16 Juni 2024

Pergantian Tahun, Menatap Hari Esok Lebih Baik

TIDAK terasa, beberapa hari ini  ke dapan kita sudah berada di penghujung tahun 2023, dan Insyaa Allah kita akan segera memasuki tahun baru 2024. Perlu kita sadari bahwa silih bergantinya waktu dan semakin bertambahnya usia kita sebenarnya menandakan bahwa jatah umur kita semakin sedikit dan ajal kita semakin dekat. Pada hakikatnya tidak ada pertambahan umur dalam kehidupan umat manusia, justru jatah umur kita semakin berkurang, namun  tidak semua menyadarinya.

Terkait dengan itu, Basyr bin AlHarits rahimahullah pernah berkata:“Aku pernah melewati seorang ahli ibadah di daerah Bashrah dan ia sedang menangis. Aku bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena umur yang luput dariku dan atas hari yang telah berlalu. Ajalku ternyata semakin dekat, tetapi belum jelas juga amalku.” (Mujalasah wa Jawahir Al-‘Ilm, 1:46).

Berkaitan dengan itu Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadikan masa lalu sebagai ‘pelajaran’ untuk melakukan perbaikan di hari esok.

Allah SWT mengingatkan dalam firmannya yang artinya  :   “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (di waktu yang telah berlalu) untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS Al-Hasyr ayat 18) .

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim menafsirkan ayat diatas “Lihatlah amalan shalih apa yang telah kalian persiapkan sebagai bekal untuk hari akhirat dan menghadap kepada Allah SWT”. Hari esok adalah kehidupan akhirat, dunia hanyalah waktu sementara. Dunia adalah ladang tempat menyemai amal kebaikan yang hasilnya kelak akan dipetik di kampung akhirat.

Sebagai mengigatkan, hidup kita di dunia hanya bersifat sementara, maka kita diperintahkan untuk pandai-pandai memanfaatkan dan mengatur waktu ada untuk melakukan sesuatu yang positif  namun bernilai ibadah untuk memberatkan timbangan pahala di hari akhir nanti. Sebab ajal adalah sesuatu yang pasti namun kita tidak mengetahui kapan datangnya. Dan hari esok kehidupan akherat sangat tergantung pada yang kita lakukan hari ini di kehidupan dunia.

Dalam satu hadits Rasulullah SAW bersabda: ٍ ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut menjelaskan kepada kita bahwa hidup di dunia hanya sementara digambarkan sebagaimana seorang musafir 6 (orang yang melakukan perjalanan) yang hanya numpang lewat saja, hanya sebentar dan akan segera kembali pulang.

Seketika mendapat nasehat tersebut, Abdullah Ibn Umar r.a. berkata: ْ“Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari)

Hendaknya dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini,  kita selalu berusaha segera melakukan pekerjaan terbaik sesuai dengan ajaran Islam, bukan yang terbaik manurut kita masing-masing. Di balik itu kita jangan suka menunda-nunda hingga esok hari melakukan sesuatu yang bernilai baik. Sebab belum tentu kita masih hidup atau memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya di hari esok.

Betapa banyak manusia yang lalai akan kehidupan akhirat dengan tidak mengutamakan dan focus beribadah tanpa meninggal duniawi. Mereka hanya sibuk mengejar dunia dengan materinya dengan berbagai cara, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Mereka beraktifitas di dunia dengan nuansa Islami. Mereka tidak menjadikan Islam sebagai pemandu kehidupan yang berlandaskan Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan mereka  tidak mau belajar agama. Dan lebih parahnya lagi lupa akan kewajiban shalat 5 waktu dan kewajiban lainnya. Allah SWT berfirman : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashash: 77).

Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah jadikan akhirat sebagai tujuan dari perjalanan kehidupan di dunia ini. Begitu pula jika kita diberi karunia materi dan rezeki yang melimpah, jadikanlah itu sebagaimana perantara menuju kebaikan dan bekal menuju alam akhirat.

Nabi SAW bersabda; “Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan 8 keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi)

Islam mengajarkan betapa pentingnya waktu, sehingga banyak surat dalam Al-Qur’an diawali dengan mengisyaratkan pentingnya waktu untuk menjadi perhatian manusia, misalnya dengan ungkapan: “wal ‘ashr, wadhdhuha, wal- fajr, wal laili” dan sebagainya. Jangan sampai kita merugi karena mengabaikan waktu. Kita harus menjadikan waktu sebagai sarana meraih kesuksesan, dengan memanfaatkannya untuk beramal shaleh, memacu prestasi diri, baik untuk kehidupan duniawi ataupun ukhrawi.

Dan yang sangat penting diperhatikan sebagai umat Muhammad SAW bahwa tradisi merayakan pergantian tahun baru Masehi tidak ada dalam Islam. Sebab, yang dirayakan saat pergantian malam tahun baru adalah tradisi agama lain. Sementara mereka punya tradisi demikian justru lebih banyak berdiam diri di rumah mereka.

Setuju atau tidak, masalah merayakan pergantian tahun  baru masehi masih pro dan kontra. Bahkan berkaitan dengan  perayaan tahun ada empat negara Islam atau negara dengan penduduk mayoritas muslim yang melarang perayaan tahun baru.

Alasan larangan tersebut  karena perayaan tahun baru tak ada dalam tradisi Islam. Selain itu, perayaan tahun baru yang cenderung hura-hura juga dilarang agama. Salah satunya, ternyata negara tetangga, yakni Brunei Darussalam.

Dalam kondisi bangsa seperti saat ini, sudah saatnya kita kembali ke ajaran Muhammad dengan selalu berpegang teguh pada  dua wasiat Nabi Muhammad SAW yakni; Al Quran dan sunnah Rasulullah. Saatnya melakukan evaluasi sudah seberapa besar nilai ketaqwaan kita dalam menghadapi masa depan yang semakin suram dalam kehidupan keber-agama-an.

Tantangan Umat Islam semakin berat, godaan tidak hanya dari syetan-syetan di dunia maya, tapi di dunia nyata sehingga tidak sedikit yang terperosok ke pola kehidupan yang tidak islami.

Akhirnya, marilah kita menghargai waktu kita yang terbatas ini dengan iman, ilmu dan 9 amal yang terbaik, Tatkala Allah memanggil kita, kira-kira bekal apa yang sudah kita persiapkan? Bagaimana kita akan menjawab setiap pertanyaan dari semua yang pernah kita lakukan dalam hidup. Semoga tahun yang telah berlalu menjadi cambuk bagi kita untuk berbenah dari berbagai kekurangan, dan Allah SWT memberikan pertolongan dan memudahkan langkah kita untuk memperbaiki diri di tahun yang baru nanti.