30 Juli 2026

Program I-SEE Resmi Diluncurkan, Wonosobo Perkuat Sistem Layanan Kesehatan Mata

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Pemerintah Kabupaten Wonosobo meluncurkan Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE), Rabu (29/7/2026), di Pendopo Selatan Kabupaten Wonosobo. Program yang akan berlangsung selama lima tahun tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem layanan kesehatan mata yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Wonosobo.

Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), yang dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara YSKK dan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo.

Program I-SEE mendapat dukungan penuh dari Australia Aid. Melalui program tersebut, Wonosobo juga ditetapkan sebagai salah satu dari tiga kabupaten percontohan (pilot project) di Jawa Tengah bersama Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Purbalingga.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menyampaikan bahwa terpilihnya Wonosobo sebagai lokasi pelaksanaan program merupakan bentuk kepercayaan sekaligus perhatian terhadap tingginya persoalan kesehatan mata di daerah.

“Hari ini kita menandatangani MoU antara Pemerintah Kabupaten dengan Yayasan Satu Karsa Karya terkait penanganan kesehatan mata, yang selanjutnya ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama dengan Dinas Kesehatan. Artinya Wonosobo diperhatikan, karena memang persoalan kesehatan mata di daerah ini masih cukup tinggi,” ungkap Afif.

Menurutnya, gangguan penglihatan bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pembangunan daerah. Karena itu, upaya penanganannya tidak cukup mengandalkan layanan kuratif ketika masyarakat sudah mengalami gangguan, melainkan harus dimulai sejak tahap promotif dan preventif.

Afif menekankan pentingnya membangun kesadaran sejak usia dini melalui edukasi kepada guru dan orang tua agar kelainan penglihatan pada anak dapat dideteksi lebih awal.

“Jangan sampai anak baru masuk SD sudah menggunakan kacamata dengan minus tinggi. Karena ketika gangguan penglihatan terlambat diketahui, kecenderungannya akan terus bertambah. Pencegahan harus dimulai dari hulu,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan kerja sama selama lima tahun tersebut akan menjangkau seluruh 265 desa dan kelurahan di Kabupaten Wonosobo, termasuk satuan pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, menjelaskan bahwa pelaksanaan Program I-SEE sejalan dengan arah pembangunan daerah sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yang menitikberatkan pada penguatan layanan kesehatan primer.

Menurutnya, kebutuhan penguatan layanan kesehatan mata di Wonosobo didasarkan pada hasil skrining kesehatan yang menunjukkan masih tingginya angka gangguan penglihatan di berbagai kelompok usia.

Berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) Tahun 2025, sebanyak 7.474 anak usia 7–17 tahun atau sekitar 8,2 persen dari total 91.306 anak yang menjalani skrining terindikasi mengalami gangguan penglihatan.

Sementara itu, pada kelompok usia 18 tahun ke atas, angka indikasi gangguan penglihatan mencapai 17,4 persen. Dari 57.579 masyarakat yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 10.003 orang teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan. Kondisi tersebut juga masih menunjukkan kecenderungan yang sama berdasarkan data Semester I Tahun 2026.

“Data ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan mata harus diperkuat dari hulu. Jangan menunggu masyarakat datang ketika sudah mengalami gangguan berat. Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.

Jaelan menegaskan, kerja sama yang dibangun bersama Yayasan Satu Karsa Karya tidak berorientasi pada pemberian bantuan sesaat, melainkan memperkuat sistem pelayanan kesehatan mata secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Melalui program tersebut, berbagai upaya akan dilakukan, mulai dari pelatihan kader Posyandu, guru sekolah, tenaga kesehatan Puskesmas, hingga dokter spesialis mata. Program juga mencakup penguatan sarana dan prasarana layanan kesehatan, penyediaan beasiswa penuh bagi dokter spesialis mata putra daerah untuk menempuh pendidikan subspesialis, penguatan sistem skrining dan rujukan berjenjang, hingga pendampingan akses layanan bagi masyarakat yang mengalami kendala transportasi maupun lanjut usia yang tidak memiliki pendamping.

Sementara itu, Direktur Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), Iwan Setiyoko, menjelaskan bahwa Wonosobo ditetapkan sebagai salah satu daerah percontohan setelah melalui proses asesmen di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Menurutnya, terdapat dua pertimbangan utama yang menjadi dasar pemilihan tersebut, yakni tingginya angka gangguan kesehatan mata serta kuatnya komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam memperkuat layanan kesehatan mata.

Ia mengungkapkan, hasil asesmen terhadap 24 Puskesmas di Kabupaten Wonosobo menunjukkan rata-rata jumlah kasus gangguan kesehatan mata mencapai lebih dari 100 kasus setiap tahun. Bahkan, di salah satu Puskesmas tercatat sekitar 364 kasus dalam setahun.

“Kami tidak membangun sistem baru, tetapi memperkuat sistem yang sudah ada agar menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Setelah lima tahun program berjalan, kami berharap sistem tersebut mampu berdiri sendiri dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Iwan.

Ia menambahkan, Program I-SEE mengusung pendekatan yang menyeluruh, mulai dari aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. Pelaksanaannya akan menjangkau seluruh desa dan kelurahan, Puskesmas, rumah sakit, serta satuan pendidikan mulai tingkat SD hingga Sekolah Luar Biasa (SLB).

Sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat, program tersebut juga akan membentuk Desa Sehat Mata yang diharapkan menjadi model penguatan layanan kesehatan mata berbasis masyarakat.

Iwan menjelaskan, pendekatan inklusif menjadi salah satu karakter utama Program I-SEE. Sejak tahap asesmen, YSKK telah melibatkan organisasi penyandang disabilitas untuk mengevaluasi tingkat aksesibilitas pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun rumah sakit.

Evaluasi terhadap tingkat inklusivitas fasilitas kesehatan akan dilakukan setiap tahun guna memastikan seluruh masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan mata tanpa diskriminasi, sesuai prinsip no one left behind.

Selain memperkuat pelayanan kesehatan, Program I-SEE juga menghadirkan pendampingan rehabilitatif bagi penyandang kebutaan baru melalui kolaborasi dengan penyandang disabilitas netra yang telah memiliki pengalaman hidup mandiri. Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu proses adaptasi sekaligus memperkuat kondisi psikologis para penyandang disabilitas netra yang baru.

Pelaksanaan program melibatkan kolaborasi pentahelix dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, pemerintah desa, rumah sakit, Puskesmas, Baznas, perguruan tinggi, organisasi penyandang disabilitas, hingga media.

Selama lima tahun pelaksanaan, Program I-SEE akan difokuskan pada empat strategi utama, yakni pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan deteksi dini, penguatan layanan kesehatan, penguatan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, serta penguatan tata kelola layanan kesehatan mata yang inklusif.

Melalui peluncuran Program I-SEE, Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama seluruh mitra berharap terbangun sistem layanan kesehatan mata yang semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan mampu memastikan setiap warga, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas, memperoleh hak yang sama atas layanan kesehatan mata yang berkualitas sehingga kualitas hidup dan produktivitas masyarakat dapat terus meningkat. (Diskominfo Wonosobo/Aris)