Cermin Wajah NKRI, PLBN Serasan Ditambah Sarpras dan Revitalisasi, Agar Bisa Garap Peluang Internasional


KR Natuna- PLBN Serasan sebagai salah satu cermin wajah NKRI di Bagian Utara yang sejak diresmikan 2026 lalu harus terus dibenahi.
Meski hingga 2026 masih belum signifikan mendorong pertumbuhan kawasan ekonomi baru seperti amanah tujuan PLBN dibangun, tetapi bukan berarti PLBN Serasan tak punya peluang.
PLBN Serasan Target Priorotas Revitaisasi
Deputi I Bidang Pengelolaan Lintas Batas Negara Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Nurdin, menyebut PLBN Serasan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, masuk daftar prioritas. Pemerintah menargetkan revitalisasi besar-besaran Pos Lintas Batas Negara (PLBN) pada 2026.
Saat ini kondisi PLBN Serasan meski menjadi Wajah Negara justru kondisinya mirip pelabuhan lokal, denyut ekonomi pesisir yang tradisional, dengan tata kelola yang serba terbatas.
Tahun depan anggaran revitalisasi telah diikat dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) BNPP.
“Kami menggandeng Kementerian Perhubungan dan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk percepatan kelembagaan dan fasilitas kepabeanan, yang masih dalam proses,” jelas Nurdin disela kunjungan ke PLBN Serasan.
Nurdin menyoroti tren naiknya kunjungan kapal yacht internasional di perairan Natuna. Fenomena itu, kata dia, membuat PLBN Serasan tak lagi cukup diperlakukan sebagai pos perbatasan biasa.
Pemerintah akan segera menjadikan PLBN Serasan titik exit–entry berbasis maritim terbuka bagi kapal dari mana pun, tanpa memandang bendera atau negara asal, bahkan dirancang terkoneksi dengan minimal delapan negara melalui jejaring lintas-batas laut.
Tak mudah muwujudkannya, ambisi itu berhadapan dengan realitas, tiadanya pasar representatif, pasar tradisional tanpa penataan, kelangkaan kendaraan operasional, hingga absennya ruang logistik terpadu.
“Ini bisa jadi gerbang ekonomi baru. Tapi fasilitasnya belum layak,masih sangat perlu revitaisasi menyeluruh ” ucap Nurdin.
Gebrakan Bupati Natuna Cen Sui Lan
Menyikapi kondisi ini Bupati Natuna Cen Sui Lan tak menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan moment untuk mengusulkan langkah yang lebih berani.
Kesemptan itu datang dalam moment rapat kerja Pengelolaan Perbatasan Wilayah Negara di Ballroom Adiwana Jelita Sejuba, Rabu, (26/11/2025) bagian dari Masa Persidangan II, Tahun Sidang 2025–2026— yang dihadiri yTim Panitia Kerja (Panja) Pengelolaan Perbatasan Wilayah Negara Komisi II DPR RI dipimpin Zulfikar Arae Sadikin S.i.P.M.Si selaku ketua Tim/wakil ketua komisi II DPR RI/dari fraksi Golkar, Ahmad Wasir Noviadi selaku Anggota / dai fraksi Gerindra dam Azia Subekti.M.T selaku Anggota dari fraksi Gerindra
Tim ini juga didampingi Dr.Nurdin,Msi selaku deputi pengelolaan Batas wilayh Negara BNPP-RI
Bupati Natuna Cen ui lan memaparkan strategi revitalisasi PLBN Serasan, sekaligus menawar kerangka pembangunan komprehensif bagi Natuna.
dalam Rapat yang juga dihadiri Wakil Bupati Jarmin, DPRD Natuna, Forkopimda, Komando Armada I, perwakilan BNPP, hingga Kanwil BPN Kepri.
Urusan PLBN Serasan bukan hanya soal dermaga, Wajah Negara cermin Kedaulatan.
Cen Sui Lan selaku Bupati Natuna menytakan tak suka dengan frasa “beranda terdepan” karena selama ini hanya jadi slogan tahunan,

“Beban kami di Natuna ini bukan garis batas negara semata. Ada pertahanan, pengawasan maritim, dan kesejahteraan warga di pulau-pulau terluar, Natuna ini Wajah NKRI ,cermin terdekat yang dilihat Negara Tetangga” ujarn Cen tegas.
Keterbatasan fiskal, kewenangan daerah, dan ruwet regulasi membuat PLBN Serasan berjalan di titik minimum secara kelembagaan, infrastruktur, hingga aturan perdagangan.perlu status lebih.
Simbol Hadirnya Negara
Dalam presentasi bertajuk Membangun Wilayah Perbatasan Melalui Revitalisasi PLBN Serasan,
Cen menegaskan, PLBN Serasan harus dipandang sebagai simbol hadirnya negara di palung paling luar. Bagi Cen, revitalisasi mesti berdiri di tiga pilar sekaligus pertahanan, politik-kedaulatan, dan sosial-ekonomi, bukan hanya pilar semen dan kaca.
7 Gebrakan Usulan Bupati Natuna Cen Sui Lan
Dari pilar ketiga, ia sodorkan tujuh “jurus” kebijakan yang tak lagi bernada permohonan, melainkan cetak-biru transformas
1. Penguatan tata kelola dan kelembagaan PLBN,
2. Peningkatan keamanan maritim di Laut Natuna Utara,
3. Pengembangan infrastruktur logistik dan ekonomi,
4. Revisi batas transaksi perdagangan sesuai kebutuhan perbatasan,
5. Penetapan PLBN sebagai kawasan perdagangan perbatasan,
6. Penegasan status exit–entry point resmi, dan
7. Penetapan Pelabuhan Serasan sebagai pelabuhan internasional.
Cen menyebutnya bukan daftar permintaan bantuan.
“Ini kerangka komprehensif untuk menutup keterputusan logistik dan membuka simpul ekonomi baru,” katanya.
Respon Komisi II DPRRI
Wakil Ketua Kominsi II DPR-RI, Zulfikar merespons dengan apresiasi, tapi sekaligus memberi garis bawah.
“PLBN tak perlu megah. Ia harus fungsional—untuk pertahanan, pelayanan publik, dan ekonomi warga,” ucapnya. Ia mengingatkan PLBN kerap bernasib seperti monumen: diresmikan, lalu sunyi.
“Natuna itu cermin komitmen negara di perbatasan,” pungkasnya.
PLBN Serasan Butuh Peningkatan Status
- PLBN Serasan perlu ditetapkan sebagai Titik Entry/Eksit point
Kepada KR, kepala PLBN Serasan Wendriady menjelaskna jika selain Pelabuhan Anambas dan pelabuhan PLBN Naruna dilintasi Jalur Circumnavigasi para pelayar dunia yang hendak kembali ke Australia dan New Zealand
Dan juga bagi mereka yang menuju Nee Caledonia dan Fiji. Dan sebaliknya dari Sabah, Serawak dan Brunei menuju ke Malaysia main land.
“Saat ini Anambas sudah ditentukan sebagai Entry dan Exiit point. Namun PLBN Serasan di Natuna belum Ditetapkan Sebagai Titik Entry dan Exit point , kondisi ini menjadi handikap karena tidak bisa Exit atau Entry di Natuna. maka uprgade dan revitaliai PLBN Serasan menjadi kebutuhan mendesak.” jelasnya
Dengan penetapan PLBN Serasan sebagai titik Entry dan Exit Point tentu banyak sektotr peluang yang bisa digarap.
“Pariwisata bisa cepat berkembang karena Hubungan Internaional Bia Terkoneksi baik, Kapal Pesiar hingga 10.000 Gt bisa sandar bawa ribuan wisatawan.” tambah Wendriady.
2. Status Pelabuhan Pendaratan Ikan
PLBN Serasan juga tak jauh dari Wilayah Perikann tangkaop 711, ada ribuan kapl asing maupun kapal Lokal yang mengarap Sektor laut di WP 711, Pelabuhan PLBN Serasan Bisa jadi Alternatif ribuan kapal tersebut berlabuh berlindung untuk berteduh saat suaca buruk, maupun menjadi titik cek point Kapal tangkap Perikanan yang menagkap Ikan di WP 711. Pemerintah Bisa Menambah demaga PPI tersebut di sebelah Kanan dermaga PLBNSerasa Saat Ini.
3. Status Titik Labuh Kapal
Tak kalah dari Singapura dan Batam, disekitar Perairan PLBN Serasan juga memiliki draf yang memadai, hingga bisa menjadi tempat labuh kapal niaga yang lewat ALKI 1, ada ribuan Kapal Niaga kecil hingga besar yang lewat jalur sutra yang menghubungkan perdagangan Dunia, jalur ini sangat padat
Dengan ditetapkan sebagai salah satu tituk labuh di di propini Kepulauan Riau maka Pihak Propini Kepri bisa pungut pajak labuh, ini bisa jadi potensi PAD Kepri dan Natuna yang bisa digarap.
PLBN Serasan Butuh Kapal Untuk mulai Buka Hub Intenaional
Yang tak kalah penting, untuk memperbesar arus kunjungan antar Negara guna membuka hubungan Internasional. Prasarana Kapal berkapasitas minimal 30 penumpang antar kedua negara sangat dibutuhkan,
Sarana ini bisa membuka hubungan Serasan menuju Semitan Malaysia (Sabah) bahkan bisa hingga menuju Pelabuhan Banrarsribegawan Brunaidarusalam.
Sesauai peraturan Internasional Kapal Harus bei atau minimal Alumunium sepertihalnya kapal yang menghubungkan Batam-Malaysia/Batam-Singapur. Investasinya memang mahal.
” Sampai saat ini belum ada pengusaha swasta yanag berminat membuka jalur ini, mungkin karena butuh investasi besar jadi belum ada ynag memulai, mak perlu diskri dari pemerintah daerah maupun pemerintah Pusat, memang minimal harus ada subsidi seperm kapal perintis yang ada, Mngkin BUMD Kabupaten Natuna, bisa juga Kebijakan dari Kementrian Perhubungan atau Lembaga lainnya” Jela Wendriady.
Keunggulan PLBN Serasan
Di tinjau dari segi letak Georafis PLBN Serasan merupakan pelabuhan pintu masuk dari 7 titik garis panggal batas NKRI yang meliputi PULAU TOKONGBORO (Tidak Berpenduduk). PULAU SEMIUN (Tidak Berpenduduk), PULAU SEBETUL (Tidak Berpenduduk, PULAU SEKATUNG (Tidak Berpenduduk). PULAU SENOA (Tidak Berpenduduk) , PULAU KEPALA (Tidak Berpenduduk), PULAU SUBI KECIL (Berpenduduk)
Pelabuhan PLBN Serasan Meiliki draf Pelabuhan ynag Cukup dalam yang dapat disandari atau tempat labuh kapal ukuran sedang hingga 10.000 GT
Untuk Sarana sudah cukup memadai bisa beroperasi dan siap jika diupgrade tingkatkan guna mampu menghandle bukan hanya kebutuhan pelayaran lokal tapi hingga level internasional.
Potensi sektor Pariwisata yang indah,kaya dan alami PLB Serasan sudah sukses dukung digelarnay perheltan Sail Yatch, Parade Jet Ski air
Potensi perikanan budidaya dan perikanan tangkap karena dekat wilayah perairan Tangkap WPb 711
Potensi Pengembangan PLBN Serasan

PLBN Serasan karena terletak di jalur ALKI 1 yang merupakan jalur perdagangan sutra yang padat dan temasyur maka PLBN Serasan memiliki keunikan dibanding PLBN darat, jika PLBN darat menguhubungkan satu negara dengan satu negara (sibgle phase) maka PLBN Serasan Merupakan PLBN jalur Laut yang bisa menghubungkan negara dengan lebih banyak Negara, Minmal 10 Negara bisa terhubung langung lewat lajur laut dengan PLBN Serasan.
Pelabuhan asal negara Malaysia (sabah), Brunai Darusalam, Vietnam, Thailand, Birma, Phiipina, Hongkong, Jepang, korea utara, Korea Selatan, bisa terhubung langusng dengan PLBN Serasan
Saat ini Perdagangan Maritim Indonesia-Malaysia melalui PLBN Serasan kini menjadi jalur resmi perdagangan laut antara Indonesia (Pulau Serasan, Natuna) dan Malaysia (Sematan, Serawak).
Warga Serasan mengunakan Kapal Motor yang berkapasitas 8 Ton atau 6 GT yang memilik 3 Anak Buah Kapal untuk bisa masuk di wilayah Sematan dan membawa barang bawaan berupa Ikan tangkapan kelas A dan B dari hasil tangkapan nelayan Serasan dan kepulangannya membawa segala kebutuhan warga Serasan. *(red)
