4 November 2026

Eep Jamaludin Dukung Program MBG, Dorong Warga Lokal Kelola Dapur Bergizi

Bandung | KoranRakyat.co.id — Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Bandung sekaligus Ketua Fraksi PAN DPRD Kabupaten Bandung, H. Eep Jamaludin Sukmana, S.E., menyatakan dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program strategis nasional pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto.

Eep menilai MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat, khususnya anak sekolah dan kelompok rentan. Menurutnya, program tersebut juga berperan dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan unggul sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.

Hal itu disampaikan Eep seusai kegiatan di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bandung, Soreang.

“PAN Kabupaten Bandung mendukung penuh program strategis nasional Makan Bergizi Gratis. Program ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa,” ujar Eep.

Ia mengatakan, salah satu tujuan utama MBG adalah meningkatkan kualitas gizi sekaligus menekan angka stunting dan malnutrisi, terutama pada kelompok rentan seperti balita, anak usia sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Menurut Eep, kecukupan nutrisi juga berkaitan dengan kualitas pendidikan. Asupan makanan sehat dan bergizi diharapkan membuat siswa lebih fokus mengikuti pembelajaran, mengurangi ketidakhadiran, serta meningkatkan partisipasi dan kualitas pendidikan.

“Anak-anak yang sehat dan kebutuhan gizinya terpenuhi tentu memiliki peluang lebih besar untuk belajar dengan baik. Karena itu, program ini harus benar-benar dijalankan secara serius dan tepat sasaran,” katanya.

Di sisi lain, Eep mendorong agar pelaksanaan MBG turut memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat daerah. Ia meminta pengelolaan dapur MBG melibatkan masyarakat setempat, termasuk tenaga kerja, petani, peternak, pelaku UMKM, dan penyedia bahan pangan.

Kebutuhan beras, sayuran, telur, ayam, ikan, serta bahan pangan lainnya dinilai dapat membuka pasar bagi petani, peternak, pedagang sembako, dan pelaku usaha kecil.

“Dapur MBG ini jangan hanya dilihat sebagai tempat memasak dan menyediakan makanan. Kalau dikelola dengan baik, ini bisa menjadi penggerak ekonomi rakyat,” tegasnya.

Eep juga meminta pengelolaan dapur MBG diserahkan kepada pihak yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. Ia secara khusus mendorong warga lokal mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam pengelolaan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat sekitar.

“Saya berharap orang-orang yang mengelola dapur MBG adalah orang yang jujur dan memiliki komitmen. Sebisa mungkin warga setempat harus diberikan kesempatan untuk terlibat dan mengelola,” ujarnya.

Menurut Eep, keterlibatan masyarakat dapat dilakukan secara swadaya sesuai kemampuan, dengan tetap mengikuti ketentuan dan standar yang ditetapkan.

Ia menyebut pola tersebut telah mulai berjalan di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung, terutama di kawasan Ciwidey dan sekitarnya.

“Cara seperti ini sudah dilakukan dan berjalan dengan baik di wilayah Ciwidey dan sekitarnya. Masyarakat bisa ikut terlibat dan merasakan manfaat ekonominya,” tandas Eep.

Selain mendorong aktivitas ekonomi, Eep menyebut dapur MBG berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan. Satu dapur, kata dia, dapat menyerap belasan tenaga kerja untuk pengolahan makanan, distribusi, administrasi, hingga tenaga ahli gizi.

“Kalau di wilayah tersebut tersedia tenaga ahli gizi dan sumber daya manusia yang memenuhi kualifikasi, tentu mereka juga harus diberdayakan. Jadi manfaat program ini bisa semakin luas,” ungkapnya.

Menurut Eep, MBG juga dapat meningkatkan permintaan terhadap hasil pertanian dan peternakan masyarakat. Sayuran, telur, daging ayam, beras, dan komoditas pangan lainnya berpotensi memiliki pasar lebih luas apabila kebutuhan dapur MBG melibatkan produsen lokal.

Ia berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan secara optimal, transparan, dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi peningkatan gizi, tetapi juga dalam penguatan ekonomi kerakyatan di Kabupaten Bandung.

“Kalau program ini dijalankan dengan baik, jujur dan melibatkan masyarakat setempat, manfaatnya akan sangat besar. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, masyarakat mendapatkan pekerjaan, petani dan peternak mendapatkan pasar, dan ekonomi rakyat pun ikut bergerak,” pungkasnya.