BNPB Ingatkan Kepri, Pentingnya Konservasi untuk Tanggulangi Bencana Kekeringan

BATAM | Koranrakyat.co.id – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo, mengingatkan semua stakeholder terutama pemangku kebijakan untuk segera melakukan konservasi wilayah darat maupun pantai, yang telah banyak mengalami kerusakan akibat pembangunan.

BNPB Siap membantu menyediakan bibit pohon yang cocok untuk ditanam, guna menghindari dan mengurangi resiko korban jiwa, keitka terjadinya bencana alam besar, seperti gempa bumi, tsnumai, banjir, longsor, kekeringan dan angin puting beliung.

Pernyataan itu disampaikan Doni Monardo ketika menggelar ramah tamah dan pembekalan mitigasi bencana bagi masyrakat Kepri, di Golden Prawn, Batam Minggu (8/3) malam.

Hadir dalam acara tersebut, Danrem 033/WP Brigjen TNI Gabriel Lema, S.Sos, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kepri Syamsul Bahrum, jajaran Polda Kepri, instansi, OKP, Ormas, tokoh masyarakat, Adat, agama, pemuda dan insan pers, Manggala Agni serta relawan se-Provinsi Kepri.

Dalam ksempatan ini, Doni juga menyampaikan berbagi potensi bencana berdasarkan karakter wilayah, mitigasi serta upaya pencegahan, termasuk rencana ke depan terkait penanggulangan bencana di Indonesia.

Sebelumnya, Asisten II Syamsul Bahrum dalam sambutannya melaporkan terkait sejumlah bencana alam yang kerap terjadi di Kepri, seperti puting beliung, banjir, limbah di laut hingga krisis air. Karena itu pihaknya ingin mendapat masukan untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut kepada kepala BNPB RI.

Menanggapi hal tersebut, Doni Monardo dalam presentasinya menyampaikan, pertama-tama mengucapkan berterima kasih kepada Pemprov kepri telah mendukung pemulangan 248 WNI dari Wuhan (termasuk kru pesawat) ke Natuna, hingga mereka menjalani observasi selama 14 hari. Mereka dinyatakan sehat semuanya, serta sudha dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Begitu juga dengan proses evakuasi terhadap 188 warga Indonesia dari Kapal World Dream, ke Pulau Sebaru Kepualauan Seribu. Mereka saat ini masih menjalani observasi namun semuanya dalam keadaan sehat walafiat.

“Proses pemulangan dari kapal berjalan dengan aman. Terima kasih juga kepada masyarakat dan juga masyarakat Natuna,” ujar Doni yang sebelumnya juga sudah melihat lokasi Rumah Sakit Camp Vietnam di Kecamatan Galang, Batam bersama Panglima TNI.

Doni bercerita, pertemuan ini merupakan kali pertama dirinya datang ke Batam, setelah menjadi kepala BNPB RI. “Namun sebelum menjadi kepala BNPB RI sudah beberapa kali ke Batam,” katanya.

Ia mengungkapkan, bahwa Kepri dan Batam merupakan daerah yang jauh dari bencana, karena berada di sebuah tempat di bibir selatan Malaka dan berbatasan dengan berbagai negara, sehingga tempatnya aman. Jauh dari lempengan dan atau potensi tsunami.

Sedangkan potensi kekeringan di Batam ini akan menjadi potensi jangka panjang, karena diakibatkan dari kebakaran lahan. Ia memperkirakan akan menjadi permasalahan jika tidak segera dibenahi. Lalu ia membandingkan kondisi saat ini dengan 20 tahun lalu, maka telah terjadi perubahan vegetasi yang cukup besar.

“Ini bisa menjadi referensi ke depan, bagaimana Pemprov Kepri dan BP Batam bisa mencari solusi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, jika seandainya fungsi konservasi tidak segera dipulihkan, maka mungkin kepri, khususnya Batam akan mengalami krisis air. Kalau 20 tahun lalu masih banyak sumber-sumber air, tapi kondisi hari ini dari BP Batam juga mengatakan, krisis air sering terjadi.

“BNPB menganjurkan kepada BP Batam untuk bekerja sama untuk melakukan budidaya tanaman tertentu. Tananam ini bisa menjadi solusi jangka menengah dan jangka panjang,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, dari pengalamannya yang selama ini dilakukan, terbukti meski tanah itu tandus bila dikerjakan dengan tekun maka akan juga muncul sumber-sumber mata air. Kenapa ini bisa terjadi? Karena banyak vegetasi yang banyak menyimpan air di antaranya tanaman aren, laban, mahoni.

“Dan juga tanaman tropis lainnya. Ada tanaman yang saya kumpulkan dari Maluku namanya pohon Palaka,” ucapnya. Doni lantas menawarkan BP Batam untuk menyediakan kapal untuk menjemput bibit pohon tersebut.

Cuaca Ekstrim

Pada kesempatan ini Doni juga mengingatkan meskipun Kepri adalah daerah yang sangat aman, atau jauh dari ancaman gunung api dan gempa, Namun tetap harus waspada. Mengingat sejumlah ancaman pada periode mendatang adalah ancaman cuaca ektrim.

Kondisi cuaca ekstrim ini, sebenarnya bisa diprediksi datangnya kapan melalui BMKG. Karena itu perlu upaya pengendalian dengan memberikan pemahaman tentang apa yang harus dilakukan kepada masyarakat. Salah satu upaya adalah, mengenali, mencegah, dan menangani. ”Seperti bencana puting beliung, selalu ada korban jiwa dan kerusakan bangunan,” ujar Doni.

Demikian pula dengan bencana geologi, seperti gempa bumi dan tsunami. Ancamam geologi ini jarang terjadi dan tidak bisa dipredisksi terjadinya kapan, dan secara kualitas korbannya sangat banyak.

Indonesia adalah salah satu negara yang paling seirng mengalami gempa dan tsunami, dengan tingkat korban jiwa tertinggi. Peristiwa Aceh lebih dari 200 ribu orang meninggal akbiat tsunami. Ini peringakat kedua setelah gempa di Haiti.

Gempa dan tsunamai, jelas Doni, adalah perisitiwa berulang. Data riset mengenai Tsunami di Aceh, ternyata bukan pertama terjadi tapi berulang kalim sejak 700 tahun silam, 350 tahun silam dan 200 tahun silan, hingga yang terkahir tahun 2004 silam.

”Artinya, yang paling dasyat telah terjadi gempa pada ribuan tahun lalu. Kalau saja waktu itu rakyat kita semua tahu tentang bagaimana menghadapi gempa yang besar yang dapat menimbulkan tsunami, persitiwa 2004 Aceh itu, tidak menimbulkan korban begitu banyak,” ujarnya.

Doni juga menganjurkan pengetahuan soal gempa dan tsunami ini tidak boleh lagi diambaikan. Bahkan harus dijadikan mata pelajaran di sekolah, termasuk di perguruan tinggi. Karena dampaknya sangat dasyat.

Kecepatan tsunama sama dengan kecepatan pesawat. Seperti gempa Aceh, tidah terasa di Srilangka. Namun dalam waktu 3 jam tsunami sampai daerah pesisir pantai Srilangka. Padahal rakyat di Srilangka tidak merasakan adanya gempa. Begitu juga di Pataya, Vietnam, dampak gempa di Aceh itu menumbulkan tsunami yang hanya dalam hitungan 1,5 jam, tiba di pantai Pataya tersebut.

Di penghujung sambutannya, Doni kembali memberikan solusi terbaik yang harus dilakukan, adalah mitigasi menanam vegetasi termasuk menjaga mangrove atau bakau di pantai. Supaya wilayah bagian dalam terlindungi. Seperti peristiwa pataya, ada vegetasi pohon-pohon, sehingga banyak yang selamat.

Kepualauan Riau juga memiliki banyak wilayah pantai. Gempa yang berptensi tsunami bisa saja terjadi dalam waktu tertentu yang tidak terduga. Saatnya harus diantisipasi, demi keselamatan bersama sampai ke anak cucu.

Doni juga menyarankan prilaku memperhatikan lingkungan harus dimulai dari keluarga, terutama terhadap ancaman bahaya geologi ini. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *