2 September 2026

Kopi, Gunung Bismo hingga Golek Tholo, Potensi Desa Slukatan Wonosobo Terus Digali

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Menikmati kopi di tengah suasana pedesaan menjadi salah satu pengalaman yang ditawarkan Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Namun, potensi desa ini tidak berhenti pada secangkir kopi.

Di kawasan Sumber Mata Air Mudal, berbagai potensi lokal mulai dirangkai menjadi bagian dari pengalaman wisata. Mulai dari komoditas kopi, wisata alam, tradisi budaya, hingga kesempatan tinggal bersama warga melalui konsep live in.

Gambaran tersebut terlihat dalam kegiatan Sarasehan Kopi Slukatan dalam rangka Slametan Pascapanen Penggiat Kopi Slukatan, Senin (31/8/2026). Kegiatan yang digelar sejak pagi hingga sore itu mempertemukan penggiat kopi, masyarakat, pengelola desa wisata, serta wisatawan dalam suasana yang lebih informal.

Kopi lokal disajikan secara gratis kepada pengunjung. Di saat yang sama, interaksi antara pengunjung dan masyarakat menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, yang hadir dalam kegiatan tersebut melihat pola seperti ini sebagai salah satu cara untuk membangun karakter desa wisata.

“Kegiatan seperti ini sangat positif. Kopi bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang cerita petani, alam, dan masyarakat di dalamnya. Ketika dikemas menjadi bagian dari aktivitas wisata, tentu dapat memberikan pengalaman yang menarik bagi wisatawan,” ujar Fahmi.

Fahmi hadir bersama Kepala UPTD Objek Wisata serta Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Disparbud Wonosobo. Selain menikmati kopi, ia juga berdialog dengan masyarakat dan pengelola desa wisata mengenai potensi yang masih dapat dikembangkan.

Salah satu kekuatan Slukatan berada pada wisata alam. Sumber Mata Air Mudal menjadi salah satu titik yang dikembangkan dalam paket wisata desa. Selain itu, terdapat sejumlah potensi alam lain, termasuk curug yang hingga kini belum banyak dikenal wisatawan.

Potensi wisata alam tersebut juga terhubung dengan keberadaan Basecamp Pendakian Gunung Bismo via Silandak. Jalur pendakian ini menjadi salah satu daya tarik wisata di wilayah Desa Slukatan yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan, khususnya pencinta aktivitas alam.

Sejak 2019 hingga sekarang, lebih dari 3.000 pengunjung tercatat telah datang ke Basecamp Gunung Bismo via Silandak. Pada tahun pertama setelah diresmikan, jumlah pengunjung bahkan mencapai lebih dari 1.000 orang dalam setahun.

Jalur pendakian tersebut memiliki karakter medan yang cukup menantang. Pendaki berpengalaman dapat menempuh perjalanan sekitar dua jam, sedangkan pendaki pemula membutuhkan waktu sekitar empat jam.

Sepanjang perjalanan, pendaki dapat menikmati suasana hutan yang masih alami, termasuk kawasan yang ditumbuhi pakis dan tanaman kantong semar. Masyarakat setempat juga menyediakan jasa porter untuk membantu kebutuhan pendakian.

Keberadaan jalur pendakian tersebut menambah pilihan aktivitas bagi wisatawan yang berkunjung ke Slukatan. Pengalaman menikmati kopi dan kehidupan pedesaan dapat dipadukan dengan aktivitas menjelajah alam di kawasan Gunung Bismo.

Pengembangan wisata alam tidak berdiri sendiri. Di Desa Slukatan, potensi tersebut dapat dipadukan dengan aktivitas lain yang sudah dimiliki masyarakat.

Di sisi budaya, misalnya, masyarakat mulai menghidupkan kembali Golek Tholo. Tradisi tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi mulai diperkenalkan sebagai bagian dari paket wisata edukasi.

Wisatawan dapat mengenal Golek Tholo secara lebih dekat sekaligus memahami cerita dan nilai yang melekat di dalam tradisi tersebut.

“Ini yang menarik, bagaimana potensi budaya yang ada tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikemas menjadi pengalaman edukasi bagi wisatawan. Golek Tholo bisa menjadi bagian dari cerita Desa Wisata Slukatan dan dikenalkan kepada generasi muda maupun wisatawan,” jelas Fahmi.

Sementara itu, potensi alam lainnya berupa curug juga mendapat perhatian dalam kunjungan Disparbud Wonosobo. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi serta kemungkinan pengembangannya sebagai alternatif daya tarik wisata baru.

Fahmi mengatakan pengembangan potensi alam perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keselamatan, kelestarian lingkungan, aksesibilitas, kesiapan masyarakat, serta keberlanjutan pengelolaannya.

Bagi pengelola Desa Wisata Slukatan, berbagai potensi tersebut merupakan bagian dari upaya mempertemukan kekuatan yang tersebar di tiga dusun, yakni Slukatan, Bismo, dan Silandak.

Pengelola Desa Wisata Slukatan, Ahmad Hafid, mengatakan pengembangan wisata diarahkan agar masyarakat menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas yang ditawarkan kepada wisatawan.

Tidak hanya melalui produk lokal, keterlibatan masyarakat juga diwujudkan melalui penyediaan homestay dengan konsep live in. Wisatawan dari luar daerah dapat tinggal di rumah warga dan merasakan langsung suasana serta aktivitas keseharian masyarakat.

Dengan pola tersebut, kunjungan wisata tidak hanya berorientasi pada melihat objek. Wisatawan dapat menikmati kopi, mengenal budaya, menjelajahi alam, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat.

Fahmi mengingatkan agar pengembangan tersebut tidak berhenti ketika kegiatan atau event selesai digelar. Menurutnya, keberlanjutan pengelolaan menjadi bagian penting agar potensi yang dimiliki desa benar-benar memberikan dampak ekonomi.

“Kami memberikan apresiasi sekaligus semangat kepada pengelola desa wisata, masyarakat, dan para penggiat kopi Slukatan. Terus dikembangkan, terus berinovasi dan dikemas dengan baik. Jangan berhenti pada event-nya saja, tetapi bagaimana potensi yang ada bisa berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Kehadiran kopi dalam pengembangan wisata Slukatan menjadi salah satu bagian dari rangkaian tersebut. Produk kopi lokal dapat dikenalkan bersamaan dengan cerita mengenai petani, lingkungan tempat kopi tumbuh, serta kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem desa.

Sementara wisata alam seperti Gunung Bismo dan curug memberi ruang bagi wisatawan untuk menikmati sisi lain Slukatan. Di saat yang sama, Golek Tholo menghadirkan pengalaman budaya, sedangkan live in memungkinkan wisatawan merasakan kehidupan masyarakat secara langsung.

Rangkaian potensi tersebut menjadi modal bagi Desa Slukatan untuk membangun identitas wisatanya sendiri. Bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi ruang untuk menikmati alam, mengenal budaya, mencicipi produk lokal, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo mendorong agar pengembangan tersebut terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, pengelola desa wisata, masyarakat, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, dan berbagai pihak terkait.

Dari kopi yang diseduh di Sumber Mata Air Mudal, jalur pendakian Gunung Bismo via Silandak, tradisi Golek Tholo, hingga kehidupan warga yang dapat dirasakan melalui live in, Slukatan memiliki beragam potensi yang dapat dirangkai menjadi pengalaman wisata yang khas.

Informasi mengenai paket wisata, homestay, dan berbagai kegiatan Desa Wisata Slukatan dapat diperoleh melalui akun Instagram dan TikTok @desawisataslukatan. (Diskominfo Wonosobo/Aris)