9 Maret 2026

Konsisten  Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Oleh : Dr.H.Supadmi Kohar,MM.,C.P.Ht

Alumni Doktor Psikologi Pendidikan Islam Univ.Muhammadiyah Yogyakarta/Ketua Dewan Pendidikan Sumsel & Ketua Dewan Pakar Dewan Masjid Indonesia Sumsel

KoranRakyat.co.id —–“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan banyak mengingat Allah” (Q.S. Al-Ahzab 33:21). Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan undangan eksistensial bagi setiap muslim untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai pusat orientasi moral, sosial, dan spiritual. Dalam konteks kekinian, keteladanan Nabi bukan hanya relevan, tetapi menjadi semakin urgen, terutama dalam ranah kepemimpinan publik.

Setiap tahun, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk cinta, syukur, dan penghormatan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Namun, peringatan ini bukan sekadar ritual seremonial yang diwarnai dengan bacaan shalawat, ceramah,  Lebih dari itu, Maulid Nabi harus menjadi momentum spiritual dan moral bagi seluruh umat, terutama para pemimpin dan pejabat publik, untuk kembali merenung dan meneladani ajaran serta akhlak Nabi yang mulia-terutama dalam tutur kata dan cara berbicara yang penuh hikmah, adab, dan kebijaksanaan.

Di tengah situasi sosial-politik saat ini, kita sering menyaksikan gejolak yang muncul bukan karena kebijakan besar, melainkan karena salah ucap seorang pejabat. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka, terkadang tanpa pertimbangan matang, menimbulkan keresahan, kekecewaan, bahkan perpecahan di tengah masyarakat. Sebuah pernyataan yang tidak terkendali bisa memicu aksi protes, memperuncing polarisasi, dan merusak kepercayaan publik. Ironisnya, dalam era digital, sebuah kalimat yang keliru bisa menyebar lebih cepat daripada penjelasan atau klarifikasi yang disampaikan kemudian.

Dalam tradisi Islam, ucapan bukan sekadar bunyi, tetapi merupakan cermin jiwa. Sebagaimana sabda Nabi: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sini, kita belajar bahwa lisan adalah amanah. Setiap kata yang diucapkan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Betapa besar tanggung jawab yang dibebankan pada lisan, apalagi jika yang berbicara adalah pemimpin publik yang punya pengaruh luas.

Rasulullah SAW bukan hanya pembawa risalah, tetapi juga sosok yang sempurna dalam akhlak dan kepribadiannya. Beliau dikenal dengan empat sifat utama yang menjadi fondasi kepemimpinannya: Shiddiq (jujur), Amanah (dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Empat sifat ini  menjadi tolok ukur ideal bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan, terutama di ruang publik. Lisan seorang pemimpin harus mencerminkan kejujuran, kepercayaan, kejelasan pesan, dan kecerdasan berpikir.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Ayat ini menegaskan bahwa ajakan, komunikasi, bahkan perdebatan harus dilakukan dengan al-hikmah (kebijaksanaan), al-mau’izhah al-hasanah (nasihat yang baik), dan bil-lati hiya ahsan (dengan cara yang terbaik). Bukan dengan cercaan, ejekan, atau retorika yang memecah belah. Ini adalah prinsip dasar komunikasi dalam Islam: mengedepankan kebaikan, bukan kekerasan verbal.

Begitu pula dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159, Allah SWT berfirman:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) bersikap lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan musyawarahlah dengan mereka dalam urusan (kepemimpinan). Maka apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Ayat ini adalah pelajaran terbesar bagi para pemimpin: kelembutan, pengampunan, musyawarah, dan tawakal adalah kunci kepemimpinan yang diridhai Allah. Rasulullah SAW tidak pernah memarahi, mempermalukan, atau merendahkan siapa pun—meskipun berbeda pendapat. Beliau tetap menjaga martabat setiap manusia. Dalam suatu peristiwa, seorang Badui kencing di masjid. Para sahabat marah dan ingin menghukumnya. Namun Rasulullah malah menyuruh mereka menunggu hingga si Badui selesai, lalu berkata: “Kalian telah diutus untuk memudahkan, bukan untuk menyulitkan.” (HR. Bukhari). Ini adalah contoh nyata kepemimpinan yang penuh empati dan kebijaksanaan.

Dalam bertindak dan berbicara, Rasulullah juga dikenal dengan empat prinsip utama:

  1. Al-Hujajul Balighah (Argumen yang menyentuh hati dan pikiran): Setiap ucapan Rasulullah penuh hujjah yang kuat, logis, dan menyentuh akal serta perasaan. Tidak emosional, tidak provokatif. Beliau mampu meyakinkan musuh  dengan kata-kata yang penuh hikmah.
  2. Al-Adabus-Sam’iyah (Adab Mendengar dan Berbicara yang Tinggi): Nabi SAW selalu mendengarkan dengan sabar, tidak menyela, dan merespons dengan penuh hormat. Ini mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin harus rendah hati, mau mendengar rakyatnya, bukan malah memaki atau menertawakan keluhan masyarakat.
  3. As-Salibul Hakimah (Gaya Berbicara yang Bijaksana): Gaya bicara Rasulullah lembut, tegas, namun tidak kasar. Beliau mampu menyelesaikan konflik hanya dengan satu kalimat yang penuh hikmah. Kebijaksanaan dalam tutur kata justru menaikkan wibawa, bukan merendahkan.
  4. As-Siyasatul Hakimah (Kebijakan dalam Berkata sesuai Konteks): Nabi sangat memahami situasi. Beliau tahu kapan harus bersikap tegas, kapan harus bersikap lembut. Inilah yang disebut dalam pepatah Arab: “Li kulli maqal maqam, wa li kulli maqam maqal” — “Setiap pembicaraan memiliki tempatnya, dan setiap tempat memiliki pembicaraan yang sesuai.” Artinya, seorang pemimpin harus bijak menyesuaikan ucapan dengan konteks, audiens, dan dampaknya di masyarakat.

Di era digital saat ini, setiap kata bisa menjadi viral dalam hitungan detik. Sebuah ucapan yang keluar dari mulut pejabat bisa menyebar lebih cepat daripada kebijakannya. Maka, betapa pentingnya menghadirkan kembali ruh kenabian dalam ruang publik — yaitu kesantunan, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam berkata. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat pencerahan, sering kali berubah menjadi medan perang kata-kata, arena adu gengsi, dan tempat menyebarkan kebencian. Di sinilah kita butuh pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia secara moral.

Mari kita jadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H bukan hanya sebagai seremonial belaka, tetapi sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas bicara dan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Jadikan lisan sebagai alat untuk menyatukan, bukan memecah. Untuk menyejukkan, bukan memanas. Untuk membangun, bukan merusak.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal kisah Khalifah Umar bin Khattab yang suatu malam berpatroli di Madinah. Ia mendengar seorang ibu memarahi anaknya karena tidak bisa memberi susu karena kemiskinan. Esok harinya, Umar langsung membawa karung gandum ke rumah keluarga tersebut. Ia tidak mengumbar janji, tidak membuat pidato panjang, tapi bertindak dengan tangan dan hati. Inilah kepemimpinan yang berbicara lewat perbuatan, bukan hanya kata-kata.

Di sisi lain, kita juga menyaksikan fenomena pemimpin yang terlalu sering berbicara, tetapi isinya kosong, bahkan merendahkan. Pernyataan seperti “Rakyat harus sabar” diucapkan tanpa diiringi kebijakan konkret, atau “Itu urusan kecil” saat rakyat sedang menjerit karena harga sembako melambung. Kalimat-kalimat semacam ini bukan hanya menunjukkan ketidakpedulian, tetapi juga kegagalan memahami hakikat kepemimpinan yang rahmatan lil ‘alamin.

Seorang pemimpin yang meneladani Nabi tidak akan mengucapkan kata-kata yang menyakiti, merendahkan, atau memecah belah. Ia akan memilih diam daripada berbicara tanpa manfaat. Ia akan memilih mengoreksi diri daripada menyalahkan rakyat. Ia akan memilih dialog daripada monolog.

Dalam konteks Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, kita punya tanggung jawab moral untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam kepemimpinan. Kita butuh pemimpin yang tidak hanya bisa memenangkan pemilu, tetapi yang bisa memenangkan hati rakyat. Dan itu dimulai dari cara berbicara.

Akhir kata, marilah kita renungkan sabda Rasulullah:“Barangsiapa yang ingin mulia, maka hendaklah ia menjaga lisannya. Karena dari lisan, manusia diangkat derajatnya, atau direndahkan kemuliannya.”

Kemuliaan seorang, terlebih seorang pemimpin, tidak diukur dari seberapa keras     suaranya, tapi seberapa dalam hikmah yang ia sampaikan. Di tengah hiruk-pikuk politik dan media, marilah kita kembali merujuk pada teladan terbaik umat manusia: Nabi Muhammad SAW — pembawa rahmat, pemilik lisan yang mulia, dan pemimpin yang dicintai karena akhlaknya.

Semoga peringatan Maulid Nabi kali ini bukan sekadar hal yang rutinitas dan serimonial belaka  tetapi menjadi momentum transformasi moral bagi bangsa. Amin. (*)