10 Februari 2026

Ramadhan: Realitas dan Kualitas Ibadah Umat

Oleh : Asruri Muhammad

Pemerhati Sosial Keagamaan, tinggal di Jakarta Selatan.

KoranRakyat.co.id —Ramadhan sebentar lagi. Setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, realitas umat Islam kembali disibukkan oleh perdebatan yang nyaris rutin dan sensitif: soal metode penetapan awal dan akhir bulan—ru’yatul hilal atau hisab. Diskusi ini sering berlangsung serius, bahkan emosional.

Namun di tengah perdebatan itu, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan jarang diajukan: bagaimana kualitas ibadah puasa umat Islam itu sendiri? Apakah Ramadhan benar-benar hadir sebagai bulan ibadah, atau sekadar penanda waktu menuju libur panjang dan euforia lebaran?

Perdebatan tentang metode penetapan awal dan akhir Ramadhan sejatinya bukan hal baru. Sejak masa Rasulullah ﷺ, umat Islam diarahkan untuk memulai dan mengakhiri puasa berdasarkan ru’yatul hilal. Praktik ini dijalankan secara konsisten oleh para sahabat, tabi’in, hingga imam-imam mazhab. Ru’yah bukan semata metode teknis, melainkan bagian dari sunnah ibadah yang bersifat kolektif dan mudah dijangkau oleh umat pada masanya.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, manusia semakin memahami keteraturan peredaran matahari dan bulan. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa keduanya berjalan menurut perhitungan yang pasti. Dari sinilah kemudian berkembang metode hisab sebagai sarana ilmiah untuk mengetahui waktu. Dalam konteks ini, hisab dan ru’yah sejatinya tidak harus dipertentangkan, karena keduanya berangkat dari satu tujuan yang sama: memastikan ibadah dilakukan pada waktunya secara sah dan meyakinkan.

Perbedaan metode seharusnya dipahami sebagai perbedaan wasilah, bukan perbedaan tujuan ibadah. Hisab memberikan kepastian ilmiah, sementara ru’yah menjaga keterhubungan umat dengan praktik sunnah yang bersifat ritual dan kolektif. Keduanya memiliki ruang masing-masing dalam tradisi keislaman.

Namun persoalan umat tidak berhenti pada soal metode. Justru di sinilah problem yang lebih besar kerap luput dari perhatian.

Di tengah keseriusan membahas awal dan akhir Ramadhan, kita dihadapkan pada realitas sosial yang memprihatinkan. Masih ada sebagian umat yang kadang menjalankan puasa hanya sebagian hari, atau sebagai formalitas, sehingga esensi Ramadhan kurang terasa. Ada yang hanya berpuasa di awal sebagai bentuk rutinitas, dan di akhir demi legitimasi lebaran, sementara hari-hari di tengah Ramadhan berlalu tanpa kesungguhan ibadah.

Ironisnya, kelompok ini seringkali justru tampak paling sibuk menjelang akhir Ramadhan. Bukan sibuk memperbanyak ibadah, melainkan sibuk mempersiapkan mudik, belanja, dan berbagai agenda duniawi. Masjid ramai di awal Ramadhan, tetapi lengang di pertengahan dan bahkan sepi di akhir Ramadhan. Diskusi hangat terjadi tentang penetapan Idul Fitri, sementara kualitas puasa dan kejujuran ibadah jarang menjadi bahan muhasabah.

Fenomena menarik pun muncul di sekitar kita. Di awal Ramadhan, banyak warung makan menutup diri, mungkin untuk menghormati orang yang berpuasa. Namun setelah beberapa hari, mereka buka kembali, dengan menutupi pintu dan jendela kaca dengan tirai atau kain—seolah “berhijab” karena malu dilihat ada orang yang sedang makan. Sebuah pemandangan lucu yang sekaligus menyiratkan kesadaran sosial spontan di bulan suci.

Fenomena-fenomena seperti ini menunjukkan bahwa problem utama umat bukan semata apakah Ramadhan dimulai dengan ru’yatul hilal atau hisab, melainkan apakah Ramadhan benar-benar dihidupi sebagai bulan pembinaan iman. Ketika metode diperdebatkan dengan emosi, tetapi substansi ibadah diabaikan, Ramadhan berisiko kehilangan ruhnya.

Padahal puasa adalah ibadah yang sangat personal dan jujur. Ia tidak mudah diawasi oleh manusia, karena bergantung pada kesadaran dan integritas diri. Jika Ramadhan justru direduksi menjadi rutinitas kalender dan persiapan perayaan, yang hilang bukan hanya pahala, tetapi juga hikmah.

Karena itu, lebih dari sekadar memperdebatkan metode, Ramadhan seharusnya menjadi ruang muhasabah bersama: sejauh mana puasa membentuk iman, akhlak, dan kepedulian sosial kita. Perbedaan metode tidak semestinya menjauhkan umat dari esensi ibadah, apalagi memecah persaudaraan.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah ketakwaan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga atau meramaikan perdebatan metode.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya selain lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)

Hadits ini menjadi peringatan bahwa Ramadhan bisa berlalu tanpa makna jika puasa hanya dijalani sebagai rutinitas atau formalitas. Ketika energi umat habis pada perdebatan awal dan akhir Ramadhan, tetapi kualitas ibadah dan akhlak justru terabaikan, di situlah Ramadhan kehilangan ruhnya.

Akhirnya, Ramadhan yang berhasil bukan ditandai oleh seragamnya awal dan akhir puasa, melainkan oleh lahirnya pribadi-pribadi yang lebih bertakwa setelah ia berlalu. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momen bagi kita semua untuk memperbaiki diri, meneguhkan iman, dan meningkatkan ketakwaan.(*)