10 Februari 2026

Komunikasi Massa: Ramai Informasi, Minim Pemahaman

Oleh: Ahmad Mushlih, Mahasiswa aktif Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang

KoranRakyat.co.id —-Di tengah derasnya arus informasi yang kita konsumsi setiap hari, masyarakat justru semakin mudah bingung dan terpecah. Berita datang silih berganti, opini berseliweran di media sosial, dan potongan informasi tersebar tanpa henti.

Ironisnya, kondisi ini tidak selalu membuat publik semakin memahami persoalan, tetapi justru sering menimbulkan salah paham dan reaksi emosional. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan komunikasi massa hari ini bukan terletak pada kurangnya informasi, melainkan pada lemahnya pemahaman masyarakat terhadap informasi itu sendiri.

Banyaknya informasi sering kali dianggap sebagai tanda kemajuan. Namun dalam praktiknya, informasi yang berlimpah tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Publik kerap menerima informasi secara cepat tanpa sempat mencerna isinya secara utuh. Judul berita dibaca, potongan video ditonton, lalu kesimpulan langsung diambil. Proses berpikir yang seharusnya menyertai penerimaan informasi sering kali terlewatkan.

Dalam konteks inilah komunikasi massa perlu dilihat bukan sekadar sebagai proses penyampaian pesan, tetapi sebagai proses pembentukan makna. Informasi yang disampaikan media tidak hanya memberi tahu publik tentang suatu peristiwa, tetapi juga memengaruhi cara publik memahami dan menilai peristiwa tersebut. Tanpa pemahaman yang cukup, informasi justru berpotensi menyesatkan, meskipun disampaikan dengan niat yang baik.

Dalam kajian komunikasi massa, kondisi ini menunjukkan adanya masalah dalam proses penyampaian dan penerimaan pesan. Media massa pada dasarnya memiliki fungsi penting, yakni memberikan informasi, mendidik publik, dan membantu masyarakat memahami realitas sosial. Media menjadi penghubung antara peristiwa dan pemahaman publik. Namun, tuntutan kecepatan dan persaingan perhatian membuat fungsi tersebut tidak selalu berjalan optimal.

Akibatnya, banyak isu publik dipahami secara dangkal. Masyarakat mengetahui bahwa suatu peristiwa terjadi, tetapi tidak memahami konteks, latar belakang, dan dampaknya. Informasi lebih sering diperlakukan sebagai konsumsi cepat, bukan sebagai bahan refleksi. Dalam situasi seperti ini, komunikasi massa tidak sepenuhnya membantu publik berpikir, melainkan hanya memicu reaksi sesaat.

Peran media sosial semakin memperkuat persoalan tersebut. Di ruang digital, siapa pun dapat menjadi penyampai pesan. Informasi menyebar dengan cepat, tetapi tidak selalu melalui proses verifikasi. Fakta dan opini bercampur, bahkan sering kali sulit dibedakan. Publik akhirnya menerima berbagai pesan dalam kondisi mentah, lalu menafsirkannya berdasarkan emosi atau preferensi pribadi.

Kondisi ini semakin terlihat ketika isu-isu publik dibahas secara dangkal dan terburu-buru. Banyak orang merasa sudah memahami suatu persoalan hanya karena membaca satu berita atau melihat satu unggahan. Padahal, pemahaman yang utuh membutuhkan konteks, latar belakang, dan sudut pandang yang beragam. Tanpa itu, opini publik mudah terbentuk di atas asumsi, bukan pada pemahaman yang matang.

Kondisi ini juga membuat opini publik mudah terbentuk tanpa landasan pemahaman yang kuat. Apa yang sering muncul di media dianggap penting, sementara isu lain terpinggirkan. Perhatian publik pun lebih banyak diarahkan oleh apa yang ramai dibicarakan, bukan oleh apa yang substansial. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi melemahkan kemampuan masyarakat dalam menilai persoalan secara kritis.

Minimnya pemahaman juga tercermin dalam cara masyarakat menyikapi perbedaan pendapat. Perbedaan sering kali dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari diskusi yang wajar. Ruang dialog menyempit, sementara emosi semakin mendominasi percakapan publik. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi massa belum sepenuhnya mendorong budaya berpikir kritis dan dialog yang sehat.

Padahal, komunikasi massa memiliki peran strategis dalam membentuk cara berpikir masyarakat. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memengaruhi cara publik memahami dan menilai realitas. Jika informasi disampaikan tanpa konteks yang memadai, maka pemahaman yang terbentuk pun menjadi tidak utuh.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam mengonsumsi informasi. Tidak semua informasi perlu langsung dipercaya. Membaca lebih dari satu sumber, tidak terburu-buru menarik kesimpulan, serta berani mempertanyakan isi pesan merupakan langkah sederhana untuk meningkatkan pemahaman. Sikap ini penting agar publik tidak mudah terseret oleh arus informasi yang terus bergerak.

Pada akhirnya, tantangan utama komunikasi massa di Indonesia bukanlah soal kecepatan atau jumlah informasi, melainkan soal kualitas pemahaman. Media memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberi konteks yang memadai. Di sisi lain, masyarakat perlu membangun sikap lebih kritis dalam mengonsumsi informasi. Tanpa upaya bersama ini, komunikasi massa hanya akan melahirkan kebisingan, bukan pemahaman yang dibutuhkan dalam kehidupan publik dan demokrasi. (*)