Hutama Karya: Ada Tiga Kendala Terbesar Kelancaran Proyek IKN

Nusantara|KoranRakyat.co.id —Perkembangan dinamika Ibu kota Nusantara (IKN) dan pemindahan Ibu Kota Baru Progres Pembangunannya masih berjalan meski menghadapi berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.
Dilansir Kompas.com pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur menjadi salah satu proyek ambisius Indonesia untuk mewujudkan visi kota dunia yang berkelanjutan.
PT Hutama Karya (Persero), sebagai salah satu BUMN dalam pembangunan infrastruktur, memainkan peran kunci dalam proyek ini. Namun, seperti halnya pembangunan kota baru berskala besar, sejumlah tantangan muncul, mulai dari curah hujan tinggi hingga kondisi geoteknik yang kompleks.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, mengungkapkan strategi percepatan yang diterapkan untuk memastikan proyek selesai tepat waktu sesuai jadwal kontrak 2025.
Akhir Juni 2025 “Pembangunan IKN menghadapi tiga tantangan utama yakni curah hujan tinggi, kondisi geoteknik yang beragam, dan penyesuaian anggaran,” ujar Adjib kepada Kompas.com, Sabtu (21/6/2025).
Lokasi IKN di Kalimantan Timur memang memiliki curah hujan yang cukup tinggi.
Kondisi ini memengaruhi proses konstruksi, seperti pengaspalan jalan dan pekerjaan struktural, yang membutuhkan cuaca kering untuk hasil optimal.
Curah hujan yang ekstrem juga dapat menyebabkan penundaan jadwal dan meningkatkan risiko kerusakan material di lapangan.
Sementara, kondisi geoteknik di IKN bervariasi, mulai dari tanah lunak hingga tanah rawa, yang menyulitkan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, gedung, dan bendungan.
Tantangan ini mirip dengan pengalaman Hutama Karya dalam proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), di mana anomali tanah dan kontur ekstrem juga menjadi hambatan.
Adapun ketersediaan anggaran menjadi faktor krusial dalam proyek berskala besar seperti IKN.
Penyesuaian anggaran sering kali diperlukan untuk mengakomodasi biaya tak terduga, seperti pembebasan lahan atau peningkatan harga material.
Hal ini menuntut manajemen keuangan yang cermat agar proyek tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas.
Strategi Percepatan Untuk mengatasi tantangan tersebut, Hutama Karya menerapkan sejumlah strategi percepatan yang inovatif dan berbasis teknologi, seperti yang dijelaskan oleh Adjib Al Hakim.
Hutama Karya menggunakan Building Information Modeling (BIM) untuk mengintegrasikan desain dan perencanaan proyek, memastikan efisiensi dan akurasi.
Selain itu, teknologi mmGPS diterapkan untuk memastikan presisi dalam pekerjaan pengaspalan, terutama pada proyek Jalan Tol IKN Segmen 3A Karangjoang-KKT Kariangau yang sudah tuntas 100 persen.
Teknologi ini membantu mengurangi dampak cuaca buruk dan mempercepat pelaksanaan proyek.
Kemudian untuk memenuhi kebutuhan sumber daya, Hutama Karya melibatkan tenaga kerja lokal, mengadakan pelatihan seperti Sekolah Site Operation Manager (SOM) dan short course untuk meningkatkan keterampilan teknis, manajerial, dan kepemimpinan.
Program ini terbukti efektif dalam proyek JTTS dan kini diterapkan di IKN untuk memastikan kualitas dan ketepatan waktu.
Hutama Karya juga menerapkan pengawasan ketat terhadap jadwal pelaksanaan untuk memastikan setiap proyek selesai sesuai kontrak.

Misalnya, proyek Masjid Negara IKN, yang telah mencapai progres 69 persen per pekan kedua Juni 2025, dengan desain unik berupa kubah menyerupai sorban.
Pengawasan ini juga mencakup kepatuhan terhadap standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta kelestarian lingkungan.
Untuk mengatasi tantangan pembebasan lahan dan penyesuaian anggaran, Hutama Karya berkoordinasi aktif dengan Kementerian PU, Otorita IKN, dan masyarakat setempat.
Strategi ini terbukti berhasil dalam mempercepat proyek seperti Rumah Susun ASN 2 (progres 94 persen) dan Gedung Kemenko 2 (100 persen tuntas), yang menjadi prioritas untuk mendukung pemindahan ASN ke IKN pada 2025.
Progres Proyek Strategis di IKN Hingga pekan kedua Juni 2025, Hutama Karya mencatatkan kemajuan signifikan pada 12 proyek IKN:
Gedung dan Kawasan Kantor Kementerian Koordinator 2, 100 persen sudah selesai namun belum beroperasi Rusun ASN 2, 94 persen
Rumah Sakit Vertikal IKN: 100 persen selesai, dengan fokus pada pelayanan penyakit jantung dan stroke.
Pembangunan Fasilitas Sisi Darat Bandara VVIP IKN: 100 persen selesai, ditargetkan melayani pesawat besar seperti B-777 atau A380.
Jalan Tol IKN Segmen 3A Karangjoang-KKT Kariangau: 100 persen selesai, meningkatkan aksesibilitas kawasan.
Masjid Negara IKN: 69 persen.
Sarana dan Prasarana 1B: 94 persen, mendukung infrastruktur dasar IKN.
Jaringan Perpipaan Air Limbah 1 dan 3 KIPP: 44 persen
Fender Jembatan Pulau Balang: 100 persen, sudah beroperasi
Jembatan Pulau Balang: 100 persen, sudah beroperasi
Tol IKN Segmen P. Balang – Sp. Riko (5B): 67 persen
Tol IKN Segmen 3A-2 Karangjoang – KKTKariangau: 69 persen
Adjib Al Hakim menegaskan bahwa infrastruktur yang dibangun Hutama Karya di IKN tidak hanya bertujuan menyelesaikan proyek fisik, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Jalan tol akan meningkatkan konektivitas, rumah sakit berstandar internasional mendukung kesehatan, bandara VVIP memfasilitasi mobilitas global, dan Masjid Negara menjadi simbol budaya dan spiritual.
Dengan dukungan teknologi dan strategi percepatan, Hutama Karya optimistis seluruh proyek akan selesai tepat waktu dan tepat mutu, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan IKN sebagai “kota dunia untuk semua.” (*)
