2 Juli 2026

Dai AI, Ancaman atau Peluang?

Oleh : KH. Wahyudi Sarju Abdurrahimn, Lc, M.M

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung

KoranRakyat.co.id —-Dunia terus berputar. Medan dakwah pun tak lagi sebatas mimbar kayu di sudut masjid atau majelis taklim yang sunyi. Hari ini, mimbar dakwah telah berpindah ke layar smartphone yang ada di genggaman setiap orang. Jika para dai ingin pesan kebaikan bisa tersampaikan secara lebih luas dan bisa menggaet lebih banyak dari kalangan muda, maka berinteraksi dengan zaman adalah sebuah keniscayaan, bukan sekadar pilihan.

​Dakwah yang hebat adalah dakwah yang mampu hadir di ruang-ruang di mana umat berada. Di era digital ini, para dai dituntut untuk menjadi “penerjemah” nilai-nilai agama ke dalam bahasa zaman. Kita tidak boleh membiarkan teknologi hanya dikuasai oleh arus konten yang dangkal atau merusak. Sebaliknya, kitalah yang harus “membajak” teknologi untuk mengalirkan hikmah.

​Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam produksi video dakwah adalah sebuah terobosan yang luar biasa. Bayangkan pesan-pesan agama yang mendalam dapat divisualisasikan dengan animasi yang estetik, kualitas audio yang jernih, hingga kemudahan menjangkau audiens lintas bahasa. Bagi Generasi Z yang tumbuh besar dengan asupan visual cepat dan kreatif, kemasan berbasis AI ini menjadi “pintu masuk” yang sangat efektif agar dakwah terasa lebih segar, inklusif, dan tidak terkesan kaku.

​Namun, teknologi secanggih apa pun tidak pernah memiliki nurani. Inilah mengapa fondasi tanggung jawab menjadi harga mati. AI bisa menghasilkan teks atau narasi yang memukau dalam hitungan detik, tetapi ia tidak memiliki pemahaman tentang maqashid syariah (tujuan syariat) atau konteks sosial masyarakat. Oleh karena itu, harus ada figur dai, pakar, atau lembaga yang berdiri tegak sebagai penanggung jawab. Kita tidak boleh membiarkan AI menjadi “dai tunggal” tanpa kurator manusia.

Dalam Islam, ilmu memiliki sanad dan pertanggungjawaban yang jelas. Ketika konten dihasilkan melalui AI, integritas isi tetap harus melalui proses verifikasi manusia. Apakah dalilnya tepat? Apakah konteks penggunaannya benar? Keberadaan penanggung jawab memastikan bahwa setiap konten tetap memiliki “ruh” dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah di hadapan umat maupun di hadapan Allah SWT.

Tidak ada sistem yang sempurna. Jika nantinya ditemukan kesalahan, kekeliruan narasi, atau interpretasi yang melenceng akibat algoritma AI, audiens harus memiliki jalur komunikasi yang jelas untuk melakukan tabayyun atau komplain. Transparansi ini adalah bagian dari etika berdakwah; keberanian mengakui kesalahan dan kesiapan untuk memperbaiki adalah tanda bahwa dakwah tersebut dikelola dengan dewasa dan beradab.

​Mari kita pandang AI bukan sebagai ancaman yang akan menggantikan posisi dai, melainkan sebagai sarana (wasilah) yang memperluas jangkauan suara kita. AI adalah kuas, sementara dai adalah pelukisnya. Dengan menempatkan teknologi di tangan para pemikir yang berintegritas, kita sedang memastikan bahwa masa depan dakwah tidak hanya canggih secara visual, tetapi juga kokoh secara substansi.

​Dakwah ke depan adalah kolaborasi antara kebijaksanaan manusia dan kecerdasan mesin. Mari kita optimalkan potensi ini, dengan tetap menjaga agar tangan-tangan manusia yang berilmu tetap menjadi pengendali utama di atas kemudi dakwah ini. (*)