25 Agustus 2026

Ketika Langit Palembang Berubah Warna : Asap Tahunan dan Harga yang Harus Kita Bayar

Oleh : Sudarta

Akademisi Universitas Muhammadiyah Palembang/Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ogan Ilir.

KoranRakyat.co.id —-Setiap tahun, saat matahari mulai condong ke barat dan musim kemarau menapaki puncaknya, kita warga Sumatera Selatan seakan-akan sudah siap menerima tamu tahunan yang tak diundang: kabut asap.

Namun data terbaru per 23 Agustus 2026 ini bukan sekadar berita biasa. Ini adalah tamparan keras di wajah kita semua. Palembang kini menduduki peringkat pertama kota dengan udara terburuk di Indonesia — skor AQI-nya 240, melampaui Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya yang selama ini kita kira sudah cukup buruk. Di tingkat kabupaten, Ogan Ilir bahkan melampaui batas kategori “sangat tidak sehat” dan langsung terjun ke zona “berbahaya” — angka PM10-nya mencapai 1.466 dan PM2.5-nya 365, angka yang seharusnya tidak pernah kita hirup.

Kita sudah terbiasa menyalahkan musim, menyalahkan angin, menyalahkan kebakaran hutan yang terjadi entah di mana. Kita sudah terbiasa pasrah, menganggap ini harga yang harus dibayar demi pembangunan, demi perkebunan, demi rezeki. Kita membeli masker, menutup jendela, mengeluh sejenak, lalu melanjutkan hidup seolah-olah langit yang kelabu itu hal yang lumrah. Padahal di balik angka-angka itu ada hal yang jauh lebih berharga yang sedang kita taruh di ujung tanduk: paru-paru anak-anak kita, napas lansia di rumah, kesehatan setiap warga yang tidak punya kekuasaan untuk lari ke tempat lain.

PM2.5 — partikel halus yang menjadi penyebab utama angka-angka mengerikan itu — begitu kecil hingga tak terlihat mata, namun begitu ganas hingga bisa menembus paru-paru, masuk ke aliran darah, dan mengganggu jantung hingga otak. Angka “berbahaya” di Ogan Ilir bukan sekadar warna hitam di tabel data. Itu artinya: siapa pun yang menghirup udara di sana tanpa pelindung sedang membiarkan racun merayap ke dalam tubuhnya tanpa ia sadari. Anak-anak yang berangkat sekolah, petani yang masih menggarap ladang, ibu yang berjalan ke pasar — mereka semua tanpa sadar menjadi korban.

Yang paling menyedihkan adalah kita mulai terbiasa. Kita mulai menganggap asap itu bagian dari iklim kita. Kita mulai berkomentar santai: “Biasalah, setiap tahun begitu.” Padahal kewajaran itu yang justru menjadi musuh terbesar kita. Ketika bencana dianggap biasa, maka pencegahannya pun dianggap tidak mendesak. Kita menunda penegakan hukum, menunda restorasi lahan gambut, menunda solusi jangka panjang — karena kita sudah terbiasa hidup di antara asap.

Tentu tidak adil hanya menyalahkan warga yang membakar lahan untuk bertani. Mereka pun terjebak dalam sistem yang memaksa mereka memilih antara napas bersih hari ini atau rezeki untuk keluarga besok. Namun pertanyaannya tetap: sampai kapan kita akan membiarkan pilihan yang keliru ini terus berulang? Sampai kapan kita akan membiarkan langit kota kelahiran kita berubah menjadi abu-abu, sementara kita hanya mengeluh lalu diam?

Ada hal-hal sederhana yang bisa kita mulai dari diri sendiri. Berhenti membakar sampah di halaman rumah. Menanam pohon bukan sekadar saat hari bumi, tapi di setiap lahan kosong yang kita miliki. Mengingatkan tetangga bahwa asap yang ia buat hari ini akan dihirup anak-anak kita esok hari. Menuntut pemerintah bukan sekadar untuk membagikan masker saat asap sudah menebal, tetapi untuk mencegah api menyala sejak awal — dengan patroli yang nyata, hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran besar, dan pemulihan lahan gambut yang berkelanjutan.

Palembang tidak pantas menjadi kota dengan udara terburuk di negeri ini. Sungai Musi yang mengalir jernih di bawah jembatan ikonik kita layak ditemani langit yang biru, bukan langit yang kelabu. Ogan Ilir dan seluruh kabupaten lain di Sumsel layak memiliki udara yang bisa dihirup tanpa rasa takut. Langit yang bersih bukan anugerah yang datang sendiri — ia adalah hak yang harus kita perjuangkan bersama, dari setiap halaman rumah hingga kebijakan tertinggi di negeri ini.

Hari ini kita masih bisa memakai masker dan menutup jendela. Tapi jika kita terus membiarkan langit kita terbakar tanpa perlawanan, maka esok hari tidak ada lagi tempat yang aman untuk berlindung. Napas kita, napas anak-anak kita — itu terlalu berharga untuk dipertukarkan dengan kebiasaan yang keliru.

Disarankan untuk daerah “berbahaya” dan “Sangat Tidak Sehat” agar meliburkan anak sekolah, mulai tingkat PAUD-TK sampai jenjang SMA dan menghimbau untuk tidak keluar rumah. Ini penting untuk menjaga kesehatan anak-anak kita.  (*)