26 Juni 2026

Resmikan SHI, Herman Deru Tekankan Pelayanan Kesehatan Humanis dan Berdaya Saing Global  

Palembang|KoranRakyat.co.id –— Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru menekankan pentingnya membangun tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga memiliki karakter pelayanan yang humanis dan mampu bersaing di tingkat global.

Hal tersebut disampaikannya saat meresmikan Sriwijaya Health Institute (SHI) melalui Grand Opening dan Seminar Nasional yang digelar di Ballroom Hotel Harper Palembang, Rabu (24/6/2026).

Dalam sambutannya, Herman Deru menyampaikan bahwa perkembangan dunia kesehatan menuntut hadirnya tenaga kesehatan yang terus meningkatkan kapasitas diri serta mampu mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

ist

Menurutnya, kehadiran SHI menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia kesehatan di Sumatera Selatan sekaligus mempersiapkan tenaga kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masa depan. “Kehadiran Sriwijaya Health Institute ini harus menjadi pengungkit peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Sumatera Selatan. Kita ingin tenaga kesehatan kita mampu memenuhi kebutuhan daerah sekaligus memiliki daya saing untuk berkiprah di tingkat nasional, bahkan internasional,” ujar Herman Deru.

Selain kompetensi, Herman Deru menilai aspek empati dan keramahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan. Ia mengingatkan bahwa tenaga kesehatan berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan perhatian, kenyamanan, dan ketenangan saat menjalani proses pengobatan. “Pasien yang datang ke fasilitas kesehatan tidak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi juga membutuhkan ketenangan. Karena itu, aspek keramahtamahan harus menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan,” tegasnya.

ist

Herman Deru juga mengapresiasi kontribusi tenaga kesehatan yang selama ini menjadi salah satu faktor penting keberhasilan program kesehatan di Sumatera Selatan, termasuk dalam mendukung pelayanan kesehatan dasar melalui posyandu.

Menurutnya, keberhasilan Sumsel menekan angka stunting tidak terlepas dari peran aktif tenaga kesehatan yang bekerja bersama masyarakat hingga tingkat akar rumput. “Lebih dari 6.000 posyandu aktif di Sumsel menjadi kekuatan besar dalam membangun kesehatan masyarakat. Di balik keberhasilan itu terdapat kontribusi luar biasa dari para tenaga kesehatan yang bekerja tanpa lelah,” katanya.

Lebih lanjut, Herman Deru berharap SHI dapat menjadi pusat pengembangan kapasitas tenaga kesehatan yang berkelanjutan bagi seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Ia menginginkan tenaga kesehatan dari 17 kabupaten/kota memperoleh akses yang sama terhadap berbagai program pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan kompetensi mereka.

Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan kesehatan daerah. Menurut Herman Deru, pandemi COVID-19 telah memberikan pelajaran berharga bahwa kualitas sumber daya manusia kesehatan menjadi faktor penentu dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman kesehatan di masa mendatang.

ist

Sementara itu, Direktur Sriwijaya Health Institute, Prof. Dr. dr. Yuwono, M.Biomed., menjelaskan bahwa SHI merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan resmi yang telah memperoleh rekomendasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menurutnya, SHI hadir dengan fokus utama meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini. “Kami fokus pada capacity building tenaga kesehatan. Lembaga seperti ini masih sangat terbatas di Pulau Sumatera. Saat ini baru ada di Medan, Sumatera Barat, dan kini hadir di Sumatera Selatan,” ujarnya.

Dengan hadirnya SHI, Sumatera Selatan diharapkan semakin siap menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional, adaptif, dan berdaya saing tinggi untuk mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Acara grand opening tersebut dihadiri ratusan peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari direktur rumah sakit, akademisi, fakultas kedokteran, praktisi laboratorium, organisasi profesi kesehatan, hingga tokoh masyarakat dan pemerhati kesehatan. (*)