24 Juli 2026

Menyelami Konsep Ridha dalam Epistemologi Al-Ghazali

Oleh: KH. Wahyudi Sarju Abdirrahim, Lc. M.M,

Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung

KoranRakyat.co.id —Dalam konstelasi pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H), konsep ridha menempati posisi yang sangat sentral, baik dari dimensi filosofis, sufistik, maupun akhlak. Al-Ghazali memberikan porsi pembahasan yang mendalam mengenai konsep ini dalam karya-karya masterpiecenya, seperti Ihya Ulumuddin dan Kimiya-yi Sa’adah. Bagi beliau, ridha bukan sekadar konsep abstrak, melainkan kunci utama untuk meraih kebahagiaan sejati dan ketenangan hati yang hakiki.

Secara etimologis, ridha bermakna penerimaan dan kepuasan. Namun, Al-Ghazali melangkah lebih jauh dengan mendefinisikannya sebagai: “Kegembiraan hati dalam menyikapi segala ketetapan Allah, tanpa ada rasa keberatan sedikit pun terhadap keputusan-Nya. Ia adalah sebuah penerimaan yang tulus, lapang dada, dan penuh kepasrahan.”

Bagi Al-Ghazali, ridha bukanlah bentuk kepasrahan yang pasif atau fatalistik. Sebaliknya, ia adalah kondisi batin yang aktif dan dinamis. Seorang hamba yang ridha mampu memandang setiap jengkal takdir yang menimpanya sebagai sebuah kebaikan, sekalipun hikmah di baliknya masih tersembunyi dari nalar manusia.

Al-Ghazali memetakan ridha ke dalam tiga tahapan spiritual, mulai dari yang paling mendasar hingga tingkatan tertinggi:

Ridha kepada Allah sebagai Rabb (Ridha Makrifat)

Ini adalah fondasi awal keimanan, yaitu kesadaran dan penerimaan penuh bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Pengatur tunggal semesta alam. Tingkatan ini dicapai melalui pemantapan iman di dalam dada dan kepatuhan mutlak pada syariat. Al-Ghazali menegaskan, “Tingkat pertama dari ridha adalah saat engkau menerima Allah sebagai Rabb-mu, sehingga tidak ada lagi penentangan dalam hatimu terhadap takdir-Nya.”

Ridha terhadap Qadha dan Qadar

Tingkat kedua ini merupakan kepasrahan total terhadap setiap skenario Allah, baik yang manis maupun yang pahit. Di sinilah Al-Ghazali membedakan antara sabar dan ridha. Sebagai ilustrasi, ketika seseorang kehilangan hartanya, sabar adalah kemampuan menahan diri agar tidak mengeluh. Sementara ridha melangkah lebih jauh; hati tetap lapang karena mampu melihat hilangnya harta sebagai proses penyucian jiwa atau peleburan dosa.

Ridha terhadap Musibah (Puncak Makam Spiritual)

Ini adalah maqam tertinggi yang hanya bisa dihuni oleh para wali dan orang-orang saleh yang telah mencapai mahabbah ilahiyyah (cinta platonis kepada Allah). Pada titik ini, dualitas antara nikmat dan musibah telah lebur. Mereka melihat segala sesuatu sebagai kebaikan mutlak dari Sang Kekasih. Al-Ghazali melukiskan tingkat ini dengan indah: “Jika seorang hamba telah mencapai derajat ridha yang sejati, ia akan merasakan manisnya segala hal yang datang dari Allah, bahkan dalam kematian, kemiskinan, dan penyakit.”

Untuk memahami keunikan ridha secara lebih mendalam, Al-Ghazali menarik garis batas yang tegas antara konsep sabar, syukur, dan ridha. Meskipun ketiganya sering kali dianggap serupa, ketiganya berada pada maqam spiritual yang berbeda.

Pertama, sabar diartikan sebagai kemampuan mengendalikan diri dan menahan lisan agar tidak mengeluh saat badai ujian datang melanda. Dalam pandangan Al-Ghazali, ridha berada satu tingkat di atas sabar. Hal ini karena orang yang sabar terkadang masih harus berjuang keras menahan rasa tidak suka atau gejolak di dalam dadanya. Sementara itu, orang yang ridha telah melampaui fase pergolakan batin tersebut; hatinya benar-benar lapang dan damai tanpa menyisakan rasa sesal sedikit pun.

Kedua, syukur adalah bentuk pengakuan tulus atas segala nikmat ilahi yang diwujudkan melalui ketaatan kepada-Nya. Perbedaan mendasar antara syukur dan ridha terletak pada objek penerimaannya. Syukur umumnya berorientasi pada hal-hal yang menyenangkan atau mendatangkan manfaat (nikmat). Sebaliknya, ridha memiliki cakupan yang jauh lebih luas dan kokoh, karena ia mampu merangkul nikmat yang manis sekaligus musibah yang pahit dengan kadar kelapangan dada yang sama besarnya.

Terakhir, ridha itu sendiri merupakan puncak kegembiraan dan ketenangan hati yang utuh atas setiap ketetapan Allah. Berbeda dengan sabar yang menuntut perjuangan batin (mujahadah) yang melelahkan setiap kali ujian baru datang, ridha yang telah matang tidak lagi membutuhkan pemaksaan diri. Ia telah menjelma menjadi karakter jiwa yang menetap (maqam), di mana rasa damai dan tenteram mengalir secara alami dan permanen dalam setiap keadaan.

Al-Ghazali merumuskan beberapa metodologi spiritual agar seorang hamba dapat menginternalisasi sifat ridha dalam dirinya. Pertama, ma’rifatullah (mengenal Allah secara hakiki). Ridha adalah buah ranum dari makrifat. Semakin dalam seseorang mengenali keagungan, kasih sayang, dan hikmah di balik setiap keputusan Allah, maka akan semakin besar pula keridhaannya terhadap takdir. Kedua, mujahadah an-Nafs (menundukkan ego) yaitu melatih hati secara konsisten untuk meredam ego, menolak keluhan, serta mengasah jiwa lewat zikir dan kesabaran yang tekun. Ketiga, merenungkan metafora akhir urusan dengan menyadari keterbatasan ruang pandang manusia. Sering kali, sesuatu yang kita benci justru menyimpan kebaikan yang besar—seperti sakit yang menjadi pengingat akhirat, atau kesempitan hidup yang menyelamatkan jiwa dari kesombongan. Keempat, tawakal yang otentik. Ridha berkelindan erat dengan tawakal. Seseorang yang berserah diri secara total yakin bahwa pilihan Allah untuknya selalu menjadi pilihan yang terbaik.

Ketika ridha telah menghujam dalam jiwa, ia akan melahirkan buah spiritual yang manis dalam kehidupan sehari-hari. Ia akan merasakan ketenangan hati yang paripurna. Sirnanya kegelisahan eksistensial karena kemudi hidup telah diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia akan merasakan kebahagiaan abadi. Jiwa yang ridha tidak akan goyah oleh pasang surut dunia. Kehilangan materi tidak membuatnya nestapa, karena poros kebahagiaannya bersumber dari keridhaan Allah. Dia juga merasakan keintiman dengan Sang Khalik. Ridha adalah stempel cinta ilahi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya, maka wajib baginya surga.” (HR. Tirmidzi). Selain itu, dia juga merasa merdeka dari perbudakan dunia. Hamba yang ridha terbebas dari jerat ketakutan akan kemiskinan dan bersih dari ketamakan harta.

Pada akhirnya, Al-Ghazali ingin mengetuk kesadaran kita bahwa ridha bukanlah kepasrahan yang lumpuh, melainkan sebuah seni tingkat tinggi dalam mengarungi samudra kehidupan. Di tangan orang yang ridha, penderitaan bertransformasi menjadi rahmat, dan cobaan bermutasi menjadi nikmat. Sifat ini menuntut edukasi jiwa (riyadhah) dan pemantapan iman yang riil, bukan sekadar retorika di ujung lidah. Al-Ghazali merangkumnya dengan indah, “Barangsiapa yang ridha kepada Allah, maka Allah pun akan ridha kepadanya dan menganugerahinya karunia yang jauh melampaui apa yang ia impikan.” Tanpa ridha, jiwa manusia akan selamanya terjebak dalam konflik batin yang melelahkan melawan garis takdir. Ridha adalah gerbang utama menuju kedamaian abadi. (*)