Update H+3, Ka BNPB Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M Tinjau Lokasi dan Pengungsi Longsor di Pulau Serasan


KR, Natuna –Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M., meminta seluruh stakeholder dapat bekerja sama dalam pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Hal itu disampaikan Suharyanto usai meninjau dua lokasi pengungsian warga, yakni di SMA Negeri 1 Serasan dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Serasan bersama Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, Bupati Natuna Wan Siswandi beserta jajaran pada hari ini, Rabu (8/3).
“Ada yang masih mengungsi. Ini kita pastikan agar kebutuhan dasar selama mengungsi ini bisa terpenuhi,” kata Suharyanto.

Adapun Suharyanto mendorong agar semua berupaya semaksimal mungkin sehingga apa yang menjadi kebutuhan warga pengungsi dapat terpenuhi.
“Semuanya berusaha semaksimal mungkin agar kebutuhan warga terdampak ini terpenuhi,” kata Suharyanto.
Sebelumnya, Suharyanto mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan warga terdampak tidak hanya yang berada di tempat pengungsian saja. Kepala BNPB juga menyarankan apabila warga tidak berkenan dipengungsian, maka dapat menyewa rumah dengan sistem kontrak dan biaya akan ditanggung negara selama masa darurat. Oleh sebab itu, pendataan menjadi hal yang sangat perlu dilakukan.
“Nanti dapat uang kontrak dari negara. Itu jumlahnya sesuai dengan aturan 500 ribu per kepala-keluarga per bulan,” jelas Suharyanto.
Lebih lanjut, Suharyanto juga memberikan alternatif lain kepada warga terdampak. Apabila lebih berkenan tinggal di dekat rumahnya sendiri, maka tim satgas gabungan dapat memenuhi kebutuhannya mulai dari tenda, matras, selimut, lampu garam dan sebagainya.
“Atau memang inginnya di dekat rumahnya yang rusak. Di tenda misalkan, ya kita siapkan,” jelas Suharyanto.
Kepada seluruh unsur stakeholder yang hadir mendampingi kunjungan, Suharyanto meminta agar semuanya dapat menjamin apa yang dibutuhkan para pengungsi dari mulai mereka bangun pagi hingga tidur di malam hari.
“Jadi dari dia bangun tidur sampai tidur lagi ini semua terpenuhi,” pinta Suharyanto meyakinkan.
Pada kesempatan itu, Kepala BNPB menyerahkan bantuan dana siap pakai (DSP) BNPB sebesar 1 miliar rupiah untuk membantu operasi tanggap darurat dan pemenuhan kebutuhan. Penyerahan bantuan DSP itu diserahkan secara simbolis dari Kepala BNPB ke Gubernur dan langsung diberikan kepada Bupati Natuna.
“BNPB memberi sementara ini satu miliar. Silakan digunakan,” kata Suharyanto.
Dengan dana siap pakai tersebut, Suharyanto menitipkan agar bantuan itu dapat digunakan secara maksimal sebagaimana mestinya. Kepala BNPB tidak ingin adanya korban tambahan hanya karena pelayanan yang tidak maksimal.
“Hindari ada korban tambahan akibat pelayanan yang tidak maksimal,” pungkas Suharyanto.
Adapun berdasarkan data per Rabu (8/3) dini hari, jumlah pengungsi sebanyak 1.216 jiwa yang terbagi di empat titik lokasi. Adapun rinciannya; sebanyak 219 jiwa di PLBN Serasan, 215 jiwa di Puskesmas Serasan, 500 jiwa di Masjid Al-Furqon dan 282 jiwa di SMAN 1 Serasan. Data ini dimutakhirkan oleh Bupati Natuna yang menyebutkan bahwa total pengungsi per Rabu siang (8/3) berjumlah setidaknya 1.300 orang.
Kepala BNPB Minta Pencarian Warga yang Hilang Jadi Prioritas Utama

Dalam kunjungan lapangan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M., memastikan tim gabungan yang mulai dari BASARNAS, BPBD, TNI, Polri dan relawan terus melakukan upaya pencarian, pertolongan dan evakuasi. Suharyanto meminta agar hal itu diprioritaskan hingga batas yang ditentukan pada masa tanggap darurat.
“Bagi 35 warga yang masih dinyatakan hilang ini kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk ditemukan,” jelas Suharyanto.
Suharyanto memastikan bahwa personel tim satgas gabungan akan ditambah, mengingat medan cakupan yang terdampak tanah longsor cukup luas dan memerlukan lebih banyak lagi anggota. Di samping itu BNPB dan BASARNAS serta Brimob juga akan mengupayakan anjing pelacak agar proses pencarian, pertolongan dan evakuasi dapat lebih maksimal.
“BASARNAS, TNI, Polri ini bekerja terus menerus. Bahkan unsur TNI, Polri ini ditambah terus. Ratusan personel brimob ditambah anjing pelacak untuk membantu pasukan yang sudah ada,” kata Suharyanto.
Menurut Suharyanto, kendala utama dalam proses pencarian, pertolongan dan evakuasi juga berasal dari faktor cuaca. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, kondisi cuaca di Pulau Serasan selalu turun hujan hampir sepanjang hari dengan intensitas ringan hingga tinggi. Kondisi tersebut tentunya tidak memungkinkan untuk dilakukan proses pencarian sehingga harus dihentikan sementara.
“Tetapi karena terkendala cuaca, hujan terus ini kadang-kadang dihentikan,” kata Suharyanto.

Melihat kondisi lapangan seperti demikian, Suharyanto bersama Gubernur Kepulauan Riau telah sepakat akan melakukan koordinasi dan kerja sama dengan BRIN, BMKG dan TNI untuk kemungkinan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Selain untuk meminimalisir dampak curah hujan, Suharyanto berharap nantinya dengan TMC dapat memperlancar proses pencarian, pertolongan dan evakuasi.
“BNPB bekerja sama dengan BMKG, BRIN dan TNI AU akan menggelar teknologi modifikasi cuaca di Pulau Serasan. Sehingga cuaca bisa terang dan pencarian bisa dilakukan,” pungkas Suharyanto.
Adapun korban meninggal dunia dalam bencana tanah longsor di Kecamatan Serasan ada sebanyak 15 orang. Pada hari ini, Rabu (8/3) hingga pukul 15.00 WIB, tim satgas gabungan secara efektif berhasil menemukan kembali jasad korban. Penambahan temuan itu masih akan didata dan diidentifikasi lebih lanjut untuk kemudian dilaporkan sebagai data nasional.
