Nabi Ibrahim, Prototipe Pemimpin Yang Seharusnya Dijadikan Panutan dI Era Kekinian

Oleh: Dr. Drs. H. A. Rifai Abun, S.H., M.Hum., M.H
Wakil Rektor II Bidang Akademik dan Kerjasama Kelembagaan Universitas Wira Buana Metro Lampung
KoranRakyat.co.id —Mulai pagi 10 Dzulhijjah , hingga 13 Dzulhijjah dan beberapa hari ke depan yang secara kebetulan tidak berada di tanah suci Mekah disunahkan untuk penyembelihan hewan qurban dan tetap mengumandangkan kalimat-kalimat takbir, tahmid dan tahlil, yang mencerminkan rasa syukur kita atas apa yang telah kita lakukan dalam berbgai bentuknya, termasuk ibadah qurban,
Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (Q.S. Alkautsar: 1-3)
Sementara jutaan umat Islam yang berkesempatan datang ke tanah suci Mekah sedang berjuang melakukan beberapa rangkaian ibadah haji; yang sebelumnya mereka berada di tanah “arafah” sebagai puncak pelaksanaan ibadah haji dan saat ini mereka sedang menuju tanah suci Mina untuk melempar Jamratul ‘Aqabah” setelah tadi malam mereka mabit/bermalam di Muzdalifah untuk mengambil batu kerikil, dan memanjatkan berbagai do’a memohon ampunan-Nya dan semoga Allah tetap senantiasa membuka pintu rahmat-Nya. Artinya: “.…Allah mewajibkan kepada siapa saja yang mampu agar datang ke Baitul Haram untuk haji. Siapa saja yang mengingkari perintah haji ini, Allah sungguh tidak memerlukan ketaatan semua manusia di dunia ini.” (QS. Ali Imran [3]:97)
Haji, Nabi Ibrahim dan korban merupakan tema utama dari Idul Adha yang dirayakan. Karena memang Nabi Ibrahim menjadi simbol kesempurnaan dalam pengabdian dan kemuliaan akhlak. Sementara haji adalah ibadah yang menjadi miniatur kehidupan manusia. Dan semua itu hanya dapat diwujudkan dengan semangat pengorbanan.
Ibrahimlah sebagai manusia pertama yang diperintah untuk mengumandangkan kewajiban haji kepada umat manusia. Hal ini tercermin dari firman Allah yang berbunyi:
Artinya: Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadaMu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh [Q.S. Al Hajj: 27]
Dengan mencermati perintah Allah SWT ini, maka sejak itulah dimulainya perintah bagi kaum muslimin untuk menunaikan ibadahhaji, yang dimulai dari memakai pakaian ihram, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar jamrah, hingga tawaf wada, yang setiap tahapan tersebut mengandung makna yang sangat dalam.
Dengan mencermati perjalanan kehidupan Ibrahim, sesungguhnya terlihat sekali bahwa kehidupan ini berjalan dari satu titik ke titik berikutnya, dan akhirnya kembali ke titik semula. Hal ini tercermin dari pelaksanaan tawab, dimana kita berputar berkeliling dengan irama dan tujuan yang sama. Dan ka’bah harus selalu menjadi sentra perputaran itu.
Dalam kaitan ini, artinya Allah harus tetap menjadi pusat perputaran hidup manusia. Baik dalam kondisi kaya atau miskin, kuat atau lemah, Allah senantiasa menjadi pusat kehidupan. Ibrahim AS sendiri menegaskan bahwa dirinya terus bergerak menuju kepada Allah: “Sesungguhnya aku berjalan menuju Tuhanku.”
Realita hidup yang demikian menuntut kematangan atau kedewasaan dalam menjalaninya. Tanpa kedewasaan manusia akan menjadi “cengeng” dan lemah.
Untuk menumbuhkan kematangan dan kedewasaan hidup itulah manusia akan ditempa dengan berbagai ujian. Di sinilah Nabi Ibrahim AS tampil sebagai sosok tauladan yang sangat luar biasa. Ibrahim AS mengalami tempaan itu dari awal perjalanan hidupnya hingga mencapai puncak kematangannya. Ragam bentuk ujian yang Allah SWT berikan kepada Ibrahim AS itu bukan karena ketidaksukaan, namun karena kecintaanNya kepadanya. Ibrahim AS sendiri adalah sosok hambaNya yang menyandang predikat “khalilullah” (kekasih Allah).
Seiring dengan perkembangan waktu terutama dalam era kekinian, kita ummat Islam, dituntut untuk membangun keseimbangan “iman” dan “rasionalitas”. Berbagai perilaku destruktif yang terjadi akhir-akhir ini seringkali disebabkan oleh emosi yang terimbangi oleh pemikiran yang rasional.
Keimanan yang solid melahirkan kekuatan dan kematangan hidup. Rasionalitas berpikir yang sehat melahirkan kedewasaan dan kebijaksanaan (hikmah) dalam berpikir dan bersikap. Saya sangat yakin, bangsa dan dunia kita saat ini memerlukan manusia-manusia seperti ini. Mereka itulah manusia-manusia “Ulul al-baab”. Solid dan mapan hatinya, tajam daya nalarnya. Mereka ini yang digambarkan dalam Al-Qur’an:
Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka [Al Imran: 191]
Hari ini, akibat ketidak matangan iman dan rasionalitas, telah memunculkan para da’i yang kerap bermaian di ranah dogma; mudah, mudah menyalahkan orang lain, dan bahkan mengkafir-kafirkan. Yang lebih berbahaya lagi ketika para da’i melakukan dakwah dengan metode “bolduzer”. Menghancurkan segala harapan hidayah atas nama dakwah. Bahkan lebih berbahaya meruntuhkan keindahan wajah Islam itu sendiri.
Dengan mencermati berbagai peristiwa yang di alami Ibrahim selama perjalanan hidupnya, dan Ibrahim menyikapinya dengan keimanan yang rasionalitas, yang telah menempatkan dirinya sebagai manusia pemimpin bagi manusia [imaama linnaas] ada kisah keteladanan yang seharusnya menjadi rujukan bagi para pemimpin kita dalam berbagai levelnya terutama untuk kondisi sekarang ini.
Pertama, Ibrahim AS diangkat menjadi pemimpin bukan dengan tiba-tiba dan serta merta. Tapi melalui proses panjang dengan berbagai penempaan. Al-Quran menyampaikan:
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim” [Q.S.Baqoroh: 24]
Penempatan dan pengangkat Ibrahim sebgai seorang pemimpin melalui proses yang cukup panjang, terutama disaat beliau mencapai kematangan dan pengalaman hidup yang solid, yang diikuti dengan do’anya agar pada waktunya menjadi pemimpin yang penuh dengan nuansa ketqwaan, dan keinkhlasan dan bisa membawa ummatnya kepada ketaatan dan kesalehan individu dan kolektif.
Artinya: Dan orang orang yang berkata: “Wahai Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan anak keturunan yang menyejukkan hati. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”[Al Furqon: 74].
Kedua, dalam sejarahnya, kepemimpinan yang diperankan oleh Ibrahim memiliki beberapa karakteristik, dan hal ini tergambar jelas dalam Al Qur’an.
Artinya: “dan Kami jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang berpetunjuk dengan urusan Kami, memiliki kesabaran, dan mereka dengan ayat-ayat Kami yakin” [Assajdah:24].
Artinya, praktek kepemimpinan yang dilakukan oleh Ibrahim yang seharusnya juga menular kepda pemimpin bangsa dalam berbagai levelnya, mereka harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran. Berpegang teguh juga berarti memiliki kapasitan keilmuan dan pemahaman dengan masalah-masalah (understanding the issues) yang dihadapi oleh kepemimpinannya. Dalam bahasa politik inilah yang disebut dengan “kapasitas” dan “kapabilitas”.
Ada satu catatan ringan tapi penting dari kepemimpinan Ibrahim adalah bahwa beliau selalu mendengarkan aspirasi masyarakatnya. Hal ini terindikasi jelas ketika meminta opini anaknya menyikapi perintah Allah untuk menyembelihnya:
Artinya: “Maka ketika Ismail mencapai umur balig. Ibrahim berkata: Wahai anakku, Sesungguhnya Aku bermimpi menyembelihmu, apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu niscaya insya Allah engkau akan mendapatiku bersabar”.[Assaffat: 102]
Keinginan untuk mendengarkan, walaupun dari seorang anak remaja, dan berkenaan dengan urusan keyakinan, menjadikan Ibrahim menjadi “pemimpin” yang bijak. Tidaklah berlebihan jika saya memakai bahasa politik modern bahwa Ibrahim “master of democracy”?
Ibrahim AS adalah sosok yang merepresentasi globalitas umat. Bahkan kepemimpinan Ibrahim juga adalah kepemimpinan global. Inilah yang digambarkan dalam bahasa Al-Quran: اماما للناس (pemimpin bagi seluruh manusia).
Dunia global adalah dunia yang berkarakter kecepatan, kompetisi, dan ketergantungan (interconnectedness). Umat dituntut untuk memilki kecepatan dalam menangkap semua peluang yang ada. Umat juga dituntut untuk memiliki kemampuan daya saing (kompetisi) yang tinggi. Tapi tidak kalah pentingnya umat harus menyadari pentingnya membangun “kerja sama” dengan siapa saja demi membangun negeri dan dunia yang lebih baik.
Namun tidak kalah pentingnya sekali lagi, bangsa ini harus bangkit menjadi “imaman linnaas”. Sebagai putra-putri bangsa yang terbaik saya sangat yakin jika Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar dunia sangat kapabel untuk mengambil tanggung jawab “imaamah” atau kepemimpinan itu.
Maka sudah waktunya bangsa kita Indonesia ini bangkit menampilkan Islam yang berkarakter maju dan menang. Islam yang saat ini sejatinya menjadi dambaan dunia. Islam yang ramah, Islam yang berkarakter tawassuth (moderat) wa tassamuh (toleran), tapi mu’tadil (berkeadilan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan).
Dengan semangat itulah umat Islam di bumi Nusantara ini, bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa, harus bangkit membangun negeri. Bahkan ikut turut dalam mewujudkan dunia yang berkarakter Quran. (*)
