Harimau Masuk Kampung, Karena Illegal Logging di Hutan Lindung

LAHAT | Koranrakyat.co.id — Di akhir tahun 2019 ini ketenangan warga Pagaralam, Kabupaten Lahat serta Kabupaten Muara Enim, kian terusik bahkan makin khawatir terhadap kemungkinan munculnya Harimau Sumatera, yang turun gunung karena tempat habitatnya dirusak oleh manusia.

Kecemasan warga tersebut bukan tanpa alasan, karena hewan loreng ini sudah memangsa sejumlah warga hingga tewas mengenaskan dengan anggota tubuh yang tercabik-cabik.

Meski demikian tindakan yang dilakukan oleh pihak pemerintah Kabupaten Lahat sampai sekarang dinilai belum maksimal. Faktanya kembali pada hari, Jumat (12/12) tepatnya di Hutan Ataran Seribu wilayah perbatasan Kabupaten Lahat dengan Kabupaten Muara Enim kembali korban jatuh hingga meninggal dunia akibat serangan hewan pemakan daging tersebut.

Wakil bupati Kabupaten Lahat H. Hariyanto mengatakan, Harimau tersebut turun dan masuk ke pemukiman warga bukan tanpa sebab. Dijelaskan Wabup, adanya aktifitas Ilegal loging (perambahan hutan) yang dilakukan tangan tangan tak bertanggung jawab juga merupakan penyebab Harimau bebas berkeliaran.

“Pemerintah bersama KSDA, Polres Lahat dan TNI telah melakukan upaya dengan memasang jerat. Kita juga menghimbau kepada warga agar saat ini jangan dulu berada di daerah yang berdekatan dengan kawasan hutan lindung,Adanya aktifitas penebangan liar juga bisa menjadi faktor harimau turun dan berkeliaran,”ujar Wabup usai mengikuti Vidcon bersama Kapolri di ruangan rudal Polres Lahat.

Hal Senada disampaikan oleh Kapolres Lahat AKBP Ferry Harahap SIK,kronologis kejadian semuanya dimulai dari ketidak patuhan warga terhadap aturan dan ketidak pedulian terhadap alam dengan merusak habitat satwa harimau ini.

Kejadian yang telah mengakibatkan jatuhnya korban semua terjadi di hutan lindung yang merupakan habitat harimau tersebut, yang mana menurutnya dimana ada masyarakat yang merusak hutan lindung dengan merambah membuka hutan untuk dijadikan kebun kopi, dan kesemuanya merupakan hasil dari pemeriksaan di tkp yang dilakukan Polri bersama pihak BKSDA.

“Jelas bahwa para korban ini mengganggu habitat hidup mereka sehingga harimaupun murka. Selaku Kapolres Lahat saya harapkan kepada seluruh masyarakat agar patuh jangan lagi ada yg merambah merusak hutan lindung apalagi menjadikan lahan bercocok tanam jangan sampai ada korban yang berjatuhan lagi,” sampai Kapolres.

Selain itu Kapolres juga menghimbau kepada pengguna Medsos untuk kaitan kejadian adanya korban harimau untuk tidak menyebarkan foto korban, tujuannya menghargai keluarga korban dan juga untuk tidak menyebarkan rasa ketakutan pada masyarakat. Permasalahan ini terus dipantau Polres lahat bersama pihak pihak terkait lainnya.

“Kami bersama KSDA terus mengawasi harimau ini dan perlu diketahui masyarakat bahwa harimau adalah hewan yg dilindungi kita tidak dapat melumpuhkan harimau ketika berada dalam hutan lindung yang merupakan habitatnya dan apabila terpaksapun untuk melumpuhkan hanya dengan kondisi yang betul betul mengancam kalo tidak kitapun melanggar hukum dan dapat dituntut sanksi pidana,” tegasnya.

Terkait isu, adanya perusahan besar nakal yang berdekatan dengan wilayah hutan lindung dicurigai telah merusak habitat hingga si raja hutan turun dan sebabkan korban berjatuhan, Ferry mengatakan memang ada PT Supreme dan PT PN VII yang berdekatan. Namun pihaknya belum menemukan kalau kedua perusahaan tersebut juga ikut merusak hutan lindung dan melanggar undang undang yang ada.

“Memang ada dua perusahaan yakni PT. PN VII dan PT. Supreme hingga sekarang kita belum menemui adanya pelanggaran dimaksud, namun kita minta bersama sama untuk ikut peduli dengan habitat harimau ini dan soaialisasi tetap kita lakukan agar masyarakat tidak merambah hutan apalagi membuk kebon di hutan lindung,” terang Ferry. (lili/wandra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *