1 Agustus 2026

Sekolah Rakyat Wonosobo Resmi Gelar MPLS, 330 Siswa Baru Mulai Pendidikan Berasrama

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 resmi dimulai pada Kamis (31/7/2026). Di Kabupaten Wonosobo, pembukaan dipusatkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Wonosobo yang berlokasi di Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek.

Sekolah Rakyat Wonosobo merupakan fasilitas pendidikan terpadu gratis berkonsep berasrama (boarding school) yang dibangun pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Berdiri di atas lahan seluas 5 hektare, sekolah ini memiliki kapasitas tampung hingga ribuan peserta didik untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Pada Tahun Ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Wonosobo resmi menerima 330 siswa baru, termasuk peserta didik asal Kabupaten Temanggung yang mengikuti pendidikan di Wonosobo.

Kegiatan pembukaan berlangsung secara hybrid. Ratusan peserta didik bersama orang tua mengikuti kegiatan secara langsung di lokasi, sementara rangkaian pembukaan nasional diselenggarakan secara daring dan dipimpin langsung oleh Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dari Jakarta.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia Agus Jabo Priyono, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, jajaran Kementerian Sosial, Pemerintah Kabupaten Wonosobo, tenaga pendidik, para orang tua peserta didik, serta para Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang selama ini berperan sebagai ujung tombak dalam menyukseskan penyelenggaraan Sekolah Rakyat.

Suasana pembukaan berlangsung penuh antusias. Para peserta didik baru tampak hadir didampingi orang tua masing-masing dengan membawa perlengkapan pribadi sebelum memasuki lingkungan sekolah berasrama. Sebelum mengikuti rangkaian MPLS, mereka terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan, kemudian mengikuti sosialisasi mengenai kehidupan di asrama, tata tertib sekolah, serta pengenalan lingkungan belajar bersama para guru dan tenaga kependidikan.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia, Agus Jabo Priyono, mengatakan pelaksanaan MPLS gelombang kedua dapat berjalan sesuai jadwal meskipun pembangunan sarana dan prasarana sekolah belum sepenuhnya rampung. Menurutnya, seluruh fasilitas utama telah berfungsi sehingga kegiatan belajar mengajar dapat segera dimulai.

“Alhamdulillah, walaupun sarana dan prasarananya belum selesai 100 persen, tetapi sudah fungsional sehingga hari ini MPLS bisa dimulai,” ujarnya.

Agus menjelaskan, pada pelaksanaan MPLS gelombang kedua ini Sekolah Rakyat di Wonosobo menerima 270 peserta didik baru yang terdiri atas 120 siswa jenjang SMA, 120 siswa SMP, dan 30 siswa SD. Selain itu terdapat 60 peserta didik asal Kabupaten Temanggung yang mengikuti pendidikan di Wonosobo sehingga total peserta didik baru mencapai 330 orang.

Menurutnya, pemerintah masih terus berupaya memenuhi kuota peserta didik jenjang SD. Hingga saat ini, masih banyak orang tua yang merasa berat melepas anak-anak mereka untuk tinggal di sekolah berasrama karena usianya yang masih relatif muda.

“Kami berharap orang tua tidak perlu khawatir. Ini memang sekolah berasrama, tetapi kapan pun ingin bertemu anaknya dipersilakan datang ke sekolah. Justru melalui pendidikan sejak usia dini inilah Presiden ingin memutus transmisi kemiskinan antargenerasi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Seluruh calon peserta didik harus melalui proses pendataan, verifikasi lapangan (ground check), asesmen, hingga persetujuan orang tua sehingga tidak ada praktik penitipan peserta didik.

Menurut Agus, proses seleksi tersebut menjadi salah satu kunci agar program benar-benar tepat sasaran. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap anak yang diterima merupakan mereka yang membutuhkan akses pendidikan berkualitas sekaligus memperoleh pembinaan karakter melalui sistem pendidikan berasrama.

Dalam proses tersebut, Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) memiliki peran yang sangat strategis sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Para pendamping menjadi ujung tombak pelaksanaan program dengan melakukan pendataan keluarga calon peserta didik, memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai Sekolah Rakyat, mendampingi proses verifikasi lapangan dan asesmen, hingga memantau perkembangan peserta didik setelah diterima di sekolah.

Lebih lanjut, Agus mengungkapkan pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan kapasitas Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Semula setiap sekolah dirancang mampu menampung sekitar 1.000 peserta didik. Namun, atas arahan Presiden, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 2.000 peserta didik melalui pembangunan lanjutan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum.

Selain pembangunan fisik, menurutnya pengelolaan Sekolah Rakyat juga memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Sebagai sekolah berasrama, pengelolaan kebersihan, keamanan, hingga pembinaan karakter peserta didik membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah daerah agar proses pendidikan dapat berjalan optimal.

“Gedung yang dibangun sangat megah dan lahannya luas. Karena itu pengelolaannya juga harus baik. Kami terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah agar kebersihan, keamanan, dan seluruh tata kelola sekolah berasrama ini dapat berjalan dengan optimal,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan Pemerintah Kabupaten Wonosobo terus berupaya memenuhi kuota peserta didik, terutama untuk jenjang SD yang hingga kini masih menjadi tantangan.

Menurutnya, kuota peserta didik jenjang SMA dan SMP telah terpenuhi. Namun, untuk jenjang SD, pemerintah daerah bersama Dinas Sosial dan para Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) terus melakukan sosialisasi dan pendekatan secara langsung kepada keluarga calon peserta didik.

“Jenjang SMA sudah tercukupi, SMP juga sudah tercukupi. Tinggal SD yang memang membutuhkan effort lebih besar. Orang tua masih merasa berat melepas anak-anaknya karena usianya masih kecil,” ujar Afif.

Ia menjelaskan, tim dari Dinas Sosial bersama para pendamping PKH terus mendatangi dan berkomunikasi dengan keluarga calon peserta didik untuk memberikan pemahaman mengenai konsep Sekolah Rakyat sebagai sekolah berasrama yang tetap memberikan ruang bagi orang tua untuk menjenguk anak-anak mereka.

Upaya tersebut, lanjut Afif, mulai menunjukkan hasil. Jumlah pendaftar jenjang SD yang semula hanya beberapa orang kini terus bertambah hingga mencapai 30 siswa.

“Alhamdulillah, dari yang awalnya hanya hitungan jari sekarang bertambah menjadi 30 siswa. Menurut saya ini sudah luar biasa, tetapi kami akan terus bekerja karena kuotanya masih terbuka,” katanya.

Afif menambahkan, berdasarkan hasil penyisiran data keluarga pada desil 1 dan desil 2, sebenarnya masih banyak calon peserta didik yang berpotensi mengikuti program Sekolah Rakyat. Hal tersebut juga menjadi salah satu dasar pemerintah pusat untuk menambah kapasitas tampung Sekolah Rakyat di berbagai daerah.

Program Sekolah Rakyat pun mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya dirasakan Tri Murniyati, warga Desa Kalidesel, Kecamatan Watumalang, yang mengaku bersyukur anaknya memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat.

Sebagai seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai petani, Tri mengaku keterbatasan ekonomi sempat menjadi kendala bagi anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang diinginkan. Meski sempat memperoleh beasiswa, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi kesempatan yang menurutnya lebih sesuai dengan kondisi keluarganya.

“Saya bangga dan senang karena ini menjadi kesempatan bagi anak saya untuk meraih cita-citanya. Alhamdulillah anak saya juga memiliki potensi dan bakat yang bisa dikembangkan di Sekolah Rakyat ini,” ungkapnya.

Ia berharap Sekolah Rakyat terus berkembang sehingga mampu mencetak generasi yang kreatif, disiplin, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

“Harapan saya, Sekolah Rakyat semakin maju, anak-anak menjadi lebih kreatif, lebih disiplin, dan nantinya bisa meraih cita-cita mereka,” tuturnya.

Tidak hanya dirasakan oleh orang tua, manfaat program tersebut juga dirasakan langsung oleh para peserta didik. Angelina Puspitasari, siswi kelas XI Sekolah Rakyat, menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan berasrama mampu membentuk karakter sekaligus mengembangkan potensi siswa.

Angelina mengaku sempat merasa canggung ketika pertama kali harus tinggal jauh dari keluarga. Bahkan pada hari pertama di asrama, ia hampir menangis saat ditinggal pulang oleh ayahnya. Namun suasana hangat yang diberikan teman-teman sekamar membuatnya perlahan mampu beradaptasi.

“Saya awalnya kaget karena belum pernah tinggal di asrama. Waktu bapak pulang rasanya ingin menangis, tetapi teman-teman langsung menghampiri dan menemani saya. Lama-kelamaan ternyata tinggal di asrama itu menyenangkan,” katanya.

Selama satu tahun mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat, Angelina mengaku memperoleh banyak pengalaman baru. Selain mengikuti pembelajaran akademik, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti seni rupa, English Club, seni tari, pencak silat, dan Pramuka.

Kesempatan mengembangkan bakat tersebut membawanya meraih Juara III Lomba Poster Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Di sisi lain, ketertarikannya pada bahasa asing membuat Angelina belajar bahasa Jepang secara mandiri melalui buku, video pembelajaran, serta bimbingan guru ketika mengikuti lomba pidato.

Ia juga mulai mengenal pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pembelajaran melalui mata pelajaran koding. Menurutnya, para guru tidak hanya mengenalkan AI sebagai teknologi baru, tetapi juga mengajarkan cara menggunakannya secara bijak untuk mendukung proses belajar.

“Cita-cita saya ingin menjadi guru. Saya juga ingin menjadi penerjemah bahasa agar bisa terus belajar dan berbagi ilmu kepada orang lain,” ujarnya.

Selain pendidikan akademik, kehidupan di Sekolah Rakyat juga membentuk kedisiplinan dan karakter peserta didik melalui berbagai aktivitas harian. Mulai dari salat tahajud, salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, apel pagi dan sore, kegiatan belajar mengajar, hingga berbagai aktivitas pembinaan di asrama menjadi rutinitas yang dijalani para siswa setiap hari.

Melalui penyelenggaraan Sekolah Rakyat, pemerintah berharap anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh akses pendidikan yang berkualitas tanpa terbebani biaya. Lebih dari itu, sistem pendidikan berasrama diharapkan mampu membentuk karakter, meningkatkan prestasi, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya generasi yang mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendidik, serta para Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi fondasi penting dalam menyukseskan program tersebut, sehingga manfaat Sekolah Rakyat dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Secara nasional, pelaksanaan MPLS Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 dilaksanakan secara bertahap di 101 titik di seluruh Indonesia. Sebanyak 93 Sekolah Rakyat permanen dan delapan sekolah rintisan mengikuti pembukaan dalam empat gelombang. Gelombang pertama telah dimulai pada 14 Juli 2026, disusul gelombang kedua pada 31 Juli 2026, sementara sekolah lainnya akan melaksanakan MPLS pada pertengahan hingga akhir Agustus. Pemerintah berharap seluruh Sekolah Rakyat dapat menjadi fondasi lahirnya generasi unggul sekaligus memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di berbagai daerah. (Aris)