16 Desember 2025

Milad ke-113 Muhammadiyah: Momentum Pembaruan, Penguatan Manajemen, dan Gerakan Pencerahan Umat

 Oleh: Zulkipli Jemain

Dosen FAI UM Palembang

KoranRakyat.co.idMemasuki usia 113 tahun, Muhammadiyah kembali meneguhkan po­si­sinya sebagai salah satu kekuatan peradaban Islam di Indonesia. Sejak didirikan KH. Ahmad Dahlan pada 1912, gerakan ini telah tumbuh menjadi organisasi modern yang berpengaruh dalam pendidikan, kesehatan, dakwah, sosial, dan kemanusiaan. Di Sumatera Selatan, jaringan amal usaha Muhammadiyah berkembang sebagai instrumen penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan memperkuat basis dakwah berkemajuan.

Milad ke-113 bukan sekadar peringatan historis, tetapi momentum untuk melakukan refleksi, pembaruan, dan penataan manajemen organisasi agar semakin responsif terhadap tantangan zaman.

Muhammadiyah sebagai Transformasi Gerakan Islam Modern

Sejak awal, Muhammadiyah lahir sebagai gerakan tajdid—pembaruan—yang memadukan tiga kekuatan utama:

  1. pemurnian ajaran Islam berbasis al-Qur’an & Sunnah,
  2. modernisasi pendidikan, dan
  3. pemberdayaan sosial.

Di Sumatera Selatan, sejak awal abad ke-20, Muhammadiyah berperan mengubah wajah kehidupan masyarakat melalui sekolah, madrasah, rumah sakit, masjid, dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Aset historis inilah yang menjadi fondasi kuat mengapa Persyarikatan tetap relevan hingga hari ini.

Islam Berkemajuan sebagai Basis Gerakan

Gerakan Muhammadiyah bertumpu pada tiga prinsip:

1.Tauhid sebagai Pusat Nilai

Setiap aktivitas ditujukan untuk menegakkan keesaan Allah. Gerakan Muhammadiyah menolak segala bentuk penyimpangan ajaran dan mendorong akhlak yang memuliakan kemanusiaan.

2.Tajdid (Pembaruan)

Gerakan ini mendorong umat Islam untuk:

  1. berpikir maju,
  2. berilmu pengetahuan,
  3. adaptif terhadap perkembangan zaman,
  4. tanpa kehilangan akar religius.

3.Humanitarianisme Universal

Muhammadiyah memandang manusia sebagai subjek pembangunan. Dakwah diarahkan untuk kemaslahatan sosial sebagaimana sabda Nabi:

“Khairunnasi anfa’uhum lin-naas” — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Muhammadiyah sebagai Organisasi Modern Berbasis Sistem

Keberhasilan Muhammadiyah tidak terlepas dari manajemen organisasi yang kuat, terukur, dan profesional. Ciri utamanya:

  1. Struktur Hierarkis yang Efektif

Dari Pusat hingga Ranting, setiap level memiliki kewenangan dan SOP jelas. Ini menciptakan stabilitas dan kesinambungan program.

  1. Kepemimpinan Kolektif-Kolegial

Pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah, sehingga bebas dari dominasi individu dan menjamin akuntabilitas.

  1. Budaya Administrasi yang Teratur

Administrasi, keuangan, dan program selalu berbasis data. Hal ini menjadikan Muhammadiyah dipercaya publik dan pemerintah.

  1. Orgganisasi Pembelajar

Muhammadiyah telah mempraktikkan prinsip Organisasi P3mbelajar:

  1. visi bersama (MKCH, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup),
  2. inovasi berkelanjutan,
  3. dan pengembangan kader sebagai aset utama.

Melalui pendekatan manajerial ini, Muhammadiyah mampu bertahan, berkembang, dan beradaptasi menghadapi tantangan global.

Muhammadiyah mlMrmiliki Kedudukan Sah sebagai Mitra Negara

Secara hukum, Muhammadiyah memiliki legitimasi kuat. Organisasi ini:

  1. diakui sebagai badan hukum sejak masa kolonial,
  2. menjadi penyelenggara pendidikan formal berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional,
  3. dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam bidang kesehatan, sosial, kebencanaan, serta pemberdayaan masyarakat.

Di Sumatera Selatan, sinergi antara pemerintah daerah dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah telah menghasilkan berbagai program pendidikan, sosial, dan ekonomi yang memberi dampak signifikan bagi masyarakat.

Muhammadiyah Membentuk Mental Umat Berkemajuan

Milad ke-113 juga menjadi pengingat akan peran Muhammadiyah membentuk mental dan karakter umat:

  1. Mental Taqwa

Ditopang nilai QS. Ali Imran: 200 tentang kesabaran dan keteguhan.

  1. Mental Mandiri

Budaya kemandirian inilah yang melahirkan ribuan sekolah dan rumah sakit tanpa bergantung pada negara.

  1. Mental Profesional

Warga Muhammadiyah dibiasakan disiplin, terukur, dan tertib dalam setiap aktivitas.

  1. Mental Optimis
  2. Ahmad Dahlan menekankan sikap maju, terbuka terhadap ilmu, dan inovatif—mentalitas yang relevan di era digital dan kecerdasan buatan.

Muhammadiyah Menguatkan Peradaban melalui Amal Usaha

Di Sumatera Selatan, Muhammadiyah telah menjadi bagian penting dari pembangunan melalui:

  1. sekolah dasar hingga perguruan tinggi,
  2. rumah sakit dan klinik,
  3. masjid dan pusat dakwah,
  4. ortom seperti IPM, HW, Tapak Suci, NA,
  5. serta lembaga sosial dan kebencanaan.

Milad sebagai Momentum Evaluasi dan Pembaruan Strategi

Milad bukan hanya perayaan, tetapi juga ruang:

  1. evaluasi capaian organisasi,
  2. refleksi atas dinamika dakwah,
  3. pembaruan strategi pendidikan dan sosial,
  4. penguatan kaderisasi generasi muda.

Gerakan Muhammadiyah harus semakin siap menghadapi:

  1. era digital dan kecerdasan buatan,
  2. tantangan moral remaja,
  3. ekonomi umat yang belum bangkit,
  4. serta kebutuhan dakwah kreatif di era media sosial.

Milad 113 sebagai Tonggak Kebangkitan Peradaban

Di usia 113 tahun, Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai:

  1. gerakan pencerahan,
  2. gerakan sosial-kemanusiaan,
  3. kekuatan moral bangsa,
  4. dan organisasi modern yang berorientasi masa depan.

Milad tahun ini menjadi panggilan bersama bagi warga Muhammadiyah Sumatera Selatan untuk memperkuat:

  1. basis pendidikan,
  2. kemandirian masjid,
  3. profesionalisme amal usaha,
  4. dan sinergi dengan pemerintah daerah serta masyarakat luas.

Dengan visi Islam Berkemajuan, Muhammadiyah akan terus menjadi cahaya yang menyinari perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju peradaban yang adil, makmur, dan bermartabat. (*)