Toleransi Itu Dua Arah: Bukan Sekadar Menuntut, Tapi Juga Mengerti

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Supli Effendi Rahim, M.Sc
Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang
KoranRakyat.co.id —Dalam beberapa waktu terakhir, isu intoleransi agama kembali menjadi sorotan. Salah satu kasus yang mencuat adalah polemik terkait GKI Yasmin, Bogor. Banyak media nasional hingga internasional menyoroti penyegelan gereja tersebut sebagai bentuk intoleransi umat mayoritas. Namun, apakah persoalannya sesederhana itu? Ataukah ada fakta-fakta hukum dan sosial yang sengaja diabaikan?
Jusuf Kalla Bicara Tegas di Hadapan 700 Pendeta
Suasana mendadak hening di sebuah aula besar yang dipenuhi sekitar 700 pendeta dari berbagai denominasi Kristen. Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia, dengan lugas memberikan pandangannya terkait kasus GKI Yasmin.
Beliau menyampaikan dengan nada tegas:
“Toleransi itu dua arah. Kalau pembangunan gereja diminta dipindah sedikit, ya pindah saja. Tuhan tidak marah kalau kamu ibadah di tempat lain. IMB itu bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota!”
Sontak, suasana forum menjadi lebih serius. Pesan itu bukan tanpa alasan. Karena faktanya, kasus GKI Yasmin lebih kepada persoalan hukum administratif, bukan konflik agama. Ketua RT setempat, Munir Karta, terbukti secara sah di pengadilan melakukan pemalsuan tanda tangan warga dalam pengurusan IMB. Anehnya, yang terus diberitakan justru soal penyegelan gereja, bukan soal pemalsuan dokumen.
Dan lebih ironis lagi, umat Islam selalu menjadi pihak yang dituduh intoleran.
Fakta Data: Pertumbuhan Rumah Ibadah
Jusuf Kalla pun mengajak publik untuk melihat data, bukan drama:
Pertumbuhan gereja dalam 20 tahun terakhir: naik 130%
Pertumbuhan masjid: hanya 63%
Secara jumlah, masjid memang lebih banyak. Itu logis karena umat Islam adalah mayoritas. Namun laju pertumbuhan gereja jauh lebih cepat, bahkan dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan masjid.
Dan ini bukan hanya faktor internal Indonesia. Banyak dukungan eksternal dari jaringan internasional yang aktif mendanai pembangunan gereja dan program misi keagamaan.
Dukungan Internasional dalam Kristenisasi
Beberapa lembaga asing yang terlibat aktif dalam mendukung ekspansi gereja dan program kristenisasi di Indonesia antara lain:
World Vision (AS)
Christian Aid Mission
Open Doors International
Evangelical Fellowship of Canada
The Joshua Project (secara khusus menyasar komunitas Muslim)
Gereja Mormon (Utah, AS)
Dukungan dari Vatikan
Mereka tidak hanya mengirim dana, tetapi juga:
*Tenaga misionaris (dengan berbagai kedok: guru, relawan, perawat)
*Buku Injil berbahasa lokal
* Program bantuan sosial dan beasiswa
* Sekolah-sekolah asrama yang menjadi pusat kaderisasi gereja
Masuk lewat pintu pendidikan, kesehatan, dan bantuan bencana. Tampak netral di luar, namun membawa misi terselubung di dalam.
Satu Desa, Banyak Gereja
Realita di lapangan menunjukkan bahwa dalam satu desa kecil bisa berdiri 4–5 gereja beda aliran, seperti:
* Katolik
* Protestan
* Pentakosta
* Injili
* Saksi Yehuwa
* Gereja Reform
Jumlah jemaatnya kadang masih kalah banyak dibanding jamaah *satu musholla kecil* di pojok kampung.
Dan faktanya, umat Islam *jarang sekali* menghalangi pembangunan gereja. Bahkan gereja terbesar se-Asia Tenggara pun berdiri megah di tengah wilayah mayoritas Muslim.
Contoh Nyata:
Graha Bethany Nginden – Surabaya
Kapasitas: 35.000 jemaat
Kehadiran rutin: ±140.000 orang
Tetap berdiri megah dan aman di tengah masyarakat Muslim Jawa Timur.
Jawaban JK: “Kenapa Ada Masjid di Kantor Pemerintah?”
Dalam forum yang sama, seorang pendeta bertanya:
“Kenapa di kantor-kantor pemerintahan harus ada masjid?”
Jusuf Kalla menjawab dengan tenang namun penuh makna:
“Justru itu bentuk penghormatan kepada Anda. Jumat tidak libur, sementara Anda libur hari Minggu. Anda bisa kebaktian dalam 5 shift. Umat Islam cuma bisa ibadah Jumat sekali. Kalau tidak ada masjid, kami harus bolos kerja. Apa Anda mau hari libur ditukar? Jumat libur, Minggu kerja?” Jawaban yang singkat tapi penuh logika sosial.
Mari Kita Dewasa dalam Bertoleransi
Konflik rumah ibadah seringkali bukan murni soal agama. Banyak faktor lain seperti izin administrasi, persoalan hukum, hingga manipulasi dokumen. Namun media seringkali membingkainya dengan narasi Islamophobia.
Umat Islam di Indonesia, dengan jumlah mayoritas, sudah sangat banyak menahan diri. Namun, realitas pemurtadan di banyak daerah juga tidak bisa diabaikan.
Metode yang sering digunakan:
* Sekolah gratis
* Bantuan sembako
* Layanan rumah sakit misi
* Buku pelajaran dengan sisipan ajaran agama tertentu
* Beasiswa luar negeri untuk anak-anak muda Muslim
Penutup:
Indonesia adalah rumah besar kita bersama.
Toleransi sejati bukan berarti satu pihak boleh melakukan segalanya sementara pihak lain selalu dituntut untuk mengalah.
Toleransi berarti dua pihak sama-sama dewasa. Sama-sama menaati hukum. Sama-sama menjaga harmoni. Sama-sama menghargai hak dan batas masing-masing.
Mari kita bicara dengan data, logika, dan kejujuran, bukan dengan narasi dramatis yang memecah belah (*)
