Kolektifun Kenalkan Sketchbooth di Wonosobo dalam Gelaran Layar Seasri Film Festival 2026

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Komunitas kreatif Kolektifun turut meramaikan Layar Seasri Film Festival 2026 yang digelar di New Star Cineplex (NSC) Wonosobo, 22–23 Agustus 2026. Selain menghadirkan karya visual melalui live painting, Kolektifun memperkenalkan sketchbooth kepada pengunjung festival.

Kolektifun merupakan komunitas creative movement yang berdiri pada Januari 2025. Komunitas ini bergerak di berbagai bidang seni kreatif, mulai dari mural art, digital art, painting, drawing, hand lettering, hingga craft.
Anggota Kolektifun, Glory Deo Priambada, mengatakan komunitas tersebut saat ini memiliki 26 anggota yang berasal dari berbagai wilayah di Wonosobo serta satu anggota dari Banjarnegara.
Keterlibatan Kolektifun dalam Layar Seasri Film Festival 2026 berawal dari salah satu anggotanya, Notdrop, yang terlibat sebagai ilustrator dalam festival tersebut.
Selama festival berlangsung, Kolektifun menampilkan live painting menggunakan kanvas berukuran 2 x 1,5 meter. Pengunjung juga diberikan kesempatan untuk ikut melukis melalui kanvas kosong yang disediakan oleh komunitas.

Selain live painting, Kolektifun membawa konsep sketchbooth. Konsep ini menyerupai photobooth, tetapi pengunjung mendapatkan gambar wajah yang dibuat secara langsung oleh seniman.
“Konsep seperti ini di kota besar sudah menjamur dan di Wonosobo baru kami mulai memasarkan ide kreatif ini,” kata Glory.
Layanan sketchbooth tersebut dibanderol mulai Rp12 ribu untuk gambar satu wajah ukuran setengah badan. Penambahan wajah, hewan peliharaan, atau boneka dikenakan biaya Rp4 ribu per objek. Sementara gambar ukuran full body dibanderol Rp18 ribu, termasuk dua objek tambahan seperti tas atau jam tangan.
Salah seorang pengunjung festival, Achmad, turut mencoba layanan tersebut. Ia menilai sketchbooth Kolektifun menawarkan konsep yang unik karena proses menggambar dilakukan secara langsung oleh seniman.

“Konsepnya sangat unik dan kreatif. Wajah saya digambar secara langsung oleh tim dari Kolektifun,” ujarnya.
Menurut Achmad, proses menggambar berlangsung sekitar 5–10 menit. Ia juga menilai hasil gambarnya cukup menyerupai wajah asli meski dibuat secara manual dalam waktu singkat.
“Gambar jadinya cukup lucu, mirip foto, namun ini bentuknya lukisan tangan,” katanya.
Menurutnya, kehadiran Kolektifun dalam festival tersebut menunjukkan potensi anak muda Wonosobo di bidang seni dan kreativitas. Ia berharap karya-karya mereka terus mendapat ruang dan apresiasi dari masyarakat.
Glory mengatakan, pengembangan industri kreatif di Wonosobo masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah budaya pop art yang dinilai belum terlalu berkembang dibandingkan kota-kota besar. Di sisi lain, daya beli terhadap produk kreatif juga masih terbatas sehingga perputarannya relatif lambat.

Kolektifun berharap pemerintah daerah semakin memberikan perhatian dan ruang bagi komunitas kreatif lokal. Bentuk dukungan tersebut, menurut Glory, bisa melalui pelibatan komunitas dalam berbagai kegiatan daerah maupun kebutuhan kreatif dan digital.
“Semoga Kolektifun terus ada dan terus bertumbuh dalam industri kreatif di Kabupaten Wonosobo,” ujarnya. (Aris)
