Perang Dagang, Vietnam Untung dari Lobster, RI Keok Lagi

example banner

JAKARTA | Koranrakyat.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum lama ini ini mengungkapkan kejengkelannya karena Indonesia kalah dari Vietnam untuk menarik kesempatan di balik perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Siap-siap, Indonesia bisa kalah memanfaatkan peluang lobster di balik perang dagang.

Sebagaimana diketahui, perusahaan sekuritas Jepang Nomura melaporkan bahwa sebanyak 56 perusahaan berbendera China merelokasi pabriknya ke Asia Tenggara guna menghindari pengenaan tarif sepihak dari AS atas produknya.

Namun, dari 56 perusahaan China yang relokasi itu, mayoritas memilih Vietnam yakni mencapai 26 perusahaan, 11 lainnya ke Taiwan, dan delapan perusahaan ke Thailand. Indonesia dan India masing-masing hanya mendapatkan dua dan tiga perusahaan.

Mengutip sumber berbeda, yakni Bank Dunia, Jokowi mengangkat persoalan tersebut ketika membuka rapat terbatas (ratas) di Kantor Presiden yang mengagendakan tentang antisipasi perkembangan perekonomian dunia.

“Catatan yang kemarin disampaikan Bank Dunia kepada kita, dua bulan yang lalu, ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar (di relokasi ke negara lain)… Dari 33 tadi, sekali lagi, 33 perusahaan di Tiongkok yang keluar, kita ulang: 23 ke Vietnam, 10 ke Kamboja, Thailand, dan Malaysia, tidak ada yang ke Indonesia,” kata Jokowi, Rabu (4/9/2019)  lalu.

Kini peluang serupa terbuka lebar terkait dengan industri lobster, dengan arah yang berbeda. Perang dagang AS-China memaksa Negeri Tirai Bambu tersebut menerapkan bea impor tambahan sebesar 25% terhadap produk lobster AS.

Akibatnya, lobster AS yang sebelumnya dihargai US$ 8 per pon pun melonjak menjadi US$ 10 per pon bagi restoran seafood di Negeri Panda. Ini membuka peluang bagi produsen lobster dunia seperti Kanada, Australia, Vietnam dan juga Indonesia untuk mengisi ceruk pasar lobster China.

Namun kali ini, pemerintahan Jokowi cenderung membiarkan peluang tersebut hilang, setelah Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo menyatakan bakal mencabut larangan ekspor bibit lobster. Kebijakan politisi Partai Gerindra ini ditentang banyak pihak, salah satunya mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti.

Sebagai negeri maritim yang tengah berupaya membangun diri menjadi poros maritim, Indonesia sejauh ini masih mengandalkan ekspor lobster dari tangkapan nelayan. Nilai ekspornya mencapai US$ 30 juta menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) per 2018.

Bangga? Nanti dulu. Vietnam melaporkan bahwa nilai ekspor lobsternya bakal mencapai US$145 juta pada akhir tahun ini, nyaris lima kali lipat dari capaian Indonesia tersebut di atas. Keunggulan budidaya lobster yang telah mereka mulai sejak tahun 1992 menjadi kunci utamanya.

Keunggulan Kompetitif

Kekalahan Indonesia di pasar lobster ini tidak lain karena produksi lobsternya masih berbasis tangkapan yang volumenya sangat fluktuatif. Sebagaimana diketahui, nelayan beroperasi mengikuti kondisi cuaca dan hasil tangkapan lobster sangat dipengaruhi faktor alam.

Di pusat tangkapan lobster AS, Maine, volume tangkapan lobster tahun lalu dilaporkan anjlok 16,5% (tahunan) menjadi 111 juta pon. The New York Times menuliskan bahwa pemicunya adalah penghangatan air laut yang membuat populasi lobster di laut menurun.

Inilah mengapa budidaya lobster menjadi kunci di tengah peluang pasar lobster China. Laporan riset berjudul “Tropical Spiny Lobster Aquaculture Development in Vietnam, Indonesia and Australia” (2010) menyebutkan keunggulan penggemukan lobster Vietnam memungkinkan mereka menggarap pasar premium di China yakni lobster berbobot di atas 1 kilogram.

Sebaliknya, lobster alam yang ditangkap dan diekspor Indonesia, utamanya di perairan Lombok, hanya berbobot antara 150 gram-300 gram dan hanya bisa menggarap pasar remah-remah alias kurang bersaing dibandingkan lobster Kanada dan AS.

Namun, budidaya lobster Vietnam memiliki kelemahan karena mereka mengandalkan bibitnya dari Indonesia. Maklum saja, lobster sampai sekarang sulit untuk dipijahkan di luar habitatnya. Itulah mengapa mereka harus melakukan apapun untuk mendapat bibit lobster dari negara lain seperti Indonesia.

Dan Indonesia kali ini bakal mengalah dan melepas peluang lobster di pasar China, karena bakal membuka ekspor bibit lobster. Kebijakan ini sama artinya mendukung industri akuakultur lobster di negeri Ho tersebut dan melibas peluang budidaya dan ekspor lobster nasional.

Kebijakan ini tentu bertentangan dengan jargon Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang selama ini dikumandangkan oleh Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto, yaknni mengenai mendudukkan kepentingan nasional di atas kepentingan asing.

Apakah Pak Jokowi akan mengemukakan kejengkelannya lagi ketika lobster Vietnam melibas lobster Indonesia, thanks to kebijakan Menteri Edhy? Ataukah sebaliknya lobster kita akan berjaya di pasar China berkat kebijakan berani Pak Edhy? (red)

sumber: cnbcindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *