Jejak Perjuangan Bahjatun Mahmudah dari Ogan Ilir hingga Panggung MTQ Nasional

KoranRakyat.co.id —JAUH sebelum dikenal di panggung nasional, Bahjatun Mahmudah, telah hadir dalam kisah yang lekat dengan Al-Qur’an, perjuangan orang tuanya, dan keindahan kota berhawa sejuk ; Pagar Alam.
Pada MTQ Tingkat Provinsi Sumatera Selatan tahun 2006 di kota Pagar Alam, sang ibu, Hj. Nurul Haibah Maghfuroh, mengikuti cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Inggris Putri. Meski mulai merasakan tanda-tanda persalinan, ia tetap naik ke panggung pada malam penutupan untuk menerima piala Juara 2 tingkat provinsi.
Setelah acara, keluarga segera membawanya pulang menuju Indralaya. Dalam perjalanan itulah sang ayah, seorang guru agama lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, merangkai nama untuk putrinya.
Bahjatun terinspirasi dari ungkapan hadā’iqa dzāta bahjatin dalam Q.S. An-Naml ayat 60, yang menggambarkan taman-taman penuh keindahan dan selaras dengan suasana Pagar Alam. Sementara Mahmudah terinspirasi dari Q.S. Al-Isra’ ayat 79 sebagai doa agar putrinya meraih kedudukan terpuji, sekaligus merupakan nama sang kakek.
Tak lama setelah tiba di Indralaya, lahirlah Bahjatun Mahmudah. Ia tumbuh di Ogan Ilir dalam keluarga yang dekat dengan pendidikan agama. Ayahnya seorang guru agama, sedangkan ibunya hafizah lulusan Pondok Pesantren An-Nur, Bantul, Yogyakarta.

Sejak kecil, Bahjah akrab dengan Al-Qur’an. Sebelum tampil sebagai peserta, ia lebih dahulu mendampingi sang ibu berlomba. Dari sanalah keberaniannya mulai tumbuh.
Ia kemudian mencoba berbagai cabang, seperti Tartil Al-Qur’an, Tahfiz 1 Juz dan Tilawah, serta Fahmil Qur’an. Perjalanannya tidak mudah. Sejak 2019, ia berkali-kali mengikuti seleksi Fahmil Qur’an, tetapi belum berhasil lolos ke tingkat provinsi. Baru pada 2022 ia berhasil melaju ke tingkat nasional, meski harus terhenti di babak penyisihan.
Pada 2023, Bahjah meraih Juara 1 Tafsir Al-Qur’an Bahasa Arab tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Namun, ia belum diberangkatkan ke tingkat nasional. Saat itu, sang ayah menjabat sebagai Sekretaris LPTQ Sumatera Selatan dan memilih tidak ikut menentukan keberangkatannya demi menjaga objektivitas.
Kesempatan besar datang pada MTQ Nasional 2024 di Kalimantan Timur. Setelah menunaikan ibadah haji bersama sang ibu pada Mei 2024, Bahjah kembali tampil di tingkat nasional pada Oktober melalui cabang Fahmil Qur’an. Kali ini, perjuangannya berbuah kemenangan. Ia meraih Juara 1 Nasional cabang Fahmil Qur’an dan mempersembahkan prestasi bagi Sumatera Selatan.
Setelah itu, Bahjah melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, mengikuti jejak sang ayah. Di Mesir, ia aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa, antara lain sebagai Sekretaris Angkatan Eternallic Fulgentius, Wakil Koordinator Musi Jurnal, Sekretaris Jenderal IKAPPI Mesir, dan Sekretaris 2 KEMASS Mesir. Ia juga terlibat dalam Organisasi Nasional; BO Citra Wihdah serta Organisasi Internasional Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika.
Selain berorganisasi, Bahjah menekuni dunia kepenulisan. Ketertarikannya pada bidang ini tumbuh dari kebiasaannya membaca, pengalaman mengikuti berbagai kegiatan organisasi, serta keinginannya untuk menyampaikan gagasan dan pengetahuan secara lebih terstruktur. Baginya, kepenulisan menjadi ruang untuk mengolah pemikiran, mendokumentasikan pengalaman, dan menyuarakan nilai-nilai keislaman serta persoalan sosial yang ia temui dalam kehidupan pendidikan dan kemasyarakatan.
Latar belakang keluarga juga turut memengaruhi pilihannya. Ayah dan ibunya sama-sama memiliki pengalaman dalam dunia karya tulis. Sang ayah, H Agus Jaya, pernah meraih prestasi dalam lomba karya tulis, sedangkan sang ibu sejak muda telah mengenal kegiatan menulis. Lingkungan tersebut membuat Bahjah tidak hanya melihat kepenulisan sebagai perlombaan, tetapi juga sebagai sarana belajar, berdakwah, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Pada 2025, ketekunannya membuahkan hasil dengan meraih Juara 2 Nasional cabang Karya Tulis Ilmiah Hadits (KTIH). Setahun kemudian, pada MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang, ia kembali memperkuat kafilah Sumatera Selatan dan meraih Juara 3 Nasional cabang KTIQ.
Perjalanan Bahjah menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu berbuah cepat. Dari kegagalan berulang sejak 2019, terhenti di babak penyisihan nasional, hingga akhirnya menjadi juara, ia terus berkembang melalui pendidikan, kepenulisan, organisasi, dan pengabdian.
Kini, Bahjatun Mahmudah melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, sembari membawa nama Ogan Ilir dan Sumatera Selatan ke ruang-ruang pengabdian nasional maupun internasional.
Bahjatun Mahmudah—nama yang diinspirasi dari ayat Al-Quran, keindahan kitavPagar Alam, dan doa keluarga; lalu tumbuh menjadi perjalanan panjang bersama Al-Qur’an, pendidikan, dan pengabdian. (*/ica)
