16 Juni 2024

Cerdas Jurnalistik di Era Digital

Oleh : Drs H Iklim Cahya, MM (Wartawan/Pemerhati Politik dan Sosial tinggal di Indralaya Ogan Ilir Sumsel)

SEJAK era digital memborbardir dunia, informasi membanjir. Dunia terasa makin sempit dan dekat, bila dilihat dari dunia maya. Informasi yang terjadi di belahan dunia yang satu hanya dalam hitungan menit bahkan detik, sudah dapat diketahui oleh masyarakat di belahan dunia yang lain.

Tentu disatu sisi hal ini sangat menguntungkan, karena informasi dengan sangat cepat menyebar dan diketahui. Tapi disisi lain juga dapat merugikan, karena dengan banjirnya informasi, maka informasi sering dibelokkan menjadi berita bohong (hoax). Apalagi saat ini kanal informasi bukan hanya milik media mainstream tapi juga milik media sosial (Medsos). Bahkan informasi yang disebar melalui medsos, apakah itu FB, IG, WA, Twitter, Tiktok, dan lain-lain, siapapun bisa melakukannya. Tanpa perlu konfirmasi, dan memenuhi azas keberimbangan, langsung bisa di upload. Karenanya saat ini banyak berita viral, karena faktor medsos.

Dalam bermedsos yang perlu diperhatikan adalah sikap mawas diri dan sikap selektif diri (self…. Apakah menurut pertimbangan kita, sebuah informasi tersebut masuk akal, logis, tidak bakal memperkeruh suasana, atau menimbulkan masalah baru. Bila tidak ada dampak buruk dan kita yakin akan kebenarannya, maka tidak salahnya kalau informasi tersebut disebar atau di-share. Namun sebaliknya bila informasi tersebut terkesan tidak logis dan dapat memperkeruh suasana, maka sebaiknya disimpan saja, jangan di upload/share.

Tapi sikap inilah yang hari-hari ini yang menjadi tantangan kita bersama. Tidak banyak yang memiliki pertimbangan matang, sehingga informasi apapun yang masuk, langsung di-share.

Kondisi ini juga membuat orang/pembaca sulit memastikan apakah informasi tersebut mengandung kebenaran atau tidak. Apalagi kalau yang menyangkut kepentingan yang berbeda antara dua atau beberapa pihak. Maka akan terjadi saling bantah, dengan cara saling merekayasa informasi. Dalam kondisi seperti ini terkadang siapa yang gencar menyebar informasi, seringkali diuntungkan kendati informasi tersebut bernuansa hoax.

Tapi ada juga yang menguji berita di medsos tersebut hoax atau tidak, mereka menunggu apakah informasi tersebut juga dimuat/ditayangkan di media konvensional seperti surat kabar, televisi, dan radio. Bila berita-berita ini juga disiarkan di media mainstream maka tingkat akurasi kebenarannya layak dipercaya. Tapi cilakanya media-media mainstream banyak juga yang punya kepentingan, karena pemilik media banyak yang aktif di dunia politik.

LEBIH TERPERCAYA
Kalau diperbandingkan antara informasi media mainstream dengan media sosial, maka dipastikan tingkat kepercayaan kebenarannya lebih tinggi berita yang ditayangkan/dimuat oleh media meansteam. Sepanjang berita-berita tersebut ditulis dengan asas-asas penulisan yang benar.

Para wartawan /jurnalis/reporter di media meanstream, memang dididik dan dilatih sebagai wartawan, kalau “pemain” medsos siapapun bisa asal punya handphone android.

Wartawan dalam menulis wajib mempedomani undang-undang pers, kode etik jurnalistik, dan asas-asas penulisan yang benar….mulai dari terpenuhi unsur 5W 1H, ada data dan fakta, dilakukan chek and rechek/konfirmasi, serta ditulis secara cover both side (berimbang). Berita-berita yang tidak memenuhi asas-asas tersebut di atas, biasanya tidak bisa dimuat.

Tapi problem saat ini dengan banyak hadirnya media-media online, apalagi kalau owner dan wartawannya bukan dari wartawan karier, maka banyak juga yang membuat berita tidak standar, terutama kebanyakan tidak terpenuhi asas cover both side, dan juga mencampur-adukan fakta dan opini.

Kondisi ini menjadi keluhan sekaligus tantangan dunia pers. Tapi menertibkan praktik-praktik seperti ini juga tidak mudah kondisi sekarang ini. Apalagi organisasi wartawan cukup banyak, yang terkadang beda persepsi dalam menjaga marwah profesi. Bahkan ada yang cuek dengan banyaknya praktek-praktek menyimpang di lapangan.