Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda: Kado Manis Presiden Prabowo Untuk Anak-anak Indonesia di Hari Anak Se-Dunia

Oleh: Mukhtarudin Muchsiri
Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang dan Ketua MPD Orda ICMI Kota Palembang
Hari Anak Se-Dunia dan Refleksi Kasih Sayang
KoranRakyat.co.id –Hari ini, Kamis 20 November 2025, dunia kembali memperingati Hari Anak Se-Dunia yang ke-71 sejak pertama kali ditetapkan pada 20 November 1954. Momentum ini bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan sebuah refleksi mendalam: apakah kita sudah benar-benar memelihara anak-anak dengan penuh kasih sayang?
Kasih sayang terhadap anak tidak selalu diwujudkan dalam kelimpahan harta atau kemewahan. Anak-anak tidak membutuhkan istana megah, melainkan ruang aman untuk tumbuh, gizi yang cukup untuk berkembang, pendidikan yang layak untuk berdaya, serta bimbingan moral dan spiritual agar mereka memahami arah hidup. Itulah hakikat kasih sayang yang sejati: memastikan anak-anak tumbuh normal, sehat, berakhlak dan berilmu.
Namun, realitas dunia masih menunjukkan paradoks. Di satu sisi, ada anak-anak yang beruntung hidup dalam kebahagiaan, tetapi di sisi lain masih banyak yang tumbuh dalam kesengsaraan, bahkan di tengah bencana dan perang berkepanjangan. Kita tidak bisa menutup mata terhadap penderitaan anak-anak Palestina, Suriah, atau wilayah konflik lain yang setiap hari berjuang hanya untuk bertahan hidup.
Di Indonesia, kita patut bersyukur. Negara hadir, sebagaimana amanat UUD 1945 yang menegaskan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Kehadiran negara bukan sekadar janji, melainkan tanggung jawab moral dan konstitusional.
Negara Hadir: Dari Makan Bergizi Gratis Hingga Sekolah Rakyat
Presiden Prabowo Subianto pada Hari Anak Se-Dunia 2025 mencanangkan program besar yang menyentuh langsung kebutuhan dasar anak-anak Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu tonggak penting. Dengan program ini, anak-anak di sekolah dasar hingga menengah mendapatkan jaminan gizi harian yang memadai.
Gizi bukan sekadar urusan perut, melainkan fondasi tumbuh kembang otak dan tubuh. Anak yang kekurangan gizi akan kesulitan belajar, mudah sakit, dan kehilangan kesempatan emas untuk berkembang. MBG adalah bentuk kasih sayang negara yang konkret: memastikan setiap anak Indonesia berangkat sekolah dengan perut terisi, pikiran jernih, dan semangat belajar yang menyala.
Selain itu, lahir pula Sekolah Rakyat dengan beasiswa penuh dari negara. Sekolah ini dirancang untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Pendidikan dasar dan menengah bukan lagi sekadar hak, tetapi benar-benar dijamin oleh negara. Sekolah Rakyat adalah simbol bahwa tidak ada anak Indonesia yang boleh tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi.
Sekolah Unggul Garuda: Melahirkan Talenta Pemimpin Masa Depan
Lebih jauh, Presiden Prabowo menghadirkan Sekolah Unggul Garuda dengan dua model:
- Sekolah Unggul Garuda Transformasi, yang memanfaatkan infrastruktur sekolah yang sudah ada lalu ditingkatkan kualitasnya.
- Sekolah Unggul Garuda Murni, yang dibangun dari awal dengan standar unggul, fasilitas modern, dan kurikulum berkelas dunia.
Keduanya sama-sama berorientasi pada satu tujuan: memutus rantai kemiskinan dan melahirkan talenta unggul yang siap menjadi pemimpin Indonesia masa depan.
Sekolah Unggul Garuda bukan sekadar sekolah elit, melainkan sekolah meritokrasi. Anak-anak dari berbagai latar belakang sosial diberi kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan berkualitas. Dengan beasiswa penuh, mereka tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai kebangsaan, kepemimpinan, dan integritas.
Target besar pun ditetapkan: alumni Sekolah Unggul Garuda diharapkan mampu diterima di 100 kampus unggul dunia. Bayangkan, anak-anak Indonesia dari pelosok desa, dari keluarga sederhana, suatu hari bisa menimba ilmu di Harvard, Oxford, Tokyo University, atau National University of Singapore. Mereka akan kembali membawa ilmu, pengalaman, dan jaringan global untuk membangun Indonesia.
Pendidikan Sebagai Kado Manis di Hari Anak Se-Dunia
Hari Anak Se-Dunia adalah momentum refleksi global. Di banyak negara, anak-anak masih berjuang untuk mendapatkan hak dasar mereka. Tetapi di Indonesia, hadirnya program MBG, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Unggul Garuda adalah kado manis yang nyata.
Kado ini bukan berupa mainan atau pesta, melainkan kesempatan hidup yang lebih baik. Kesempatan untuk tumbuh sehat, belajar tanpa hambatan, dan bermimpi setinggi langit.
Kasih sayang negara diwujudkan dalam kebijakan yang menyentuh akar persoalan: gizi, pendidikan, dan akses. Inilah bentuk kasih sayang yang sejati, kasih sayang yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata.
Refleksi Global: Anak-anak di Dunia yang Masih Berjuang
Meski kita bersyukur atas langkah Indonesia, kita tidak boleh melupakan anak-anak di belahan dunia lain. Anak-anak Palestina, misalnya, masih hidup di bawah bayang-bayang perang. Mereka kehilangan rumah, sekolah, bahkan orang tua. Hari Anak Se-Dunia bagi mereka bukanlah perayaan, melainkan pengingat akan luka yang belum sembuh.
Refleksi ini penting agar kita tidak terjebak dalam euforia. Hari Anak Se-Dunia harus menjadi panggilan moral global: bahwa setiap anak, di manapun ia lahir, berhak atas kasih sayang, gizi, pendidikan, dan kedamaian.
Indonesia dan Amanat Konstitusi
Indonesia memiliki landasan kuat dan fundamental dalam melindungi anak-anak. UUD 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Amanat ini kini diwujudkan dalam berbagai program nyata.
Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda adalah manifestasi dari amanat konstitusi. Negara tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung dan pengasuh. Anak-anak yang tidak memiliki orang tua, anak-anak dari keluarga miskin, semuanya menjadi tanggung jawab negara.
Puitika Pendidikan: Setinggi Birunya Langit
Bayangkan seorang anak dari pelosok wilayah Indonesia yang terkatogeri 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), yang setiap hari berjalan kaki ke sekolah dengan sandal tipis. Dengan hadirnya Sekolah Rakyat, ia kini bisa belajar tanpa khawatir biaya. Dengan program MBG, ia berangkat sekolah dengan perut kenyang. Dengan Sekolah Unggul Garuda, ia bermimpi suatu hari bisa kuliah di kampus dunia.
Langit biru yang cerah menjadi metafora cita-cita. Anak-anak Indonesia kini punya kesempatan untuk terbang setinggi langit, meraih mimpi tanpa batas. Pendidikan adalah sayap, dan negara adalah angin yang mendorong mereka terbang.
Kini, Kasih Sayang itu Menjadi Kebijakan
Hari Anak Se-Dunia ke-71 adalah momentum refleksi. Kasih sayang terhadap anak tidak cukup diwujudkan dalam kata-kata atau perayaan. Kasih sayang harus menjelma menjadi kebijakan, program, dan tindakan nyata.
Presiden Prabowo melalui program MBG, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Unggul Garuda telah memberikan kado manis bagi anak-anak Indonesia. Kado ini bukan sekadar simbol, melainkan jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Di tengah dunia yang masih diliputi konflik dan penderitaan anak-anak, Indonesia menunjukkan bahwa negara bisa hadir, bisa melindungi, dan bisa menghantarkan anak-anak menuju cita-cita tertinggi.
Hari Anak Se-Dunia adalah pengingat bahwa anak-anak adalah masa depan. Memelihara mereka dengan kasih sayang berarti memelihara masa depan bangsa. Dan di Indonesia, kasih sayang itu kini menjelma menjadi sekolah, gizi, dan mimpi setinggi langit.(*)
