4 Februari 2023

Sekjen AISKI Polisikan Akun Facebook Mandala Pancur

TANJUNGPINANG | Koranralyat.co.id  – Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Ady Indra Pawennari didampingi dua orang pengacara muda dari kantor Advokat dan Konsultan Hukum MI Kelana, SH dan Associates, Mohammad Indra Kelana, SH dan Syukrianto, SH mendatangi Mapolres Lingga di Dabo Singkep, Jumat (28/12/2018).

Ia melaporkan akun Facebook Mandala Pancur yang dianggap menyebarkan berita bohong yang mengandung fitnah dan pencemaran nama baik dirinya dan perusahaannya PT. Multi Coco Indonesia. Laporan Ady ke Polres Lingga tersebut tercatat dengan Nomor : LP – B/ 18/ XII/ 2018/ Kepri/ SKPT – Res Lingga, tanggal 28 Desember 2018, ditandatangani Kepala SPKT III Polres Lingga, Ipda Agus Marianto.

“Akun Facebook Mandala Pancur ini sudah menyerang pribadi dan perusahaan saya PT. Multi Coco Indonesia secara masif sejak tahun 2017 hingga 25 Desember 2018. Awalnya, saya tidak menanggapi, tapi karena penyebaran berita bohong dan fitnah ini terus dilakukan secara berulang, akhirnya saya dan pengacara saya memutuskan menempuh hukum,” ungkap Ady.

Pria penerima anugerah Pahlawan Inovasi Teknologi Tahun 2015 ini, mengaku tidak mengetahui motif pemilik akun Facebook Mandala Pancur ini selalu menyerang pribadi dan perusahaannya PT. Multi Coco Indonesia terkait proyek percontohan pencetakan sawah di Desa Sungai Besar, Lingga Utara.

“Kalau soal motif, biarlah penyidik yang mengungkapnya. Jujur, saya membuat percontohan sawah di Desa Sungai Besar itu, murni kegiatan pribadi. Bukan atas nama perusahaan. Lagi pula masyarakat pemilik tanah hingga aparat pemerintahan desa Sungai Besar sangat mendukung dan senang tanahnya saya bangunkan jadi sawah. Toh, hasilnya juga tidak pernah saya ambil. Semuanya untuk petani dan pemilik sawah. Makanya, saya heran koq ada yang sewot?” katanya.

Menurut Ady, luas lahan yang dibangun jadi sawah di Desa Sungai Besar dengan menggunakan uang pribadinya bersama Bupati Lingga, Alias Wello itu, diperkirakan mencapai 50 hektar. Kegiatan pencetakan sawah yang dimulai pada tanggal 1 Maret 2016 tersebut, sukses melakukan panen perdana bersama Gubernur Kepri, Nurdin Basirun dan Bupati Lingga, Alias Wello pada tanggal 12 Juli 2016.

“Katanya, sawah yang saya bangun itu tidak mendatangkan manfaat dan tidak membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Jadi, yang bekerja membajak, menanam dan panen padi di sawah itu siapa? Saya juga dituduh terima bantuan dari pusat. Silakan buktikan. Terus, saya dianggap gagal panen perdana dalam waktu 120 hari.Coba Anda hitung sendiri, penanaman dilakukan tanggal 24 Maret 2016, kemudian panen tanggal 12 Juli 2016. Berarti hanya butuh waktu 110 hari, sudah panen,” bebernya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Ady, Mohammad Indra Kelana dan Syukrianto menanmbahkan, kasus pelaporan akun Facebook Mandala Pancur ini sebagai bentuk pendidikan hukum bagi masyarakat pengguna media sosial agar lebih berhati-hati dalam memposting atau mengunggah status atau komentar.

Kebebasan mengeluarkan pendapat di media sosial, jelas Indra, tak boleh kebablasan karena ada rambu-rambu hukum dalam Undang-Undang Nomor : 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor : 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang harus dipatuhi.

“Klien saya ini sudah cukup sabar, selama 2 tahun difitnah dan dicemarkan nama baiknya, tapi masih tetap diam. Bahkan, pada unggahan terakhir akun Mandala Pancur tanggal 25 Desember 2018, klien saya masih berharap ada klarifikasi dengan memberi tanggapan apa ini serius atau bercanda? Tapi pemilik akun Mandala Pancur ini masih tetap ngotot dengan status yang ditulisnya. Karena itulah, kami menempuh jalur hukum,” tegasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas