Operasi Tinombala, Satu Anggota MIT Terbunuh dan Satu Ditangkap Hidup

example banner

POSO | Koranrkayat.co.id — Pasukan gabungan TNI-polisi menyatakan telah menembak mati seorang terduga anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulteng, dan menangkap seorang lainnya.

“Untuk kejadian itu (penembakan dan penangkapan), betul,” kata Kasubdit Penmas Humas Polda Sulteng, Kompol Sugeng Lestari kepada BBC News Indonesia, Senin (04/03).

Salah-seorang anggota MIT itu ditembak mati dalam kontak tembak antara pasukan gabungan TNI-Polri di wilayah perkebunan Padopi, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Minggu (03/03) sore, demikian dilaporkan Antara.

Sejumlah laporan mengungkapkan bahwa anggota MIT yang tewas bernama Romsi alias Basyir, sementara yang ditangkap dalam kondisi hidup bernama Aditya alias Idad alias Kuasa.

Namun Polda Sulawesi Tengah sampai Senin siang, belum dapat memastikan tentang identitas dua orang tersebut, karena dalam proses identifikasi.

“Nanti setelah diidentifikasi, kita akan sampaikan, agar kita jangan keliru menyampaikan identitasnya,” kata Sugeng.

Saat ini, menurutnya, Satgas Tinombala – terdiri polisi dan TNI – sedang mengevakuasi satu jenazah dan seorang lainnya dalam kondisi hidup menuju kota Poso.

Anggota Ali Kalora?
“Kita sedang menunggu hasil investigasi tim yang sudah turun ke lapangan,” jawab Sugeng saat ditanya apakah keduanya merupakan anggota Ali Kalora, buronan dan pimpinan MIT di wilayah itu.

Seperti dilaporkan Antara, baku tembak terjadi setelah tim Satgas Tinombala – dipimpin Mayor Inf Aryudha – menerima informasi dari masyarakat bahwa ada sekitar lima orang DPO MIT Poso beristirahat di pondok milik salah satu warga.

Dan, sekitar pukul 17.15 WITA terjadi kontak tembak antara Satgas Tinombala dengan kelompok MIT tersebut.

Setelah kontak tembak itulah, aparat kepolisian-TNI menemukan satu orang DPO MIT yang dinyatakan tewas dan satu lainnya ditangkap dalam kondisi masih hidup. Mereka juga mengaku menyita satu pucuk senjata M-16.

Siapa MIT?
Operasi Tinombala resmi dimulai pada 10 Januari 2016, sebagai kelanjutan dari Operasi Camar Maleo 4 yang berakhir pada 9 Januari 2016 lalu.

Pejabat Polri yang terlibat dalam operasi ini pernah mengatakan bahwa kondisi medan memang menyulitkan pengejaran terhadap kelompok teroris Poso.

Kelompok ini didirikan oleh Santoso alias Abu Wardah, mantan kepala Jemaah Ansharut Tauhid (kelompok yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir) cabang Poso.

Kelompoknya dikenal dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Namun pada Juli 2016, Santoso tewas dalam baku tembak dengan aparat.

Dalam beberapa bulan terakhir hampir tidak ada gangguan keamanan di Poso dan sekitarnya sampai muncul insiden pemenggalan dan penembakan pada akhir Desember lalu.

Aparat keamanan belum secara resmi mengidentifikasi pelaku, namun diyakini insiden ini terkait dengan kelompok eks-Santoso yang sekarang dipimpin oleh Ali Kalora. (red)

sumber: bbcindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *