16 Desember 2025

Refleksi Milad Ke-113 Muhammadiyah: Sebuah Asa Hendak Memajukan Kesejahteraan Bangsa  

Oleh: Mukhtarudin Muchsiri

Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang dan Ketua MPD Orda ICMI Koata Palembang

 KoranRakyat.co.id ––Di negeri kepulauan yang luasnya bagai hamparan anugerah, sejarah pernah mencatat langkah seorang Kiai sederhana bernama Ahmad Dahlan. Pada 18 November 1912, dari sudut kampung Kauman di bawah cahaya lentera surau kecil yang kelak menjadi mercusuar perubahan, beliau melahirkan sebuah gerakan yang kini mengakar di seluruh penjuru Nusantara: Muhammadiyah. Sebuah ikhtiar yang lahir bukan dari kegelisahan pribadi, tetapi dari keprihatinan mendalam terhadap nasib umat dan martabat bangsa sebuah.

Perjalanan Muhammadiyah bukan kisah yang berjalan di atas karpet merah. Ia lahir dalam kecurigaan, tumbuh dalam cemoohan, dan menguat dalam luka perjuangan. Di awal dakwahnya, Kiai Dahlan pernah dicap kafir lantaran berani mengadopsi metode pendidikan modern ala Barat. Musholla tempat dakwahnya pun tak luput dari amuk massa. Namun api perjuangan tak pernah padam, justru kian menyala menjadi cahaya pembebas.

Jejak Dakwah Bil-Hal: Dari Surau ke Cakrawala Dunia

Muhammadiyah bertumbuh dengan dakwah bil-hal, dakwah melalui tindakan dan amal nyata. Pendidikan menjadi pilar pertama gerakan. Sebab Kiai Dahlan meyakini, peradaban maju membutuhkan akal sehat yang tercerahkan dan ilmu yang diamalkan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah pun lahir tanpa sekat status sosial—terbuka bagi siapa saja, termasuk masyarakat yang dahulu terpinggirkan.

Seiring berjalannya waktu, rumah sakit, panti asuhan, balai kesehatan, hingga layanan sosial bagi penyandang disabilitas berdiri dari semangat ihsan yang sama. Dari pelosok desa hingga jantung kota, Muhammadiyah hadir tanpa banyak kata, tetapi dengan begitu banyak karya.

Hari ini, Muhammadiyah telah menjelma sebagai salah satu kekuatan sipil terbesar di Indonesia. Jutaan warga belajar, berobat, dan mendapat pemberdayaan melalui amal usaha yang tersebar dari Sabang hingga Merauke bahkan sampai ke luar negeri. Pendidikan, kesehatan, dan sosial bukan lagi sekadar program, melainkan denyut nadi dakwah yang menyatu dengan denyut nadi bangsa.

Dinamika Pertumbuhan: Modern, Berkemajuan, dan Penuh Tantangan

Tak ada pertumbuhan tanpa dinamika. Begitu pula Muhammadiyah. Di tengah gempuran perubahan zaman dan kompetisi global, Muhammadiyah tidak ingin hanya menjadi penonton sejarah. Pada Muktamar ke-47 di Makassar tahun 2015, Muhammadiyah menegaskan pilar gerakannya yang keempat: ekonomi. Transformasi ini bukan semata soal kesejahteraan warga persyarikatan, tetapi juga soal kemandirian dan kontribusi ekonomi dalam kerangka kebangsaan.

Aset Muhammadiyah yang kini tersebar luas baik berupa tanah, gedung, rumah sakit, sekolah, hingga unit usaha adalah potensi besar yang menegaskan bahwa keberagamaan dapat menjadi kekuatan peradaban. Namun dinamika pertumbuhan juga memunculkan otokritik yang perlu diterima dengan lapang dada. Di antaranya, kritik bahwa kader Muhammadiyah tidak semuanya tumbuh dalam tradisi berpikir kritis-ideologis dan kemampuan literasi yang kuat.

Padahal, Kiai Dahlan sendiri adalah pemikir progresif yang berani menggugat kebekuan. Kritik semacam ini sejatinya adalah alarm pengingat bahwa dakwah kemajuan memerlukan generasi yang kuat dari sisi intelektual, kepekaan sosial, dan kemampuan menghadirkan wacana yang mencerahkan semesta.

Membangun Kesejahteraan Bangsa: Tema Besar di Milad Ke-113

Kini, memasuki usia ke-113 tahun pada 18 November 2025, Muhammadiyah membawa tema besar: Memajukan Kesejahteraan Bangsa. Sebuah komitmen yang melampaui kepentingan kelompok atau peran sektoral. Kesejahteraan yang diinginkan adalah kesejahteraan yang menyentuh seluruh wajah bangsa, terutama mereka yang masih terpinggirkan dari arus pembangunan.

Dalam lanskap Indonesia kontemporer, ketimpangan ekonomi masih menjadi ironi sosial. Pendidikan berkualitas masih sulit diakses sebagian warga. Layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat daerah terpencil, belum seluruhnya merata. Muhammadiyah memahami bahwa dakwah bukan hanya soal tausiyah di mimbar, tetapi tentang menghapus air mata kemiskinan dan membuka pintu harapan.

Melalui gerakan pemberdayaan ekonomi umat, penguatan amal usaha, digitalisasi layanan, hingga kolaborasi nasional dan global, Muhammadiyah ingin menghadirkan peta jalan baru yang konkret bagi kesejahteraan bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah adalah kekuatan yang tak pernah absen dalam pelayanan publik. Kini, sejarah menunggu babak lanjutan: daya ungkit ekonomi yang mampu meningkatkan martabat umat.

Asa yang Tak Pernah Padam

113 tahun bukan usia yang pendek bagi sebuah organisasi. Namun bagi Muhammadiyah, usia hanyalah angka yang mengiringi perjalanan dakwah panjang tanpa akhir. Dari Kauman, gerakan ini melebar ke seluruh Nusantara bahkan bersentuhan dengan dunia. Dari surau kecil yang pernah dibakar, kini berdiri universitas dan rumah sakit berkelas internasional.

Perubahan yang terjadi adalah bukti bahwa semangat tajdid-pembaruan tetap menjadi DNA Muhammadiyah. Namun perjuangan belum selesai. Progres belum paripurna. Masih banyak amanah sejarah yang menunggu untuk ditunaikan.

Di tengah dunia yang terus bergerak memasuki era kecerdasan buatan, transformasi digital, dan perubahan sosial yang cepat, Muhammadiyah harus memastikan bahwa nilai-nilai Islam berkemajuan tetap menjadi kompas perubahan. Bahwa kader-kadernya bukan hanya piawai mengelola aset, tetapi juga tangguh di medan pemikiran, menjadi penulis sejarah, bukan sekadar pembaca.

 Meneruskan Cahaya, Menyempurnakan Ikhtiar

Refleksi Milad Ke-113 Muhammadiyah adalah ajakan untuk mengingat kembali jalan panjang perjuangan sambil menatap masa depan dengan tegar. Asa memajukan kesejahteraan bangsa adalah janji yang harus dibuktikan dengan kerja kolektif, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.

Negeri ini membutuhkan lebih banyak pembebas ketertinggalan, lebih banyak penegak keadilan, lebih banyak pelita yang menyala di tengah kegelapan. Muhammadiyah dengan seluruh potensi dan kekuatannya telah lama hadir sebagai pelita itu dan cahaya itu tak boleh redup.

Dari nisan Kiai Dahlan di Kauman, pesan perjuangan terus bergema: bahwa iman harus melahirkan amal dan ilmu harus menerangi kehidupan. Dengan semangat tajdid yang tak pernah padam dan dakwah bil-hal yang tak pernah lelah, Muhammadiyah akan terus melangkah dan membangun bangsa, memuliakan manusia, dan menebar rahmat bagi semesta.

Selamat Milad Ke-113 Muhammadiyah. Teruslah menjadi gerakan yang mencerdaskan, menyehatkan, dan menyejahterakan bangsa. Teruslah menjadi pelita perubahan cahaya yang tak pernah padam. (*)