24 Juli 2026

Bedhol Kedhaton Hidupkan Sejarah Perpindahan Pusat Pemerintahan Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Bedhol Kedhaton kembali menghidupkan sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Plobangan menuju Wonosobo dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201. Prosesi budaya yang digelar di Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Kamis (23/7/2026), ini menjadi pengingat atas perjalanan sejarah daerah sekaligus refleksi semangat kebersamaan dalam membangun Wonosobo.

Sebelum mengikuti prosesi Bedhol Kedhaton, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Forkopimda, tokoh masyarakat, dan masyarakat terlebih dahulu melaksanakan ziarah ke Makam Ki Ageng Wonosobo sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri Wonosobo.

Dalam sambutannya, Afif mengatakan Bedhol Kedhaton bukan sekadar prosesi adat maupun simbol sejarah, melainkan penanda transformasi besar dalam perjalanan Kabupaten Wonosobo. Menurutnya, perpindahan pusat pemerintahan dari Plobangan menuju Wonosobo menjadi bukti bahwa keberanian untuk berubah merupakan syarat penting dalam meraih kemajuan.

“Laksana aliran sungai yang terus mengalir menuju muara, demikian pula perjalanan Wonosobo yang senantiasa bergerak mengikuti perkembangan zaman. Bedhol Kedhaton bukan sekadar simbol sejarah dan budaya, tetapi menjadi penanda transformasi besar perpindahan pusat pemerintahan dari Plobangan menuju Wonosobo,” ujar Afif.

Ia menambahkan, tradisi tersebut mengajarkan bahwa pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan sosial dan spiritual. Semangat para leluhur yang mempersiapkan masa depan daerah dengan penuh kehati-hatian dan kebijaksanaan, menurutnya, harus terus diwujudkan melalui pelayanan publik yang semakin baik, pelestarian lingkungan, serta pembangunan masyarakat yang berorientasi pada kesejahteraan.

Afif menegaskan, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berkomitmen menjadikan tradisi sebagai salah satu kekuatan pembangunan daerah. Bedhol Kedhaton menjadi simbol tema Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201, “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, yang mengandung makna menyatukan tekad dan semangat berkarya antara pemerintah dan masyarakat.

“Majunya daerah tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja. Kemajuan hanya dapat dicapai melalui kerja sama, gotong royong, dan sinergi antara pemerintah dengan seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Afif juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201 sebagai momentum memperkuat tekad untuk Wani Ngrubah, Wani Jangkah, lan Wani Ngadhepi Tantangan Ombyaking Jaman, atau berani berubah, berani melangkah, dan berani menghadapi tantangan zaman demi mewujudkan Wonosobo yang unggul, maju, dan sejahtera.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menjelaskan rangkaian Bedhol Kedhaton telah dimulai sejak pukul 06.30 WIB melalui prosesi pengambilan air suci di Tuk Sampang, sebuah mata air yang menjadi bagian dari ritual Hari Jadi Kabupaten Wonosobo. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Ki Ageng Wonosobo sebelum pelaksanaan Bedhol Kedhaton di Desa Plobangan.

Menurut Fahmi, prosesi tersebut merepresentasikan sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Plobangan menuju Wonosobo. Ia juga menyebut nama Wanusaba sebagai bagian dari penelusuran sejarah asal-usul nama Wonosobo.

“Bedhol Kedhaton merupakan perlambang perjalanan sejarah Wonosobo yang kemudian dimanifestasikan kembali melalui prosesi budaya setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan masih berlanjut pada malam hari melalui prosesi Tapa Bisu, yakni prosesi berjalan dalam keheningan sambil membawa air suci dan tanah menuju Pendopo Kabupaten Wonosobo melalui Jalan A. Yani. Setibanya di Pendopo, prosesi dilanjutkan dengan Hastungkara, doa bersama lintas agama dan lintas iman, serta kegiatan budaya di Paseban.

Selanjutnya, pada Jumat (24/7/2026), rangkaian Hari Jadi dilanjutkan dengan Pisowanan Agung yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Wonosobo menuju Alun-alun Wonosobo. Dalam prosesi tersebut, air suci yang telah dibawa akan diserahkan kepada Bupati Wonosobo.

Fahmi mengatakan Pemerintah Kabupaten Wonosobo berkomitmen mengembangkan rangkaian Hari Jadi sebagai atraksi wisata budaya. Menurutnya, berbagai prosesi seperti pengambilan air suci, ziarah, Bedhol Kedhaton, Tapa Bisu, hingga Pisowanan Agung memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan apabila dikemas sebagai sebuah festival budaya.

“Harapannya ke depan yang kami tawarkan kepada wisatawan bukan sekadar peringatan Hari Jadi, melainkan sebuah festival budaya yang menghadirkan seluruh prosesi khas Wonosobo. Dengan begitu wisatawan memiliki alasan untuk datang, tinggal lebih lama, dan pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, antusiasme masyarakat mulai terlihat dari banyaknya warga yang mendaftarkan diri untuk mengikuti prosesi Tapa Bisu. Bahkan, sejumlah wisatawan sengaja datang untuk menyaksikan rangkaian kegiatan setelah mengetahui informasi tersebut melalui media sosial.

Menurut Fahmi, Hari Jadi Kabupaten Wonosobo diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Selain rangkaian prosesi budaya, Pemerintah Kabupaten Wonosobo juga akan menghadirkan hiburan bagi masyarakat melalui konser Ndarboy Genk pada 8 Agustus 2026. Konser tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo dan didukung oleh sponsor serta sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai upaya menghadirkan hiburan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. (Aris)