Pada Akhirnya Semua Pensiun……

Oleh : Hesma Eryani |

Pria berpangkat tinggi dan “hebat” itu membuat pengumuman, menyatakan dia sudah pensiun dan meminta maaf atas semua kesalahannya selama dia menjadi pejabat….

Pria itu sudah pensiun. Tak ada lagi penanda gagah di pundaknya, di bahunya, di lehernya, atau atribut lain yang membuat dia begitu dihormati. Penanda dan atribut itu yang membuat ia memiliki kekuasaan untuk berbuat apapun, termasuk tak peduli apakah kebijakannya melukai orang banyak. Wajahnya pun tak setampan seperti ketika dia menjadi pejabat…..

Ia sudah pensiun. Ia sudah “selesai” dalam urusan dunia. Ia sudah meminta maaf. Tak hanya yang baik, yang buruk darinyapun akan selalu dikenang. Massa tak pernah melupakan bagaimana kebijakannya yang keji dan tidak adil itu dengan sangat arogan…..
Ia memang sudah meminta maaf. Tapi, perbuatan buruknya akan selalu dikenang.

Tak usah saya sebut nama atau jabatannya dulu karena akan jadi ghibah. Yang akan saya tulis hanyalah tentang sebuah hikmah dan pembelajaran… Pria itu hanyalah sebuah contoh.

Pada akhirnya kita semua akan pensiun. Ketika pensiun kitapun menjadi bukan siapa-siapa. Apapun pekerjaan kita, jabatan kita semua akan berakhir. Kita kembali menjadi bukan siapa-siapa. Hanya menjadi warga RT /RW dimana kita tinggal.

Persoalannya, apakah kita telah menjadi orang yang baik, yang bermanfaat bagi orang lain, yang adil, dan menjadikan jabatan itu sebagai jalan mengabdikan diri kita kepada Allah Swt?

Atau, sebaliknya, saat menjadi pejabat sebagian di antara kita justru sangat arogan, memperkaya diri sendiri, menyakiti banyak orang , termasuk teman-teman kita sendiri? Atas nama lembaga, atas nama institusi sebagian dari kita melibas orang lain yang berbeda pemikiran, sikap dengan kita.

Sebagian dari kita menuntut orang lain berbuat jujur, padahal pada saat yang sama, kita lah sesungguhnya yang tidak jujur. Kita meminta orang lain bersih, padahal pada saat yang sama sesungguhnya kitalah yang tidak bersih. Kita tersenyum menutupi kebohongan kita melalui kekuasaan.

Kita pandang remeh kesulitan orang lain, tak mau tentu derita mereka, atau sengaja membangun situasi agar orang lain keluar dari institusi yang kita pimpin. Di luar institusi, kita buat kebijakan yang membuat rakyat banyak menderita.

Kita lupa bahwa ketika orang lain, apalagi rakyat banyak menderita, maka suatu ketika imbasnya juga akan terkena pada kita. Sebagian diantara kita bahkan mengeksploitasi jabatan untuk berkolaborasi dan menjadi alat kepentingan pihak lain. Diam-diam kita tanpa sadar ikut menghancurkan institusi, daerah, bahkan Negara tempat kita bernaung…

Saat itu, kita tersenyum. Lantaran kita berkuasa, maka kita dapat menutup perbuatan kita dengan aturan-aturan yang bisa kita rekayasa.

Kita seakan lupa kita bahwa sehebat apapun kita sembunyi, Tuhan melihat perbuatan kita. Lupa bahwa Tuhan sangat tahu saat mulut, hati kita tak sama dengan perbuatan.

Kita bisa sembunyi dari pandangan, dari pemikiran, dan dari hati manusia. Tapi, kita tak pernah bisa sembunyi dari pandangan Tuhan…

Pada suatu saat kita akan menjadi bukan siapa-siapa lagi…… Dan pada saat itu, yang menuntun sikap orang lain pada kita hanyalah perbuatan kita. Jika sebelum pensiun kita baik, maka kebaikan itulah yang akan menuntun orang lain menghormati kita. Jika tidak? Bahkan, tetanggamu yang amat miskin dan bodohpun tak peduli padamu, bahkan mungkin turut melecehkanmu.

Pada akhirnya, bukanlah jabatan tinggi yangng membuat kita dihormati tetapi kebaikan kitalah yang membuat kita berharga atau tidak….

Apakah penting meminta maaf ketika kita pensiun, lalu beranggapan kata maaf itu membuat orang menghapus semua jejak dan kenangan buruk kita sebelumnya terhadap mereka?
Jika kita menjawab iya, maka sesungguhnya kita sangatlah bodoh dan naif….

Perbuatan baik dan buruk akan selalu dikenang. Bahkan terhadap perbuatan kita yang buruk, saat mereka memaafkanpun, di bawah sadar mereka keburukan itu tetap terekam. Memaafkan tak sellau berarti juga melupakan…

So, itu sebabnya kita selalu diharapkan berbuat baik ketika menjadi pejabat, apapun jabatan itu, termasuk bila kita mendapat jabatan bukan karena kehebatan kita.

Tak hanya saat menjabat, bahkan, ketika pensiun pun kita tetap harus menjadi orang baik. Karena, setelah itu kita akan menempuh pensiun yang sesungguhnya: kematian……

Di senja Jakarta, Kamis 23 Juli 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *