23 September 2026

Asobo Matsuri, Event Jejepangan Pertama Sukses Digelar di Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Untuk pertama kalinya, penggemar budaya populer Jepang di Wonosobo memiliki festival yang secara khusus mempertemukan para cosplayer, komunitas, gamers, hingga penikmat musik dan budaya Jepang dalam satu gelaran. Asobo Matsuri, event Jejepangan pertama di Wonosobo, digelar di Le Coffee, Wonosobo, Minggu (20/9/2026).

Mengusung konsep festival, Asobo Matsuri menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari idol performance, coswalk competition, J-Song Competition, turnamen Tekken dan Yu-Gi-Oh! Master Duel, dance performance, community talkshow, hingga karaoke bersama dan pertunjukan DJ.

Sejumlah pengisi acara turut meramaikan gelaran perdana tersebut, di antaranya Megami, Nandemo San, Naito Renji, Jenesais, dan Lil JB. Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas komunitas, merchandise booth, community corner, giveaway, serta Henshin Show.

Penggagas Asobo Matsuri, Rizal Amirudin atau yang dikenal dengan nama Mas Pomet, mengatakan ide menggelar festival tersebut muncul dari keinginan menghadirkan kegiatan yang sebelumnya belum ada di Wonosobo. Ia melihat adanya penggemar anime, cosplay, gim, dan budaya Jepang di daerah ini yang membutuhkan ruang untuk berkumpul dan berekspresi.

“Wonosobo itu sebenarnya kota kecil, jadi kita perlu sesuatu yang baru dan belum pernah ada. Karena ini adalah event pertama di Wonosobo, jadi kita bikin sesuatu yang benar-benar baru,” kata Rizal.

Menurutnya, penyelenggaraan Asobo Matsuri juga tidak lepas dari keterlibatan sejumlah komunitas, seperti Komunitas Cosplayer Wonosobo, Kolektifun, komunitas penggemar idol, gamers, serta penggiat Jejepangan lainnya.

Nama Asobo Matsuri sendiri memiliki makna yang cukup dekat dengan konsep acara. “Asobo” dalam bahasa Jepang berarti “mari bermain”, sementara “sobo” dalam bahasa Jawa dapat dimaknai sebagai bermain atau dolan. Adapun “matsuri” berarti festival.

“Jadinya sangat-sangat pas. Asobo itu dalam bahasa Jepang artinya mari bermain, bahasa Jawa juga sobo itu main. Matsuri itu festival. Jadi Asobo Matsuri, ayo main ke festival,” ujarnya.

Sebagai gelaran perdana, antusiasme masyarakat terhadap Asobo Matsuri terbilang cukup besar. Target awal penyelenggara berada di angka 300 tiket, namun hingga pelaksanaan acara jumlah tiket yang terjual mencapai sekitar 450.

Pengunjung yang datang juga tidak hanya berasal dari Wonosobo. Sejumlah peserta dan pengunjung tercatat datang dari luar daerah, antara lain Purwokerto, Temanggung, Banjarnegara, dan Yogyakarta.

Kehadiran event pertama ini juga mendapat sambutan dari kalangan penggemar cosplay di Wonosobo. Anindita Resti atau Aranimon, salah satu peserta Coswalk Competition, mengaku senang akhirnya dapat mengikuti event Jejepangan di daerahnya sendiri.

“Event Jejepangan pertama di Wonosobo, tapi udah sesukses ini. Keren,” ujarnya.

Dalam gelaran tersebut, Aranimon tampil sebagai Angewomon dari Digimon dan meraih penghargaan Best Costume. Ia menjadi salah satu dari para peserta yang memanfaatkan panggung Asobo Matsuri untuk menunjukkan karya dan kreativitasnya.

Sementara itu, Eiden, perwakilan Komunitas Cosplayer Wonosobo, mengatakan hampir seluruh anggota komunitas ikut terlibat dalam gelaran perdana tersebut. Komunitas yang berdiri sejak Juli 2023 itu kini memiliki lebih dari 200 anggota.

Menurut Eiden, komunitas menjadi salah satu ruang bagi penggemar cosplay untuk bertemu, berbagi cerita, sekaligus mengekspresikan minat mereka.

“Jadi, kita memberikan kesempatan kepada member-member, anak-anak yang mau cosplay, kita kasih ruang. Kita kasih ruang mereka untuk berekspresi, kita kasih ruang mereka untuk berteman, bercerita,” kata Eiden.

Besarnya respons terhadap gelaran pertama tersebut membuat penyelenggara membuka kemungkinan untuk kembali menghadirkan kegiatan serupa dengan skala yang lebih besar. Rizal juga berharap keberadaan Asobo Matsuri dapat menjadi awal bagi semakin beragamnya event dan aktivitas komunitas di Wonosobo.

“Aku pengen bikin event yang lain juga, biar event Wonosobo itu lebih beragam. Enggak cuma satu event, dua event, tiga event. Aku ingin beragam,” katanya.

Menurut Rizal, keberagaman event juga perlu diikuti dengan kolaborasi antarkomunitas dan penyelenggara agar semakin banyak ruang kegiatan yang bisa dinikmati masyarakat Wonosobo.

“Harapannya Wonosobo banyak event yang berbeda-beda, bermacam-macam. Jangan saling bersenggol-senggolan. Sudah kita bikin bareng-bareng,” pungkasnya. (Aris)