13 Agustus 2026

Kades Talunombo Perkenalkan Inovasi Desa Wonosobo dalam Program Kepala Desa Masuk Kampus

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Program Kepala Desa Masuk Kampus yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa menjadi ruang belajar sekaligus berbagi pengalaman bagi para kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Universitas Indonesia (UI), Depok, pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026 itu diikuti 434 kepala desa, termasuk Kepala Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Badarudin.

Selama empat hari mengikuti kegiatan, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai tata kelola pemerintahan desa yang akuntabel, penyusunan kebijakan berbasis data, pengembangan inovasi desa, hingga strategi membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Program tersebut menjadi bagian dari Program Pemerintahan Desa Berdampak yang bertujuan memperkuat kapasitas kepemimpinan kepala desa melalui pendekatan akademik.

Badarudin menilai, keikutsertaannya dalam program tersebut memberikan banyak pengalaman baru, baik melalui materi yang disampaikan akademisi maupun diskusi bersama kepala desa dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Program ini memberikan tambahan wawasan tentang tata kelola pemerintahan desa yang baik. Kami belajar langsung dari akademisi, berbagi praktik baik dengan kepala desa lain yang telah berhasil membangun inovasi di desanya, sehingga banyak ilmu yang bisa kami bawa pulang,” ujar Badarudin saat ditemui di Kantor Desa Talunombo, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, posisi desa kini semakin strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Kepala desa tidak hanya dituntut menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga mampu membaca potensi wilayah, menyusun kebijakan berdasarkan data, serta membangun kemitraan yang mampu mempercepat pembangunan desa.

“Ini menjadi sejarah baru ketika kampus berkolaborasi langsung dengan kepala desa dalam sebuah program yang terukur. Kami tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga belajar dari pengalaman desa-desa maju dan desa mandiri di seluruh Indonesia,” katanya.

Dalam forum tersebut, Badarudin turut memperkenalkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan Desa Talunombo. Salah satunya adalah pemanfaatan Dana Desa untuk membangun jalan usaha tani dan jaringan irigasi guna mendukung produktivitas sektor pertanian.

Selain itu, Desa Talunombo juga mengembangkan kawasan agro-eduwisata yang memadukan pembelajaran mengenai pertanian, peternakan, perikanan, hingga ekonomi kreatif. Program tersebut dirancang sebagai media edukasi bagi pelajar dan masyarakat sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran terhadap pentingnya ketahanan pangan.

“Pertanian harus dikenalkan kembali kepada anak-anak. Ketahanan pangan menjadi isu yang sangat penting. Kalau tidak dipersiapkan sejak sekarang, ke depan kita akan menghadapi tantangan yang lebih besar,” ungkapnya.

Tidak hanya di sektor pertanian, Talunombo juga memperkenalkan berbagai inovasi di bidang lingkungan hidup. Desa tersebut mengembangkan pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti bahan bakar alternatif, briket, dan pupuk organik sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular.

Di sektor energi, desa juga memanfaatkan potensi aliran sungai melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang digunakan untuk penerangan jalan serta memenuhi sebagian kebutuhan listrik masyarakat.

“Inovasi lingkungan ini kami sampaikan karena isu keberlanjutan bukan hanya menjadi perhatian desa, tetapi juga menjadi perhatian dunia. Desa juga harus ikut berkontribusi menjaga lingkungan sekaligus membangun kemandirian energi,” jelasnya.

Keikutsertaan dalam program tersebut juga membuka peluang kolaborasi antara Desa Talunombo dan Universitas Indonesia. Badarudin mengungkapkan pihaknya telah menjalin komunikasi dengan LP3M UI untuk mengembangkan program agroforestri yang berfokus pada penanaman tanaman obat, tanaman langka, serta vegetasi yang mendukung kelestarian ekosistem dan sumber mata air.

“Kami berharap akademisi tidak hanya hadir memberikan materi, tetapi juga ikut mendampingi desa dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan melalui pendekatan ilmiah,” katanya.

Selain memperluas jejaring, Badarudin berharap Program Kepala Desa Masuk Kampus dapat terus dikembangkan, termasuk melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi kepala desa yang belum menyelesaikan pendidikan tinggi.

“Kami berharap program ini terus berlanjut. Akan sangat baik apabila nantinya ada program Rekognisi Pembelajaran Lampau sehingga kepala desa yang belum memiliki ijazah sarjana dapat memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan berdasarkan pengalaman pengabdian yang dimiliki,” ujarnya.

Baginya, tantangan pembangunan desa tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah desa. Sinergi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga berbagai lembaga menjadi kunci untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Desa harus terus bergerak, berinovasi, melihat peluang, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Pemerintah memberikan regulasi, akademisi menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, dunia usaha melalui program CSR dapat mendukung pembiayaan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan.”

Badarudin optimistis pengalaman yang diperolehnya selama mengikuti Program Kepala Desa Masuk Kampus akan menjadi bekal untuk menghadirkan berbagai inovasi pembangunan di Desa Talunombo.

“Harapan kami, melalui program ini Desa Talunombo semakin dikenal, memiliki jejaring yang lebih luas, dan mampu menghadirkan inovasi yang benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat. Ketika desa terus belajar dan berani berinovasi, desa akan menjadi kekuatan utama pembangunan Indonesia,” pungkasnya. (Diskominfo Wonosobo/Aris)