah lain tidak terjadi di Wonosobo,” katanya.

Melalui Puncak Musim Tanam 2025 ini, JATUBU berharap gerakan penanaman kopi tidak berhenti pada proses menanam, tetapi berlanjut pada perawatan bersama sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Wonosobo. (Aris)