25 April 2024

Keuletan Setan, Belajar dari Kasus Barseso

Oleh : John Supriyanto MAg

Penulis adalah dosen Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Raden Fatah dan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) Al-Lathifiyyah Palembang

Secara fitrawi, tugas pokok setan adalah penggoda dan ia sangat profesional dalam menjalankan tugasnya.

Profesionalitas setan sudah sangat teruji.

Ia begitu ulet, tak gampang menyerah, super sabar dan pekerja keras.

Ibarat air yang mengalir, dihadang kiri ia ke kanan, dihadang kanan ia ke kiri, dihadang kanan kiri ia ke atas atau ke bawah.

Lalu, bila terdesak, ia rela menunggu sembari menyatukan semua kekuatan.

Saat kekuatan sudah terkumpul, sebesar apapun objek yang ada di depannya akan ia terjang dan hanyutkan.

Jika belum bisa menghayutkan, maka nantinya ia pasti akan mampu menenggelamkan.

Kesungguhan setan menjalankan tugasnya berangkat dari dendam tak berkesudahan sejak ia divonis neraka oleh Tuhan.

Ia berasumsi bahwa manusialah biang penyebabnya.

Tanpa keberadaan manusia, mungkin hingga kini ia tetap menjadi makhluk suci yang khusyu’ dalam penyembahannya kepada Tuhan.

Bahkan, konon sebelumnya ibadah setan telah melampaui prestasi ibadah malaikat di sisi Allah Swt.

Namun gengsinya sujud kepada Adam menyebabkan ia dipandang sebagai makhluk pembangkang.

Dendam dan kemarahanlah yang memotivasinya bekerja keras menyesatkan manusia. Pantas bila pesan agama “marah dan dendam itu bersumber dari setan”.

Dalam Al Qur’an diungkapkan tahapan-tahapan teknis (al-khuthuwat) setan dalam menjalankan aksi penyesatan.

“Jangan ikuti khuthuwat setan, ia merupakan musuh nyata” (Qs. al-Baqarah : 168).

Sebab, jika manusia telah terjebak pada khuthwah pertama, besar kemungkinan akan tersasar pada khuthwah kedua, ketiga dan seterusnya.

Sebab, ia begitu santun, lembut dan sopan melaksanakan dalam menjalankan tugasnya.

Ketika menafsirkan Qs. al-Hasyr : 16-17 yang intinya setan adalah penipu dan makhluk tidak bertanggung jawab, Imam ath-Thabari dalam “Jami’ al-Bayan” mengutip riwayat Ibn Mas’ud ra. tentang kisah seorang rahib ‘alim, zahid dan ahli ibadah dari Bani Isra’il, bernama Barseso yang sukses gemilang dikufurkan setan.

Konon Barseso telah beribadah selama 60 tahun dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah Swt. sedikitpun.

Seluruh waktunya  ia habiskan semata-mata untuk beribadah dan karena keshalihannya, maka ia masuk dalam target operasi penyesatan setan.

Mereka  rembuk menentukan langkah dan menunjuk pelaksana tugasnya.

Diputuskan, misi tersebut  menggunkan metode “hilah” (rekayasa) dan setan putih sebagai pelaksananya. Begitu diungkap dalam kitab riwayat.

Langkah (khuthwah) pertama setan dalam operasi penyesatan manusia adalah proses “al-waswasah” atau bisikan halus yang ditujukan untuk merusak niat seseorang (Qs. an-Nas : 5). “Al-waswasah” ditujukan untuk merusak niat yang langsung fokus menyerang titik hati, hingga seorang yang beramal menjadi pamrih, memandang indah perbuatannya dan merasa suci atas capaian prestasi ibadah. Hanya benteng ikhlash yang tidak mampu ditembus oleh bisikan jenis “waswasah” ini (Qs. al-Hijr : 40).

Kongkritnya, setan putih menemui Barseso yan sedang asyik beribadah.

Ia hadir dengan pakaian ala ulama’ lengkap dengan sorban dan atribut ke’aliman lainnya. Lalu setan menyapanya, namun Barseso tidak menghiraukannya.

Ia terus beribadah dan hanya rehat sekali setelah sepuluh hari.

Belum mampu mengalihkan perhatian Barseso, setan tidak putus usaha.

Ia berpura-pura shalat dan beribadah.

Ketika Barseso hendak rehat dan bermaksud keluar, ia melihat setan –yang tampil dalam wujud seorang ulama’- sedang beribadah dengan sangat khusyu’.

Kemudian Barseso menyapanya ramah : “Apakah tadi anda memanggilku?. Apa yang bisa saya bantu?”.

Setan putih menjawab : “Aku ingin bersamamu, belajar dan beribadah hingga kita dapat saling mendo’akan. Aku mendengar bahwa prestasi ibadahmu sangat mengagumkan dan luar biasa”.

Di sini, setan mulai masuk pada materi “waswasah”, yakni memberikan pujian-pujian ringan. Barseso berkata : “Saya tidak bisa bersamamu. Jika engkau seorang mukmin, maka engkau telah termasuk dalam do’aku yang telah kutujukan kepada semua orang yang beriman”.

Setelah itu ia beranjak pergi, pun setan melanjutkan ibadahnya.

Setelah berlalu lebih 40 hari, Barseso melihat setan tetap khusyu’ dan hanyut dalam kesungguhan ibadahnya.

Kondisi tersebut ternyata sedikit menarik perhatian Barseso.

Apalagi sebelumnya ia pernah memuji kehebatan ibadahnya.

Ia bertanya : “Apa sebenarnya yang anda butuhkan?”.

Setan menjawab : “Izinkan aku naik ke mihrabmu untuk beribadah”.

Akhirnya, Barseso mengizinkan setan beribadah di mihrabnya, lalu ia beribadah tanpa henti sepanjang waktu dan tidak istirahat kecuali setelah 40 hari.

Capaian prestasi ibadah setan sungguh telah membuat Barseso merasa rendah, takjub dan kagum.

Setelah sekian lama bersama, setan pamit pergi meninggalkannya dan Barseso berusaha menahannya.

Setan berujar : “Aku akan menemui seorang ‘alim yang ibadahnya melebihi kehebatan ibadahmu”.

Mendengar ujaran tersebut, muncul rasa takabbur dalam batin Barseso, apalagi disebut bahwa ibadah orang itu dinilai lebih baik daripada ibadahnya.

Sedikit saja rasa besar hati dan sifat senang dipuji, maka hal itu akan mampu menggerogoti bahkan merusak niat secara total, pelan namun pasti.

Di tahap ini, setan telah berhasil melesatkan  anak panah “waswasah” tepat mengenai titik fokus hati Barseso.

Lalu setan pergi  meninggalkan Barseso.

Namun sebelum pergi, setan mengajarkan beberapa do’a untuk menyembuhkan orang yang sakit.

Kemudian, setan melanjutkan misi berikutnya.

Ia mengganggu seorang wanita dan menyebabkan ia sakit jiwa.

Konon sang gadis jelita itu memiliki tiga saudara laki-laki yang telah membawanya berobat kesana kemari, namun belum sembuh juga.

Kemudian setan -dengan wujud manusia- menginfokan bahwa Barseso dapat menyembuhkannya.

Lalu Barseso berhasil menyembuhkan gadis itu dengan do’a-do’a yang pernah diajarkan setan sebelumnya.

Ketika Barseso pergi, setan kembali mengganggunya dan gadis itupun sakit lagi.

Begitulah seterusnya, hingga setan menyarankan agar gadis itu dititipkan di kediaman  Barseso dan memberikan kepercayaan penuh padanya.

Awalnya Barseso menolak, namun karena terus didesak akhirnya ia-pun mengizinkan.

Sampai pada tahapan ini, maka khuthwah berikutnya adalah “al-hamazah” (Qs. al-Mukminun : 97), yakni bisikan keindahan-keindahan yang bersifat teknis lengkap dengan petunjuk operasionalnya.

Dalam bahasa Arab, kata “hamazah” mengandung arti “gelora” atau “semangat yang menggebu”.

Setiap kali menyelesaikan ibadahnya, Barseso melihat ada wanita cantik di sampingnya.

Setan membisikkan angan-angan dan menjadikan gadis itu sangat indah di matanya.

Begitu pula kepada gadis itu.

Ia melihat Barseso sebagai sosok laki-laki ideal yang tampan, ‘alim dan taat beribadah.

Singkat kata, keduanya dijadikan setan saling mengagumi satu sama lain, hingga merasakan kenikmatan dan kenyamanan dalam kebersamaan.

Ketika Barseso sedang membacakan do’a-do’a, tanpa sengaja kainnya tersingkap dan tampak sedikit aurat tubuhnya.

Karena pengaruh “hamazah” yang telah berfungsi, maka aurat gadis tersebut terasa sangat indah dan menggelorakan syahwatnya.

Setan membisikkan petunjuk teknisnya dengan berkata :  “Wahai Barseso ! gaulilah gadis ini. Kamu hanya berdua di sini dan tidak akan ada yang melihat. Nanti engkau bisa bertaubat. Lagi pula bukankah selama ini engkau belum pernah melakukan maksiat sedikitpun kepada Allah Swt. Tidak ada salahnya jika melakukan dosa sekali ini saja, karena itu belum sebanding dengan amal ibadahmu yang sudah sangat banyak”.

Luar biasa. Menjadi sangat sempurna bisikan dan rayuan setan tersebut, setelah disertai dengan alasan, jaminan dan janji-janji.

Maka terjadilah, akhrinya Barseso menggauli gadis itu.

Setelah kejadian itu, ternyata sang gadis hamil.

Hal ini membuat Barseso sangat takut dan  panik.

Ia begitu khawatir diketahui orang yang akan menyebabkan ia terhina dan  kehilangan kepercayaan sebagai ahli ibadah.

Lebih khawatir lagi jika diketahui oleh keluarga gadis itu, pembelaan apa yang bisa ia sampaikan.

Dalam suasana tersebut, setan kembali hadir dengan “hamazah”nya dan membisikkan ke dalam hati Barseso : “Celaka, tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan kehormatan dan harga dirimu, kecuali secepatnya membunuh gadis itu. Dalam suasana panik Barseso mengikuti bisikan itu, ia segera mencekik sang gadis hingga tewas, lalu menguburnya di suatu tempat. Setelah itu ia kembali beribadah sebagaimana biasa. Ketika datang utusan yang menanyakan keadaan sang gadis. Ia berkata bahwa si gadis telah dikuasai setan dania  tidak sanggup melawannya”.

Dalam suasana berduka, setan membisikkan kejadian sebenarnya pada keluarga sang gadis  bahwa ia telah dizinai, lalu hamil dan dibunuh oleh Barseso.

Melalui mimpi setan juga memberitahu bahwa mayat gadis itu dikubur di suatu tempat. Semula mereka tidak percaya, karena keshalihan Barseso.

Namun, karena penasaran, merekapun berangkat menuju tempat yang ditunjuk setan dan benar adanya, mereka mendapati mayat sang adik dalam keadaan hamil dan sangat mengenaskan.

Akhirnya, Barseso dilaporkan ke kerajaan dan ia menolak semua tuduhan.

Namun interogasi pengadilan berhasil mengungkap kasus dan Barseso mengakui kesalahannya. Ia dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati.

Barseso segerea dieksekusi di tiang salib.

Lalu setan datang menawarkan bantuan untuk sampai pada misi utamanya.

Kondisi terdesak bisa membuat orang melakukan apapun.

“Wahai Berseso, apakah engkau ingin kulepaskan dari hukuman ini dan selamat dari kematian?”. Bisik setan.

Barseso menganggukkan kepala tanda setuju.

Dalam suasana yang sangat genting itu berlangsung tawar menawar antara setan dan Barseso.

Satu pihak ingin selamat dari kematian dan pihak lain membawa misi penyesatan.

Setan berujar : “Jika  engkau ingin selamat, maka sujudlah kepadaku, aku akan melepaskanmu”.

“Bagaimana mungkin aku bersujud, sedangkan aku tergantung di tiang salib.

Lepaskan aku terlebih dahulu, baru aku akan bersujud kepadamu”, kata Barseso.

Setan telah menguasainya, Mau tidak mau ia harus nurut pada kemauan setan. ]

Setan berkata : “Cukup tundukkan kepalamu, sebagai isyarat sujud kepadaku”. Demi mencari selamat, Barseso-pun akhirnya menuruti petunjuk setan dan ia bersujud dengan menundukkan kepala di hadapannya.

Kini Barseso sudah benar-benar tenggelam dalam kesesatannya dan setan telah berhasil menjalankan tugas sampai pada titik akhir tujuannya, mengkufurkan Barseso.

Setelah setan berhasil membuat Barseso sujud kepadanya, ia berkata : “Wahai Barseso, inilah sesungguhnya yang kukehendaki darimu. Akhirnya engkau sujud dan menjadi pengikutku, lalu engkau kafir terhadap Tuhanmu. Aku berlepas diri dari perbuatanmu dan aku takut terhadap Tuhan semesta alam” (Qs. al-Hasyr : 16).

Kisah ini berakhir dengan matinya Barseso di tiang salib dalam keadaan kufur penuh dosa, sebelum ia sempat bertaubat kepada Allah Swt.

Setan tidak mengenal kata berhenti, sebelum tercapai tujuan utamanya.

Satu-satunya benteng yang tidak bisa ditembus setan adalah ikhlash dalam beramal (Qs. al-Hijr : 40).

Lalu keuntungan apa yang didapat setan dari setiap misinya?.

Tidak ada, selain menambah teman sebanyak-banyaknya untuk menghuni neraka nantinya. Wallahu a’lam !