16 Desember 2025

4 Negara Asia Tenggara Diterjang Banjir dan Badai, Indonesia Tercatat  dengan Angka Kematian Tertinggi  

 

KoranRakyat.co.id  –Sebanyak 4 negara di kawasan  Asia Tenggara diterjang banjir dan badai beberapa hari terakhir dan Indonesia tercatat  sebagai  negara dengan angka kematian tertinggi!

Dilansir Inilah.com Asia Tenggara kini tengah berada dalam cengkeraman cuaca ekstrem. Krisis iklim dan hujan yang mengguyur tanpa henti telah memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor masif di empat negara kawasan: Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Data terbaru mencatat, total korban jiwa di empat negara tersebut telah mel ampaui 300 orang, dan mirisnya, angka kematian terbanyak justru berasal dari Indonesia.

Kondisi jalan dekat Gerbang Kota Padang Panjang di kawasan Jembatan Kembar menuju Lembah Anai, Sumatera Barat, yang tertimbun material tanah dan bebatuan dari banjir bandang yang terjadi pada Kamis (27/11/2025) siang. (Foto: Inilah.com)

Indonesia Memimpin Daftar Korban Tewas

Hingga Jumat (28/11/2025) malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data yang mencemaskan dari wilayah Indonesia. Bencana banjir dan longsor di Sumatera –meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat– telah merenggut total 174 jiwa. Angka ini menempatkan Indonesia di urutan teratas dalam daftar korban bencana di Asia Tenggara saat ini.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merinci bahwa Sumatera Utara menjadi provinsi dengan dampak paling parah, mencatat 116 orang tewas dan 41 orang masih dalam pencarian. Sementara itu, Sumatera Barat  mencatat 23 korban tewas –dengan Kota Solok dan Padang sebagai area terdampak paling parah– dan di Aceh, korban tewas tercatat sebanyak 35 orang.

Tingginya angka korban di Indonesia ini mengindikasikan kerentanan infrastruktur dan perlunya peningkatan sistem mitigasi bencana di wilayah rawan longsor dan banjir.

Songkhla Berdarah: Thailand Catat 145 Kematian

net

Thailand, yang dilanda banjir selama berhari-hari di wilayah selatan, mencatat angka kematian yang signifikan. Berdasarkan laporan AFP, sebanyak 145 orang dilaporkan tewas . Sebagian besar korban berasal dari Provinsi Songkhla.

Kengerian di Thailand tergambar jelas dari foto-foto yang beredar, di mana jasad korban terpaksa diikatkan ke tiang lampu untuk mencegah mereka hanyut terbawa arus deras.

Pihak berwenang meyakini, jumlah korban tewas masih berpotensi bertambah seiring proses pencarian dan penyelamatan yang terus dilakukan di area yang baru mulai surut airnya.

Vietnam: Banjir Terparah Setengah Abad

Di Vietnam, krisis iklim telah memicu banjir yang dikategorikan sebagai terparah sejak 50 tahun terakhir. Direktur Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional Vietnam (NCHMF), Mai Van Khiem, menyebut curah hujan dan banjir di wilayah tengah-selatan pada 16 hingga 23 November sebagai peristiwa ekstrem yang melampaui seluruh catatan sejarah.

“Peristiwa semacam itu nyaris tak pernah terjadi dalam lebih dari setengah abad,” ujar Mai, dikutip Xinhua.

Hingga Jumat (28/11/2025), bencana di Vietnam, yang melanda wilayah seperti Dak Lak, Gia Lai, dan Lam Dong, telah mengakibatkan 102 orang tewas, merusak lebih dari 1.150 rumah, dan menghancurkan lebih dari 80.000 hektare lahan padi dan tanaman pangan.

Malaysia dan Filipina: Derita di Perbatasan

Malaysia juga tak luput dari hantaman siklon. Banjir melanda delapan negara bagian, termasuk Kelantan, Penang, dan Perlis. Menurut South China Morning Post (SCMP), hingga Kamis (27/11/2025), dua orang di Malaysia dilaporkan tewas, dan lebih dari 30.000 jiwa harus dievakuasi ke tempat aman.

Warga Perlis menggambarkan situasi di negara bagian Kangar yang berbatasan dengan Thailand sangat mengerikan. “Airnya seperti lautan. Begitulah kelihatannya,” kata warga setempat, Gon, dikutip Reuters.

Sementara itu, di awal dan pertengahan November, Filipina juga sempat dilanda banjir yang menambah daftar panjang negara ASEAN yang harus berjibaku melawan bencana hidrometeorologi.

Total korban tewas di empat negara utama (Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia) yang mencapai lebih dari 300 jiwa ini menjadi lonceng peringatan keras bagi seluruh pemimpin ASEAN. Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang menuntut aksi mitigasi dan adaptasi infrastruktur secara serius dan terintegrasi di seluruh kawasan. (*)